Adab Suami IsteriKeluarga

Istriku Tetap Nomer Satu

Masalah perselingkuhan sudah semakin marak, bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan. Terlalu banyak kisah rumah tangga yang ambruk gara-gara penyakit yang namanya selingkuh. Selingkuh merupakan penyakit menakutkan yang mengancam perjalanan setiap rumah tangga. Apalagi dengan kemajuan teknologi dan informasi yang semakin canggih, maka trik untuk berselingkupun semakin canggih.

Salah satu faktor yang mendorong orang selingkuh adalah karena merasa “tidak puas” dengan pasangannya. Seorang calon suami saat mau menikah melihat istrinya paling cantik dan paling siip. Namun, setelah menikah, dia lirik kiri kanan ternyata istri temannya jauh lebih cantik dari istrinya. “Waduh, istrinya mas itu kok cantik sekali ya, coba istri saya secantik istrinya, bisa tambah marem nih”, kira-kira begitulah pandangan sang suami yang matanya seneng melirik. Karena merasa kurang dengan istrinya akhirnya dia kasak-kusuk cari wanita lain yang jauh lebih siip dari istrinya. Apalagi kalau istrinya, sudah kurang cantik akhlaknya juga kurang apik. Masak setiap hari mendelik terus.

Demikian juga, seorang istri, saat akan menikah dia begitu bangga dengan suaminya. Rasanya suaminyalah lelaki yang paling baik. Tapi setelah menikah, banyak istri yang tidak puas dengan kondisi suaminya. Pulang ngaji lihat temannya dijemput suami pakai innova, sementara dia dijemput suami dengan motor bebek yang sudah kowek-kowek yang sudah berkarat di sana sini. “Lha suamiku kok dari dulu naik sepeda butut terus kapan bisa beli mobilnya”.

Yang begini ini termasuk istri berbahaya. Lama-lama dia tidak tahan punya suami pas-pasan lalu minta cerai. Orang seperti ini biasanya punya pikiran, “lebih baik saya hidup sendiri dari pada punya suami makan ati”. Jadi,  tidak sedikit juga istri yang nggak sabar kalau  suaminya sedang sakit ekonominya.

 Baca Juga : Indahnya Saling Membutuhkan

 

Lihat Pasangan Yang Lebih Kekurangan

Keinginan manusia memang tidak ada ujungnya kecuali mati. Kalau masih hidup ada saja keinginannya. Keinginan itu saudaranya adalah merasa kurang. Mendapat apa saja mesti merasa kurang dan ingin yang lebih dari yang sudah didapatkan. Akibatnya kurang bersyukur. Apalagi kalau selalu melihat yang lebih joss dari pada dirinya termasuk masalah pasangan. Pernahkah seorang suami berpikir, “alhamdulillah, istri saya mah lumayan dari pada istri teman saya” atau seorang istri berpikir, ”Alhamdulillah suami saya mah masih mending, biar penghasilannya tidak seberapa tapi masih cukup, coba teman ngaji saya, kasihan suaminya masih pengangguran”.

Nah, kalau suami istri model begini insya Allah akan mampu menjaga jalannya rumah tangga. Dia selalu bersyukur diberi suami atau istri oleh Allah, meski tidak sempurna tapi dieman-eman.

Sebab, kalau  seorang suami senengnya banding-bandingkan istrinya dengan istri orang lain yang lebih siip secara dhohir khawatir dia merasa bosan bahkan malu punya istri seperti itu lalu main selingkuh.

Demikian jga sebalinya, kalau istri senengannya bandingkan suaminya dengan suami temannya yang lebih tajir atau lebih ok secara dhohir dikhawatirkan semakin tidak seneng pada suaminya.

Yang perlu disadari lebih awal adalah, suami atau istri kita bagaimanapun kondisi dan keadaannya adalah anugerah dari Allah SWT yang tentu harus disyukuri dan dijadikan ladang amal kita. Kalaupun pasangan kita tidak sesempurna yang kita inginkan, kita diberi peluang untuk bersabar dan sabar itu besar pahalnya. Sebaliknya, kalau kita mampu memandang pasangan kita lebih baik daripada pasangan orang lain, maka kita akan terdorong untuk bersyukur dan syukurpun besar pahalanya.

Seorang suami harus pandai menyebut kebaikan istrinya dan begitu pula seorang istri hendaknya membanggakan suaminya kepada orang lain. Baginda Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya: Seorang mukmin janganlah membenci seorang mukminah (yang menjadi istrinya) jika ia tidak suka dengan salah satu perangainya. Sebab boleh jadi ia suka dengan perangainya yang lain (HR. Imam Muslim dan Imam Ahmad)

Kita diperintahkan sabar menghadapi keadaan dan sikap suami atau istri yang tidak kita sukai. Bisa jadi masih banyak sifat-sifatnya yang lain yang kita suka. Misalnya saja seorang suami punya istri yang hobinya belanja dan suka menghabiskan uang belanjaan buat keperluan yang tidak perlu.

Kelebihan-kelebihan inilah yang harus kita lihat. Sehingga tidak sampai terjadi konflik antara suami istri. Ingatlah, sejelek apapun sifat suami kita, dia tentu punya sisi baiknya.  Di samping tips-tips seperti itu, kita juga harus mengoreksi diri kita terlebih dulu. Jangan-jangan kitalah yang justru paling banyak kekurangannya. Sebab masalahnya, kita ini senang menilai kekurangan pasangan kita sementara kita lupa dengan kekurangan kita sendiri. Kalau kita ingin rumah tangga kita harmonis, awet, langgeng, ya harus selalu memandang kelebihan pasangan kita dan mengoreksi kekurangan kita sendiri.

Tags
Show More

Related Articles

Close