8 views

Ingin Bercerai Tapi Tidak Berani

0

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Pak kyai saya ibu muda berusia dua puluh dua tahun. Saya sudah menikah selama enam tahun, tapi kenapa suami saya terlalu mengekang saya. Selama enam tahun saya menikah menahan perlakuan suami saya yang sering main tangan (memukul dan sebagainya). Dalam sebulan ini saya merasa sudah tidak cocok dengan suami. Saya ingin pisah (cerai) tapi takut untuk mengungkapkannya. Bagaimana ini pak kyai, mohon solusinya. Terima kasih atas perhatian dan jawabannya.

Baca Juga : Pahala dan Siksa  Bagi  Kalangan Jin

Jawab:

Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Memiliki suami shaleh tentu harapan semua wanita. Tapi, kenyataannya banyak wanita yang mengeluh karena suaminya bukan sosok yang sholeh, bahkan bersikap kasar layaknya fir’aun. Menghadapi suami model seperti ini, ada yang sanggup ada pula yang tidak bisa bertahan. Sebaiknya ibu menjadi orang yang mampu bersabar dan bertahan. Pahalanya sangat besar. Rasulullah SAW dawuh, “Barang siapa yang sabar atas keburukan istrinya maka Allah SWT akan memberi pahala seperti pahala yang pernah Allah SWT  berikan kepada Nabi Ayyub AS atas cobaan yang pernah menimpa-Nya.Dan barang siapa bersabar atas keburukan suaminya maka Allah SWT memberi pahala seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun.”

Berdasarkan kondisi yang ibu jelaskan di atas, ini termasuk dalam kategori kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun, sekali lagi, dalam menghadapi perlakuan suami, ibu utamakan kesabaran dan ketabahan. Sambil terus bermohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepada suami. Selama enam tahun ibu bersama suami, buktinya ibu masih bisa bertahan. Tinggal ditambah lagi pil sabarnya.

Sebagai seorang istri ibu juga harus mengoreksi diri. Bisa jadi ada sikap, tutur kata dan perilaku ibu yang kurang disukai oleh suami. Salah satu yang harus diperhatikan oleh para istri adalah mensyukuri (berterima kasih) atas kebaikan suami dan tidak melupakan sama sekali. Rasulullah SAW bersabda,La yanzhurullaahu ila imroatin la tasykuru lizaujiha wahiya la tastaghni ‘anhu” “Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya” .(HR. An-Nasa’i)

Bisa jadi pula prahara rumah tangga ini merupakan teguran dari Allah. Mungkin pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Maka, mendekat kepada Allah, memohon ampunan dan petunjuk-Nya yang lebih diutamakan.

Memang dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, saudari mempunyai hak untuk mengadukan, melaporkan dan menjelaskan permasalahan yang saudari hadapi kepada Kantor Pengadilan Agama untuk mengajukan gugat cerai. Namun, jadikan itu sebagai solusi yang paling akhir. Pikirkan masa depan anak-anak ibu.

Jika semua cara sudah ditempuh, dan suami memang tidak mau berubah, terus melakukan kedzaliman maka ibu bisa menggunakan hak untuk mengajukan perceraian ke Kantor Pengadilan Agama.

Comments are closed.