Adab Suami IsteriKeluarga

Indahnya Saling Membutuhkan

Manusia memang aneh tapi nyata. Pikiran dan sikap manusia seringkali berubah dengan cepat. Buktinya, saat masih belum menikah, manusia ngebet ingin menikah karena butuh pendamping hidup. Butuh teman untuk berbagi. Butuh tempat untuk curhat.  Saat manten anyar, rasa butuh itu masih menyala-nyala. Makanya kemana-mana istri atau suami selalu diikuti. Saat suami pergi istri kelimpungan karena merasa kehilangan. Apalagi kalau istrinya yang pergi, wah suami kalang kabut, di rumah sendiri seperti di tengah hutan belantara. Coba kalau sudah manten lama, rasa itu sedikit-demi sedikit hilang tak berbekas. Namun,sebagian orang bisa tetap mempertahankannya sampai akhir hayat mereka.

Rasa butuh terhadap pasangan merupakan rahmat dari Allah SWT. Tentu saja, sebagai orang yang beragama, bertauhid, rasa butuh kita yang paling besar adalah kepada Allah SWT. Artinya, jangan sampai rasa butuh kita, rasa cinta kita kepada seseorang merusak rasa cinta dan rasa butuhnya kepada Allah SWT.

Saling Membutuhkan

Suami istri saling membutuhkan, karena mereka laksana pakaian bagi masing-masing. Suami adalah pakaian istri, istri adalah pakaian suami. Ini sudah ketentuan ilahi. Orang yang mengingkari ini jelas keliru. Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya, “hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna”.  Artinya, “mereka (istri-istri kalian) , adalah pakaian untuk kalian, dan kalian adalah pakaian untuk mereka”. (QS. Al-Baqarah:187).

Siapa yang merasa tida butuh pakaian. Hanya orang yang otaknya miring alias tidak waras yang tidak butuh pakaian. Pakaian adalah salah satu simbol nilai seseorang. Coba saudara berdiri di tengah jalan tanpa memakai pakaian, apa yang orang katakan, “wah ini ada orang gila”.

Seorang laki-laki jelas membutuhkan istri demikian juga seorang wanita membutuhkan suami. Kalau suami istri masih memiliki rasa saling membutuhkan satu sama lain, maka rumah tangga masih aman. Suami dan istri akan sama-sama menjaga kepercayaan masingp-masing, menjaga cinta masing-masing, menjaga perhatian masing-masing.  Lha wong namanya orang butuh  kan biasanya selalu mencari perhatian porang yang dibutuhkan, tidak berani menyakiti yang dibutuhkan.

Baca Juga : Dahsyatnya Terima Kasih

Merasa Tidak Butuh

Sebaliknya, kalau suami istri sudah merasa tidak saling membutuhkan, maka rumah tangga mereka diambang kehancuran. Bagaimana tidak, suami sudah merasa tidak butuh lagi istrinya. Dia akhirnya tidak peduli, istri mau manut atau tidak, istri masu masak atau tidak, istri mau pergi ke mana saja dia tidak mau tahu. Bahayanya, kalau sudah begini, suami bisa nyari cewek lain, saat dia butuh.

Demikian juga sebaliknya, kalau seorang istri sudah tidak butuh dengan suami maka keharmonisan, kedamaian, keberkahan rumah tangga akan menjauh. Istri sudah tidak peduli lagi, suami mau pulang ke ruamh atau ke rumah janda muda terserah, suami mau memberi nafkah atau tidak nggak peduli karena dia merasa sudah punya penghasilan lebih. Istri merasa lebih nyaman  jalan sendiri, usaha sendiri, karena merasa bebas tidak terikat dengan suami.

Kalau sudah seperti ini, suatu ketika ada masalah, maka rumah tangga sulit dipertahankan. Masing-masing nanti punya perinsip, ngapain repot-repot mempertahankann rumah tangga, lha wong saya lebih enjoy hidup sendiri. Buat apa saya susah-susah mempertahankan istri saya, lha wong saya lebih nyaman sendiri. Untuk apa saya repot-repot mempertahankan suami, lha wong saya lebih bebas tanpa aturan suami. Inilah orang-orang yang gagal mendapatkan berkahnya rumah tangga. Rupanya mereka ini tidak ingin bersama sampai di surga.

Agar Dibutuhkan

Nah, untuk menciptakan hubungan suami istri yang harmonis, maka masing-masing suami istri harus berusaha menjadi orang yang dibutuhkan. Suami yang penyayang, perhatian, loman, romantis, mengayomi dan mejaga istrinya akan sangat dibutuhkan istrinya. Si istri akan merasa kehilangan, meski suami hanya pergi stu dua hari.  Demikian juga, istri yang taat dan hormat pada suaminya, sabar dan telaten dalam ngopeni suami dan anak-anaknya akan sangat dibutuhkan dan dirindukan suami. Lantas, sudahkah kita menjadi suami atau istri yang dibutuhkan?.

Tags
Show More

Related Articles

Close