Kajian Muslimah

0

Istri Berhak Gugat Suami

Dalam perjalanan rumah tangga, bisa jadi seorang suami memukuli istrinya. Lalu apakah Islam mengharuskan istri itu berpangku tangan menghadapi tindakan suaminya itu? Tidak! Dia bisa saja menggugat tindakan suami itu, dan Islam dalam hal ini akan membantunya. Ia dapat menolak dan menggugat perlakuan kasar tersebut, lalu hakim bertindak memutuskan dan memisahkan antara keduanya.

Pada suatu hari suami Ummu Jamil binti Abdullah telah memukuli istrinya, kemudian ia mengadukan keadaannya itu kepada Rasulullah SAW, dan menuntut kepada Beliau supaya dipisahkan saja dari suaminya, maka Rasulullah SAW menerima tuntutannya itu dan mence-

raikannya. Apakah wanita muslimah diharuskan bergaul dengan suaminya meskipun akhlaknya rusak?

Orang-orang yang menyerang Islam dari segi ini, sebenarnya tahu persis kedudukan wanita muslimah dalam masyarakat Islam. Sungguhpun begitu mereka masih tetap juga menyerangnya. Apa daya kami menghadapi orang yang tahu kebenaran tetapi menutup mata dan terus memburukkannya?

Di zaman Rasulullah SAW Malikah Ummus Saib, menjual minyak wangi. Apakah Rasulullah SAW melarangnya, meskipun ia mencari makan dengan menjual barang kemewahan?

Kadang ia menjual di rumahnya kemudian kaum muslimah datang ke sana, atau ia sendiri yang mondar-mandir ke rumah-rumah menawarkan barang dagangannya. Dalam kedua keadaan itu terjadi peristiwa mondar-mandir di jalan dan keluar-masuk rumah. Siapa yang

melarang mereka melakukan hal tersebut? Tidak seorang pun.

Baca Juga : CELAKA DENGAN ANGAN-ANGAN BELAKA

Jangan Aniaya Dirimu

Wahai wanita muslimah, Wahai gadis muslimah, janganlah anda menganiaya dirimu dan janganlah menganiaya Islam dengan memperkeras hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Anda mempunyai hak dalam agama ini, sesuatu yang mungkin tidak pernah terbayang dalam benak anda. Tahu malu dan keanggunan dituntut dari anda, dan bah-

wa sikap ugal-ugalan tidak bisa diterima. Maka bertindaklah dalam batas-batas yang dibenarkan bagi anda, dan tidak usah merasa berat. Apakah anda mendengar, bahwa Ka’ibah binti Saad Al-Aslamiyah mempunyai sebuah kemah di masjid. Dalam kemah itu ia mengobati orang yang luka dan sakit. Ia pernah ikut dalam peperangan Khaibar bersama de-

ngan Rasulullah SAW. Apakah dalam tugasnya sehari-hari ada orang yang mempersalahkannya? Atau ada pihak yang memiliki wewenang bertindak melarangnya dengan alasan syariat melarangnya berbuat demikian? Tempuhlah lapangan kerja yang sesuai dengan kodrat biologis anda.

Sekali lagi ditegaskan, semua hak-hak itu bisa dilakukan dengan syarat anda berpegang teguh pada prinsip sebagai wanita muslimah, memelihara rasa malu dengan sungguh-sungguh, bersikap sopan santun dan anggun, sehingga menjadikan kewanitaannya selalu ter-

lindung dari jangkauan orang-orang durjana. Selalu menghias diri dengan akhlak yang luhur, serta memegang teguh susila Islam yang mulia. Jangan sampai tergelincir keluar dari titah-perintah Allah Ta’ala meskipun dengan imbalan yang tinggi dan mahal.

Salah seorang bernama Khallad tewas sebagai syahid. Maka datanglah orang memberitahukan kepada ibunya: ”Ya, (Ummu Khallad! Khallad tewas di Medan!” Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Khallad meninggal dunia, sementara Ibu datang menengoknya dengan berpakaian muslimah yang anggun?” Si ibu menjawab dengan tegas, ’’Kematian Khallad  bukan berarti saya harus melupakan kerapian saya dan melepaskan rasa malu saya.”

Apakah layak digelari kebebasan wanita, bila ia merobek-robek rasa malunya lantaran hanya ditimpa musibah? Demi Allah, itu tidak boleh terjadi! Dan yang benar adalah menjadikan senjata kesabaran sebagai modal menghadapi musibah tersebut. (*)

Comments are closed.