You Are Here: Home » TAMU KITA, Teladan Ummat » KH. Abdurrahman Qomari, Malang

Isyarah, Mantapkan Langkah untuk Berhijrah

Kalau pada hari Ahad pagi kita lewat di daerah Kenongo, Blimbing kita akan melihat lautan manusia. Ada laki-laki, wanita, tua muda, bahkan balita.  Kaum wanita berkerudung  dan kaum laki-laki berkupiah. Bukan hanya itu, di sepanjang jalan juga berjejer para pedagang kaki lima dengan aneka dagangan yang ditawarkan.  Itulah jama’ah pengajian KH. Abdurrahman Qomari yang datang dari berbagai plosok Malang Raya.

 

Ngaji di Kyai Hamid Pasuruan

Tepat tanggal 27 Rajab tahun 1955, di sebuah rumah di Desa Kali Kajang, Sidoarjo, lahirlah seorang bayi mungil dari keluarga NU. Bayi mungil itu diberi nama Abdurrohman Qomari yang sekarang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Darul Falah, Desa Kenongo,Malang.

Sejak kecil, Kyai Abdurrohman memutuskan menjadi santri pondok dibanding belajar di pendidikan formal. Keinginan beliau diamini oleh orang tuanya. Maka Kyai Abdurrahman Qomari mondok ke Kyai Munib Bin Abdul Karim, Keramat, Pasuruan. Disanalah Kyai Abdurrohman muda belajar dan menimba ilmu agama. Selain mondok di Kyai Munib, untuk memperdalam ilmunya, Kyai Abdurrohman juga nyantri kalong kepada Kyai Hamid, salah satu ulama kharismatik asal Pasuruan. Setiap jum’at  pagi, Kyai Abdurrohman mendapat ilmu dari Kyai Hamid.

Karena Kyai Hamid adalah tokoh ulama yang terpandang dan sangat disayangi oleh semua orang, banyak mubaligh-mubaligh dari berbagai daerah yang datang untuk berguru kepada Kyai Hamid. Meskipun usia Kyai Abdurrohman waktu itu masih kecil kira-kira belum genap 15 tahun, tak membuat Kyai Abdurrohman minder.

Kyai Hamid yang biasa dipanggil Kyai Abdurrohman dengan panggilan Mbah Hamid memberikan ilmu kepada santri-santrinya mengambil dari kitab Sulamut Taufik. Kalau sudah khatam pasti dikaji lagi. Salah satu amalan dari Mbah Hamid yang sampai sekarang dilakukan Kyai Abdurrohman adalah selalu membaca Rhotibul Haddad setiap maghrib dan shubuh

Hijrah Ke Malang

Selesai mondok kurang lebih 8 tahunan, sekitar tahun 80 an, Kyai Abdurrohman keMalang dan menikah dengan Nyai Siti Malikhah. Waktu itu Kyai Abdurrohman tinggal di Kemirahan Gang III. Dari pernikahannya Kyai Abdurrohman dikaruniai 12 anak yang seimbang. 6 laki dan 6 perempuan. Karunia Allah betul-betul diberikan kepada Kyai Abdurrohman sebab Kyai Abdurrohman sendiri adalah anak tunggal, tapi dikaruniai anak 12.

Babak baru dalam kehidupan Kyai Abdurrohman pada waktu itu adalah dengan berdakwah. Pada waktu itu, Kyai diberi sebidang tempat berukuran kurang lebih 5 kali 12 meter untuk tempat pengajian. Pengajian Kyai Abdurrohman waktu itu dilakukan selepas sholat Isya’ dan kebanyakan yang mengaji adalah anak-anak muda di sekitar kampung Kemirahan. Termasuk diantaranya yang ikut mengaji adalah anak-anak muda dari Desa Kenongo. Tak jarang Kyai diminta untuk mengisi pengajian rutin di salah satu musholla di Desa Kenongo. Hal inilah yang membuat masyarakat di Desa Kenongo (Berdekatan dengan perumahan Plaosan Permai) tertarik dengan ajakan dakwah yang disampaikan oleh Kyai Abdurrohman. Salah satunya adalah almarhum H Syukur. Almarhum H Syukur ini kebetulan anaknya ngaji di Kyai Abdurrohman.

Isyarah untuk Pindah

H Syukur menawari Kyai Abdurrohman untuk menempati tanah seluas 700 meter persegi di Desa Kenongo dengan alasan biar Kyai bisa aktif dalam berdakwah di Desa Kenongo. Mendapat tawaran ini, Kyai pun bimbang antara menerima dan tidak sebab Kyai sudah punya tempat pengajian di Kampupng Kemirahan III, dan santrinya juga banyak.

Kyai Abdurrohman tidak serta merta menerima tawaran H Syukur. Beliau terlebih dulu wadul ke Pengeran meminta petunjuk dengan cara sholat istikharah. Dan isyarah yang Kyai peroleh  sangat banyak diantaranya, Kyai Abdurrohman bermimpi diajak naik mobil sedan sama Kyai Hamid Pasuruan dari Kemirahan dan turunnya pas di Desa Kenongo. Begitu turun, Kyai Hamid nyukani (memberi) gula kepada Kyai Abdurrohman. Ada lagi isyarah yang diperoleh Kyai. Beliau bermimpi menggendong Gus Ud, Kedung Cangkring dan berhentinya pas di desa Kenongo juga. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Kyai menerima tawaran H. Syukur untuk menempati tanah tersebut. Akhirnya Kyai Abdurrohman hijrah dari Kemirahan Gang III ke Desa Kenongo. Waktu itu sekitar tahun 1989.

 

Berdakwah di Kenongo

Pada mulanya tanah seluas 700 meter persegi yang diberikan H. Syukur kepada Kyai Abdurrohman  merupakan kebun kelapa. Oleh masyarakat disana, Kyai dibuatkan tempat pengajian yang terbuat dari gedek berukuran 5 kali 15 meter. Di tempat inilah Kyai Abdurrohman memberikan ilmu agamanya kepada masyarakat sekitar dari yang remaja sampai orang tua. Pengajian setiap minggu yang diselenggarakan sejak tahun 1989 itu hingga kini masih terus berjalan. Bahkan sekarang, jamaah yang datang pada pengajian minggu pagi lebih kurang 7 ribu jamaah dari berbagai pelosok daerah.

Menurut riwayat, tempat pengajian yang terbuat dari gedeg itu akhirnya roboh kira-kira 4 tahunan setelah dibangun karena bahan yang digunakan berasal dari pohon kelapa. Akhirnya dibangunlah kembali tempat pengajian yang lebih representative mengingat jamaah yang datang cukup banyak.

Bahkan empat tahun berselang, Kyai Abdurrohman membangun pondok pesantren karena sudah ada santri dari luarkotayang berkeinginan  untuk tinggal di rumah Kyai. Maka dibangunlah gedung yang terdiri dari beberapa kamar yang setiap tahun semakin berkembang seperti sekarang ini

Pondok yang didirikan Kyai diberi nama “Darul Falah” yang berarti desane kabejan (tempat kebaikan). Nama Darul Falah sendiri diambilkan dari nama pesantren yang pernah menjadi tempat santri beliau. Kata Darul diambil dari nama pesantrennya yang lama yakni pesantren Darul Karomah, dan kata Falah diambil dari pesantrennya Gus Rofik  yakni pesantren Nailul Falah, Kyai Abdurrohman pernah ngaji di Gus Rofik selama 14 tahun

Leave a Reply

Visitor

© 2012 Media Ummat · Subscribe:PostsComments · Designed by Distroblogger · Powered by distroblogger.com