Majelis Maulid

Isyaroh Mimpi dan Sorban Kanjeng Nabi


Majelis Maulid Wat Taklim Riyadlul Jannah

Namanya jarang dikenal orang, namun kedekatan dengan Almaghfurlah KH. Abdurochim Syadzily yang membuat dirinya istimewa. Ia tahu benar detil hal ikhwal pembentukan Riyadlul Jannah. Yang ternyata tidak asal dibikin saja, tapi melalui beberapa (riyadhoh dan istikharah serta isyarah mimpi), terlebih dengan mimpi bertemu langsung dan diberi sorban Nabi Muhammad SAW.

Nama spesial yang dihadiahi Almaghfurlah KH. Abdurochim Syadzily atau yang lebih populer Gus Rochim kepada dirinya sangat bagus, Muhammad Ikhwan. Melalui pria ini detil sejarah terbentuknya Majelis shalawat Wat Taklim Riyadlul Jannah dapat valid terkorek.

“Alhamdulillah saya waktu itu diberi kesempatan Allah SWT mengantar Almaghfurlah Gus Rochim menemui Habib Thohir Bin Husin Al Hamid, Tanjung Perak Surabaya. Yang sebelumnya kedua orang alim ini belum saling kenal, tapi uniknya, melalui isyarah mimpi Habib Thohir, Kanjeng Nabi Muhammad SAW me merintahkan untuk membuat majelis yang membaca qosidah Burdah serta beliau Rasulullah SAW mengatakan nanti jamaah Gus Rochim Akan banyak ,” ungkap Ikhwan.

Hari pertemuan itu masih dihapal diluar kepala oleh Ikhwan, 3 April 2006. Maka Habib Thohir kala itu sudah menyiapkan ratusan kitab Burdah yang dihadiahkan untuk Gus Rochim. Gus Rochim pun saat itu kaget pula, kok belum pernah kenal dengan Habib Thohir tapi tiba-tiba melalui salah satu perantara disuruh kerumahnya, langsung diperintah membuat majelis yang membaca syair Burdah.

“Saat itu Gus Rochim semakin yakin, jika memang ditakdirkan menghidupkan suatu majelis yang membaca burdah. Karena Gus Rochim sendiri pernah bermimpi ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW yang tiba-tiba makam tersebut terbelah dan muncul jasad Kanjeng Nabi SAW yang langsung dengan tangan Gus Rochim sendiri membantu mendudukan manusia termulya ini. Kekasihnya Allah SWT ini kemudian me ngalungkan sorban ke leher Gus Rochim, sembari membaca 2 baris awal syair qosidah burdah, yang kemudian Gus Rochim disuruh melanjutkan sampai selesai,” urai Ikhwan.

Memang sebelumnya, mulai Abahnya Gus Rochim di rumah beliau sudah menyelenggarakan pembacaan rutin Manakib Syaikhu Abdul Qadir Jailani lalu bermimpi bertemu kanjeng Nabi SAW beberapa waktu kemudian mendapat ijazah maulid Simthud Dhuror dari Habib Anis bin Alwi Alhabsy Solo dan diberi amanat untuk menyebar luaskan di Malang raya. Kemudian beliau mendawamkan maulid Simthud Dhuror di pondok bersama para santrinya. Beberapa waktu kemudian beliau mengadakan pembacaan maulid setiap satu bulan sekali setiap Jum’at legi malam Sabtu pahing untuk umum yang awalnya diikuti beberapa orang saja. Setiap kali mengadakan acara ini dapat dipastikan menyembelih satu kambing untuk hidangan makan. Hingga setelah mimpi bertemu de ngan Nabi Muhammad SAW, ditambah dimimpikan oleh Habib Thohir. Maka mulailah di pondok Gus Rahim tiap Senin membacakan Burdah, yang waktu itu Habib Sholeh Bin Ahmad Alaydrus yang membacakan sekaligus men syarahkannya. Dan sekarang majlis burdah ini dilanjutkan oleh Bu Nyai setiap Minggu kliwon yang diikuti oleh jamaah wanita saja.

“Kemudian seiring berjalannya waktu, melalui safari 40 malam yang merupakan titik tolak jumlah jama’ah semakin meningkat secara signifikan. Hingga sekarang diperkirakan sekitar 15 ribu jama’ah Riyadlul Jannah,” kata Ikhwan, kemudian.

Lain pada itu, ada hal-hal yang menonjol dalam diri Gus Rochim yang dicatat oleh Ikhwan yang sudah dianggap sebagai Guru sekaligus sahabat ialah keistiqamahan dalam membaca Maulid Simtud Durror. Dimanapun dan sesibuk apapun Gus Rochim selalu menyempatkan diri membaca simtudduror. Yang kedua, keistimewaan figur Gus Rochim yang karamah, namun beliau berusaha menyembunyikan maqamnya. Salah satu contohnya, Ikhwan sendiri pernah diprediksi secara detil naik haji 3 tahun lagi bersama ibunya, dan hal tersebut benar-benar terjadi kemudian, Wallahu’lam. “Dan yang menonjol dalam diri Gus Rochim adalah pandai menahan diri saat marah. Kecintaan pada Baginda Rasulullah Muhammad SAW begitu tinggi, hingga ketika ada yang menyakiti Gus Rochim, beliau malah tersenyum. ‘Saya melihat wajah Kanjeng Rasul pada tiap umatnya, terlebih pada para Habaib, hingga seketika itu kemarahan saya langsung hilang’,” begitu beliau pernah menuturkan, seperti yang disampaikan Ikhwan. (*)

Show More
Close