Kajian Tafsir Al-Baqarah Ayat 120

0

Oleh: KH. Ali Badri

TRAUMA BERAKIBAT BURUK SANGKA

Al-Qur’an tidak pernah mengajak ummat Islam untuk memusuhui apapun dan siapapun kecuali kejahatan. Justru karena itulah Al-Qur’an dimusuhi oleh orang-orang jahat, khususnya para penguasa jahat dari zaman ke zaman. Baik penguasa politik maupun penguasa ekonomi. Merekapun selalu berupaya untuk merusak pemahaman tentang Al-Qur’an, setelah mereka selalu gagal untuk merubah atau menghilangkan bagian yang tidak mereka suka dari Al-Qur’an. Ketika berbicara tentang ketuhanan, Al-Qur’an hanya menjelaskan dan meluruskan. Al-Qur’an tidak pernah menghina pemahaman dan Tuhan orang lain. Bahkan dengan tegas Al-Qur’an melarang ummat Islam dari menghina Tuhan orang lain.

Pada halaqah sebelumnya kita belum selesai membahas sebuah masalah terkait firman Allah:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah ‘sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah petunjuk (yang sebenarnya)’. Dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 120)

Jangan Memusuhi

Telah saya katakan bahwa ayat ini sama sekali tidak bisa dipahami sebagai intruksi untuk memusuhi orang Yahudi dan orang Nasrani, melainkan merupakan nasehat untuk ummat Islam  dalam menghadapi golongan yang suka bermusuhan, dan kebetulan, ketika ayat ini turun, golongan yang memusuhi ummat Islam adalah orang Yahudi dan Nasrani. Sekarang tersisa sebuah pertanyaan; Apakah sampai sekarang ayat ini masih berlaku sebagai peringatan untuk berhati-hati terhadap orang Yahudi dan Nasrani?

Kalau pertanyaan ini muncul sebelum Indonesia merdeka, pasti orang Indonesia -baik yang muslim maupun yang non muslim- langsung menjawab “ya”, karena ketika itu Nusantara dijajah oleh kerajaan-kerajaan Nasrani. Kerajaan-kerajaan itu juga mengirim pastur dan membuat gerakan kristenisasi, bahkan mereka membuat wilayah khusus Nasrani seperti Manado, kemudian menjadikannya wilayah itu sebagai tempat pengasingan para pejuang yang kebanyakan panglima dan komandannya adalah ulama.

Baca Juga : IMAM HARAMAIN DAN ASI SEORANG BUDAK

Fakta yang tak terbantahkan adalah bahwa penjajah negeri ini mengkristenkan penduduk Manado kemudian mengasingkan pasukan Pangeran Diponegero di situ, termasuk Kiyai Mojo yang merupakan salah satu komandan Pasukan Diponegoro. Maka, kalau pertanyaan ini muncul saat itu kemudian bangsa Nusantara menjawab “ya”, tentu saja tidak akan ada orang yang menyalahkan jawaban itu.

Kalau pertanyaan ini diajukan saat ini, maka orang-orang akan memiliki jawaban berbeda, sebagian mereka menjawab “ya” karena melihat banyak hal sebagai indikasi. Jawaban “ya” itu sama sekali bukan karena terprofokasi oleh ayat 120 surat Al-Baqarah, melainkan karena berburuk sangka akibat trauma dan anggapan adanya “indikasi ” itu.

Sekali lagi, ayat ini sama sekali tidak bisa dipahami sebagai intruksi untuk memusuhi orang Yahudi dan orang Nasrani. Ditambah dengan fakta bahwa Islam tidak pernah memusuhi Yahudi dan Nasrani. Ketika ada konflik dengan komunitas Yahudi dan Nasrani, faktanya adalah bahwa Yahudi dan Nasrani sendiri yang memulai, seperti konflik dengan Kerajaan Nasrani yang menjajah negeri mayoritas muslim ini.

Sampai saat ini, ajaran Al-Qur’an tidak berubah, yaitu berakhlaq baik kepada siapapun, termasuk kepada Nasrani dan non muslim lainnya. Kalau ada sebagian ummat Islam yang selalu berburuk sangka pada kaum Nasrani, mungkin hal itu karena trauma saja dengan sejarah penjajahan masa lalu, karena yang menjajah negeri-negeri Nusantara ini memang Kerajaan-kerajaan Nasrani, yaitu Belanda, Inggris, Portugis, Amerika dan Sepanyol, hanya Jepang saja yang bukan Nasrani. Sekali lagi, itu hanya faktor trauma.

Maka dalam menghadapi sikap akibat trauma atau salah faham ini, saya berharap agar kaum Nasrani yang baik hati menyikapinya dengan bijak, tunjukkan saja bahwa mereka tidak seperti para pendahulunya. Bahkan mintalah maaf atas nama para pendahulu mereka. Buktikan bahwa kejahatan para pendahulu itu sama sekali tidak dipengaruhi oleh sentimen agama apalagi ajaran agama.

Mari kita mulai lembaran baru, fahamilah dengan baik bahwa ummat Islam tidak pernah memusuhi Yahudi-Nasrani. Lupakan masa lalu antara penjajah Nasrani dengan ummat Islam negeri ini, kita jalin hubungan baik sebagai sesama warga NKRI, kita hapus bersama kenangan masa lalu yang mengakibatkan trauma ini.

Adapun waspada, sampai kapanpun kita harus waspada kepada siapaun yang tidak kita kenal dengan baik. Bahkan walaupun dia tidak pernah memusuhi kita. Waspada bahkan perlu dilakukan oleh seorang muslim kepada muslim lain yang kurang dikenal. (Media Ummat)

Comments are closed.