Jangan Merusak Citra Islam

0

إِرْفَعُوْا أَلْسِنَتَكُمْ عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ، إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْهُمْ فَقُوْلُوْا فِيْهِ خَيْرًا. رواه الطبرانى عن سهل بى سعد

Artinya: “Tahanlah lisan kamu dari mengumpat (mengumbar aib) orang Islam, apabila ada seorang di antara kamu yang meninggal, ceritakanlah tentang kebaikan-kebaikannya”. (HR. At-Thabrani dari Sahl bin Sa’d)

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda, “Ceritakanlah kebaikan-kebaikan orang mati dan jangan kamu ceritakan tentang kejelekan-kejelekannya”. (HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Ketika kita menceritakan kejelekan orang lain, tentu yang mendengarkan belum tentu muslim. Kalau kejelekan itu kita tulis di media cetak, tentu yang membaca juga belum tentu muslim.  Dan seterusnya. Artinya ketika kita mengumbar aib seorang muslim, sama halnya kita membuka aib seorang Muslim di depan orang non muslim. Akibatnya yang jelek dan tercoreng bukan hanya orangnya, tapi nama Islam.

Akhlak seorang muslim tentu selalu menjaga nama baik agama Islam.  Yang namanya jihad itu adalah menjunjung tinggi agama Islam (li I’laikalimatillah), bukan mencoreng-moreng nama baik agama Islam.

Allah SWT Yang Maha Kuasa, Maha Membalas bisa saja sekarang mentaqdirkan seseorang  jelek (memiliki aib). Tapi karena kita menyebarkan dan mengolok-olok kejelekannya maka kita sendiri yang menjadi jelek. Keluarga dan anak-anak kita yang jelek. Dan kita tidak mengetahui siapa di antara kita yang terbaik di sisi Allah SWT. Bisa jadi kita yang merasa baik ternyata jelek. Atau, kalaupun benar-benar baik belum tentu akhirnya baik (husnul khatimah). Bahkan, kalau kita kelihatan baik sampai akhir belum tentu diterima oleh Allah SWT.

Sebaliknya, orang yang jelek itu belum tentu jelek. Kalaupun benar-benar jelek bisa jadi dia bertaubat. Kalaupun tidak sempat bertaubat bisa jadi dia diampuni oleh Allah SWT. Siapa yang selamat dan siapa yang celaka kita semua tidak bisa mengetahuinya. Maka salah kalau kita sampai mengolok-olok orang lain. Bisa jadi kita yang mengolok-olok itu jelek dan yang kita olok-olok itu adalah baik. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula kaum wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita yang (diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang memperolok-olokkan)”. (QS. Al-Hujurat: 13)

Baca Juga : BURUK SANGKA PADA DZURRIYAH NABI

Saling Menilai Buruk

Dan mengumbar aib itu juga tidak baik untuk dakwah. Kalau para penceramah agama, para tokoh saling mengolok-olok maka tokoh di sana jelek menurut tokoh yang di sini. Sebaliknya tokoh di sini jelek menurut tokoh yang di sana. Jama’ahnya tokoh di sini menganggap jelek tokoh yang ada di sana. Dan sebaliknya, jama’ahnya tokoh yang ada di sana menganggap jelek tokoh yang ada di sini. Akhirnya antara sesama muslim tidak saling percaya yang berujung pada perpecahan. Ketika kita terpecah belah maka orang di luar Islam akan masuk dan menyerang agama Islam. Jadi ini semua hanya membuka peluang bagi syetan untuk memecah belah ummat Islam. Maka cegahlah lisan kita dari mengolok-olok orang lain.

Terkadang kalimat itu bisa bermakna doa. Saat kita mengolok-olok orang lain dengan kejelekan, maka seakan-akan mendoakan orang lain supaya menjadi jelek. Padahal ketika orang lain itu menjadi jelek kita sendiri yang rugi. Misalnya si A mendoakan jelek pada masyarakat dan ternyata mereka semua menjadi pencuri, penjahat maka nanti yang dirugikan juga keluarga si A dengan tidak adanya ketenangan hidup.

Dan untuk pendidikan anak juga tidak baik, misalnya orang tua atau guru atau kiai yang suka mengolok-olok tentu anak dan murid-muridnya akan menirukannya. Terkecuali kalau hal itu berkaitan dengan kemurnian ajaran agama islam. Misalnya ada si fulan tidak bisa dipercaya, tidak amanah, tidak mempunyai keilmuan dan si fulan tadi tampil di depan masyarakat seolah-olah dia seorang yang alim, menceritakan sesuatu yang tidak benar dan sebagainya. Maka dalam konteks yang terbatas seorang tokoh itu mengungkapkan kebenaran, untuk memberikan kabar bahwa si fulan itu bukan ahli ilmu. Seperti halnya dalam ilmu hadits, ada kajian jarh wa ta’dil. Sebenarnya bagi orang yang dikritik tidak memberikan mashlahat, tapi ada kemaslahatan yang lebih besar, yakni menjaga keshohihan, keontetikan, kemurnian ajaran islam. Dan ini lebih penting daripada menjaga pribadi masing-masing. (Media Ummat)

Comments are closed.