0 views

Kematian Sebagai Motivator Kebaikan

0

Miftahul Akhyar, Wakil Rais Am PBNU

Tentu, kalau kita merasa mempunyai amanat besar, sebagai khalifah Allah di muka bumi ini, kita akan memilih jalan yang benar itu. Karena kita tahu, bahwa dunia adalah jalan menuju akhirat. Dunia hanya ibarat orang yang sedang kehujanan, lalu berhenti dan berlindung, setelah hujan reda, dia akan meneruskan perjalanan, dan perjalanan itu adalah akhirat. Artinya kehidupan dunia hanya sementara. Apalah artinya umur yang 70 tahun atau 80 tahun, dibandingkan dengan kehidupan nanti di akhirat. Manusia adalah makhluk proyeksi akhirat. Dunia adalah ujian, sebagaimana dijelaskan dalam surah Al Mulk ayat 2, yang artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Kenapa ayat ini menyebut almauta (mati) terlebih dahulu daripada alhayaata (hidup)? Bukankah sebagian kita takut mendengar kata maut (mati), sehingga mati merupakan momok kehidupan, bahkan ada yang mengatakan bahwa ingat mati justru menghentikan semua aktifitas, termasuk cita-cita, harapan dan kemajuan. Pengertian yang seperti itu merupakan salah besar. Justru Islam menjadikan kematian sebagai motivator terbesar dalam beraktifitas beramal sholeh di dunia ini. Untuk meninggalkan hasutan dan ajakan hawa nafsu.

Di saat kekuasaan Mesir berada di tangan Nabi Musa, justru beliau banyak melakukan puasa. Kekuasaan digunakan untuk kemaslahatan ummat. Dan justru beliau selalu mengontrol nafsunya. Karena beliau tahu, bahwa nafsu selalu mengajak ke arah yang negatif. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Yusuf  ayat 53, yang maknanya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”.

Baca Juga : AL-QUR’AN DAN PENDIDIKAN ANAK SEJAK DALAM KANDUNGAN

Secara umum jihad an-Nafs ada dua bagian, pertama, melakukan jihad nafs terhadap hal-hal yang diinginkan. Di antaranya berupa keselamatan, kekayaan dan kesehatan. “Abdurrahman bin Auf berkata, “Kami diuji dengan kesusahan, kami mampu bertahan. Dan kami diuji dengan kesenangan, namun kami tidak mampu bertahan”. Kedua, melakukan jihad nafs terhadap hal-hal yang dibenci. Banyak orang ketika diuji dengan kemiskinan ataupun kesusahan dia akan sanggup bertahan, tetapi bila dia diuji dengan kesenangan hanya sedikit manusia yang mampu untuk bertahan. Oleh karenanya manusia harus mampu melawan dirinya baik di kala susah maupun senang. Manusia harus lebih berhati-hati bila diuji dengan kekayaan. Harta yang berlimpah terkadang membuat orang tak mampu mengekang keinginan hawa nafsunya.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 124, yang maknanya: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. “Ibrahim berkata, “Dan saya mohon juga dari keturunanku. “Allah berfirman, “Janji-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. Sementara itu dalam surah al Ankabuut ayat 69, disebutkan firman Allah yang maknanya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Rasulullah SAW bersabda: “Surga dikelilingi oleh berbagai macam kesulitan, dan neraka dikelilingi oleh berbagai macam kesenangan” (HR. Bukhori dan Muslim). Oleh karena itu hiduplah dalam lingkungan yang baik, sehingga akan mampu melawan hawa nafsu. Salah satunya adalah berkumpullah selalu dengan orang-orang yang sholeh dan selalu menyebarkan kebajikan kepada sesama manusia.

Abu Bakar Al-Warraq berkata: “Jika hawa nafsu mendominasi, maka hati akan menjadi kelam. Jika hati menjadi kelam, maka akan menyesakkan dada. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaknya menjadi rusak. Jika akhlaknya, maka masyarakat akan membencinya dan iapun membenci mereka”.

Comments are closed.