Kajian Hukum Emas dan Perak

0

 (فصل) ولا يجوز استعمال أوانى الذهب والفضة ويجوز استعمال غيرهما من الأوانى

“Tidak diperbolehkan (di selain kondisi darurat bagi laki-laki maupun perempuan) menggunakan wadah-wadah yang terbuat dari emas atau perak. Dan diperbolehkan menggunakan wadah-wadah dari selain keduanya.”

Penjelasan:

Ada dua titik acuan yang menjadi alasan mengapa penggunaan wadah yang terbuat dari bahan kedua logam ini diharamkan. Pertama, keberadaan wadah itu sendiri. Kedua, ketinggian hati atau kesombongan yang timbul dari penggunaannya. (At-Turmusi,1/147)

Memang wadah dari kedua logam ini lazim dipakai oleh mereka yang memiliki watak tinggi hati dan juga mereka yang suka bermewah-mewahan. Rasulullah SAW tidak berkenan dan menjanjikan kebajikan kepada ummatnya dengan tidak menggunakan wadah dari kedua bahan ini. Beliau bersabda, “Jangan kalian minum di dalam wadah emas maupun perak dan jangan pula kalian makan di dalam piring emas maupun perak. Keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat kelak.” (Ibanatul Ahkam, 1/55).

Larangan di dalam hadits ini diartikan haram. Sebab di dalam haditsnya yang lain beliau menyabdakan dengan ancaman neraka jahannam.

Baca Juga : NAFSU SUMBER POKOK PERILAKU DOSA

Keharaman ini tentu saja dan selain dalam keadaan darurat. Yakni sebuah keadaan yang mengkondisikan seseorang tidak bisa berbuat lain dan hal itu apabila tidak dilakukan maka akan menimbulkan akibat yang fatal. Seperti kematian, lenyapnya anggota tubuh, jatuh sakit dan sebagainya. Dalam kitab Albajuri dijelaskan, sebenarnya tidak harus sampai pada tingkat darurat, satu tingkat di bawahnya yakni “hajat” pun juga memperbolehkan seseorang memakai perangkat-perangkat yang berbahan emas dan perak. Misalnya, pemoles celak emas yang digunakan untuk penyembuhan matanya setelah mendapatkan keterangan dari dokter yang adil riwayatnya.

Mengenai penggunaannya untuk pengobatan, emas dan perak tersebut tidak harus sekedar dipakai sebagaimana contoh di atas, ditelan pun boleh. Baik secara langsung atau dibersamakan dengan yang lain. (At-Turmusi,1/148)

Haram memakai wadah dari keduanya itu di dalam makan dan minun dan yang lain. Memang yang dinyatakan dalam hadits secara khusus menyebutkan penggunaan makan dan minum, akan tetapi secara analogis makna yang dimaksudkan mencakup segala macam bentuk penggunaan dan tidak harus dalam bentuk wadah, seperti wadah celak, dupa, peti, gantungan, pengoles celak, jarum, tusuk gigi, sisir dan sebagainya. Dalam kitab Bujairimi Ala Alkhatib dijelaskan bahwa penyebutan secara khusus untuk makan dan minum itu berdasarkan pada umumnya pemakaian wadah dari kedua logam mulia itu.

Wadah Yang Dilapisi Emas dan Perak

Dan haram juga memakai wadah yang dilapisi dengan emas dan perak apabila saat dipanaskan (dipanggang) di atas api ada sesuatu dari lapisan tersebut yang menetes. Apabila tidak, sebab terlalu sedikitnya emas atau perak yang digunakan untuk melapisi atau bahkan lapisan tersebut bisa langsung hilang seandainya dipanaskan maka lapisan-lapisan semacam ini dianggap tidak ada dan hukum memakainya pun boleh.

Dan haram juga memakai wadah yang ditambal dengan perak yang menurut kebiasaan bisa dikatakan berukuran besar dengan tujuan untuk perhiasan.

Comments are closed.