0 views

Iri Hati : Sifat Orang Rendahan

0

 

Memang, kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, tidak mungkin suka kalau belum kenal. Namun yang sudah kenal atau sudah tahu belum tentu suka. Mengetahui kebenaran belum tentu menyukainya, karena mengenal dan mengetahui itu adalah pekerjaan akal, sedangkan menyukai adalah pekerjaan hati. Hati yang bersih akan menyukai kebenaran yang ditangkap oleh akal, sedangkan hati yang dipenuhi dengan hawa nafsu justru akan membenci kebenaran.

Demikianlah yang terjadi pada Yahudi Madinah ketika mengetahui kebenaran Nabi Muhammad SAW. Allah SWT menceritakan hal itu dalam ayat 109 surat Al-Baqarah:

Wadda katsiirun min ahlil kitaabi law yarudduunakum min ba’di iimaanikum kuffaaran hasadan min ‘indi anfusihim min ba’di maa tabayyana lahumul haqqu, fa’fuu washfahuu hattaa ya’tiyallaahu biamirihii, innallaaha ‘alaa kulli syai-in qadiirun.

Artinya: “Banyak dari ahlulkitab yang menginginkan, andai saja mereka dapat mengembalikan kalian setelah iman menjadi orang-orang yang ingkar, (hal itu) karena rasa iri (yang timbul) dari diri mereka setelah kebenaran nampak jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan biarkanlah sampai Allah mendatangkan perintahnya. Sesungguhnya Allah maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Orang Yahudi telah mengetahui dengan jelas tentang Nabi akhir zaman yang ciri-cirinya persis dengan Nabi Muhammad SAW, namun hawa nafsu telah menggelapkan hati mereka. Alih-alih mau membenarkan Nabi Muhammad, mereka justru menjadi orang pertama yang mengingkari Nabi Muhammad. Itu sebabnya Allah berfirman yang bermaksud “Dan janganlah kalian menjadi orang pertama yang mengingkarinya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 41)

Artinya, hendaknya kalian terima kenyataan sehingga kalian menjadi orang pertama yang mendukung kebenaran, janganlah kalian buta hati sehingga justru menjadi orang pertama yang mengingkari kebenaran.

Baca Juga : MESKI LALAI, BACA SHALAWAT TETAP DIBERI PAHALA

Ketika Al-Qur’an menceritakan penentangan orang Yahudi akibat rasa iri,s ini, Allah menggambarkan orang Yahudi yang, kerena rasa iri, mereka berharap orang-orang mukmin kembali menjadi kafir. Iman adalah nikmat, maka kembali menjadi kafir berarti kehilangan nikmat. Demikianlah, yang disebut iri atau hasad itu memang mengharapkan hilangnya suatu nikmat dari orang lain.

Betapapun banyaknya ilmu seseorang, tinggi jabatannya atau mulia nasabnya, ketika masih menyimpan sifat iri, ia tak lebih dari sekedar orang rendahan, levelnya sangat rendah sehingga bahkan tidak layak untuk diambil hati sikapnya. Dihadapan orang bijak, orang yang iri itu ibarat anak kecil yang kurus kerempeng menantang orang dewasa yang gagah dan kuat, tentu saja orang dewasa yang gagah dan kuat itu tidak akan mengambil hati sikap anak kecil yang kurus kerempeng itu, ia tidak akan sakit hati apalagi dendam pada anak kecil itu, bahkan akan tersenyum geli. Itulah sikap yang diajarkan oleh Allah SWT ketika kita menghadapi orang yang iri kepada kita, sebagaimana firmanNya yang bermaksud “Maka maafkanlah dan biarkanlah sampai Allah mendatangkan perintahnya..” (QS. Al-Baqarah [2] : 109).

Biarkanlah, yakni jangan dilayani dan jangan diambil hati, bertahanlah dalam kesabaran, sampai tiba waktunya Allah SWT memberi pelajaran pada orang yang iri itu. Dalam cerita Yahudi Madinah, pelajaran itu berupa perintah perang, dimana kemudian orang-orang Yahudi itu dipermalukan dengan kekalahan yang telak. Untuk cerita yang lain, yaitu cerita kita, apabila kita bersabar maka suatu saat Allah SWT akan menjatuhkan orang yang iri pada kita dengan sejatuh-jatuhnya.

Untuk berbesar hati mengahadapi orang yang iri, kita harus yakin bahwa orang yang iri itu adalah orang rendahan, dia bukan level kita untuk dijadikan lawan. Ketika dia merasa iri kepada kita, berarti kita memiliki sesuatu yang lebih dari dia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang bermaksud bahwa setiap orang yang yang memiliki nikmat itu akan diiri (HR. Ath-Thabrani, Al-Baihaqi dll.).

Sebagian orang tidak sabar dan kemudian membalas sendiri perlakuan buruk orang yang iri. Kalaupun kita ingin memuaskan diri dengan melihat orang yang iri itu menderita, maka ketahuilah bahwa membalas keburukan orang yang iri adalah suatu tindakan yang percuma dan bahkan merugikan. Pertama, ketika kita membalas maka hal itu justru menjatuhkan level kita, level kita menjadi sama dengan orang yang iri itu, kalau dia disebut rendahan karena iri maka kita juga akan disebut rendahan karena meladeni orang yang iri. Kedua, ketika kita membalas perlakuan buruk orang yang iri, maka mulai saat itu juga Allah SWT lepas tangan, tidak lagi mau membantu kita. Padahal, apabila kita bersabar dan kita serahkan kepada Allah SWT, maka “sesungguhnya Allah maha kuasa atas segalanya” (QS. Al-Baqarah [2] : 109). Artinya, balasan Allah untuk orang yang iri jauh lebih dahsyat daripada balasan kita, kita bahkan terkadang tidak dapat membalas dengan puas sesuai yang kita inginkan, sedangkan siksaan Allah untuk orang yang iri akan jauh lebih dahsyat daripada yang kita bayangkan. Namun, memaafkan dan mendoakan baik untuk orang yang iri adalah sikap seorang mukmin yang sejati. (Media Ummat)

Comments are closed.