Ibadah Ditertawakan Syetan

Imam Abu Hayyan memberikan kritik kepada para cendikiwan atau berpengetahuan tinggi tapi tidak memperhatikan urusan hati. Mereka hanya mengaku-ngaku sebagai orang Islam, namun  tidak memperhatikan ibadahnya. Bahkan, mereka malas beribadah utamanya shalat. Yang dipentingkan adalah kesuksesan dalam urusan duniawi. Selain itu, mereka tidak mau memperhatikan urusan hati. Yang penting bagi mereka akal cerdas, dan pengetahuan luas. Sementara hati tidak diperhatikan. Maka tak heran, dimasyarakat banyak orang yang akalnya pandai, namun hatinya bodoh.

Menurut Imam Al-Ghozali, dalam kitab Ihya ulumiddin, mempelajari ilmu tasawuf satu kali lebih utama daripada ibadah sunnah satu tahun. Ilmu tasawuf adalah ilmu untuk membersihkan hati dari kotoran atau penyakit hati. Seperti riya, hasud, takabur dan sebagainya. Alasannya, ketika seseorang hatinya rusak, diliputi sifat riya’, takabur, ujub dan hasud, misalnya, maka ibadahnya yang setahun itu tidak ada nilainya. Karena ibadahnya tidak dianggap oleh Allah. Pahalanya hangus karena hatinya berpenyakit. Orang yang tidak memperhatikan hatinya, hanya ibadah secara lahir saja, maka ibadahnya ditertawakan oleh syetan. Meskipun seumur hidup dia ibadah tapi tidak mendapatkan apa-apa.

Itulah pentingnya belajar ilmu yang bisa membuat hati bersih. Maka belajar ilmu tasawuf termasuk wajib ain. Setiap orang yang ingin selamat harus belajar ilmu ini. Nanti di akhirat, ketika menghadap Allah yang akan selamat dan bahagia adalah orang yang hatinya bersih. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Yaitu hari yang harta dan anak-anak tidak akan memberi manfaat, kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat” (QS. Asy Syu’ara: 88-89)

Baca Juga : KHULAFAUR RASYIDIN YANG KELIMA

Bahaya Tidak Bertasawuf

Menurut Imam Al-Ghozali, orang yang tidak memperhatikan ilmu tasawuf akan terjebak dalam beberapa bahaya bagi kehidupannya. Pertama, umurnya akan banyak terbuang tanpa kebaikan. Dia akan lebih sibuk untuk memuaskan keinginannya nafsunya. Hidupnya habis untuk bersenang-senang atau bersantai-santai. Kedua, orang tersebut akan terjebak dalam cinta dunia (hubbudunya). Yang ada dalam hati dan pikirannya bagaimana bisa mendapatkan kekayaan dan mempertahankannya. Segala carapun dia lakukan, tidak peduli halal atau haram. Dan ketiga, yang paling berbahaya, dikhawatirkan matinya suul khatimah.

Maka kita harus mempelajari ilmu agama itu secara lengkap. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair. Fata’allaman ilman yushahhihu tho’atan, wa ‘aqidatan wa muzakil qalba a’fila Artinya, “belajarlah dengan sungguh-sungguh, ilmu yang bisa menyebabkan ketaatan (ibadah) menjadi sah, dan (belajarlah) aqidah yang benar dan (belajarlah) ilmu untuk membersihkan hati”.

Jadi, ada tiga ilmu yang harus kita pelajari untuk meraih kesuksesan dan keselamatan dunia dan akhirat. Pertama ilmu fiqih atau ilmu syariat yang digunakan untuk beribadah supaya benar dan sah. Bagaimana cara wudhu yang benar, bagaimana melaksanakan ibadah shalat yang benar dan sah. Bagaimana caranya puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah yang lain. Inilah Ilmu fiqih yang menjadikan ibadah-ibadah kita menjadi sah.

Kedua ilmu aqidah atau ilmu tauhid yang menjadikan aqidah atau keimanan  kita sah dan benar. Agar aqidah kita tidak menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal jamaah. Sekarang ini banyak sekali aliran atau faham yang aqidahnya tidak sejalan dengan Ahlussunnah waljamaah, maka kita wajib belajar aqidah yang benar. Yang ketiga ilmu yang membersihkan hati yaitu ilmu tasawuf.  Orang yang selamat itu orang yang iman dan akidahnya benar, ibadah dan syariatnya benar dan hatinya bersih. (*)