Hukum Allah Sebagai Aturan Tertinggi

Al-Hakam sebagai sifat Allah bermakna, “Dzat yang memutuskan hukum di antara sifat manusia dan mencegah mereka dari kerusakan. Karena Allah telah menurunkan syariat yang dengannya manusia terhindar dari permusuhan satu sama lain.”

Allah SWT adalah yang Maha Memutuskan Hukum. Artinya, Dialah Sumber Hukum dan Pembuat Hukum menjadikan hukum-Nya sebagai satu-satunya pedoman dalam kehidupan.

Bila seorang hamba menjadikan selain Allah sebagai sumber ajaran hukum, berarti dia telah menjadikan hukum tersebut sebagai tandingan hukum Allah. Padahal yang demikian itu sama saja dengan menyekutukan-Nya.

Allah adalah Hakim yang paling adil. Sebagai orang yang beriman, kita berkewajiban meneladani keadilan sejati itu tatkala kita menetapkan sebuah perkara di antara sesama manusia. Allah berfirman Surat at Tin ayat 8: “Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?”.

Artinya Dia adalah hakim yang paling adil di antara hakim-hakim yang adil lainnya, dan keputusan-Nya berdasarkan sifat tersebut.

Di dalam sebuah hadist disebutkan, “Barang siapa membaca surah At-Tiin hingga akhir surah, maka hendaknya sesudah itu ia menjawab, “Balaa Wa Anaa ‘Alaa Dzaalika Minasy Syaahidiina” (Tentu saja kami termasuk orang-orang yang menyaksikan akan hal tersebut).

Dalam memutuskan suatu perkara, sesungguhnya Allah pun telah menjadikan Rasul, Muhammad SAW sebagai manusia yang paling ideal untuk diteladani. Allah SWT berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 65).

Baca Juga : MINYAK ZAITUN MEMPERLAMBAT PROSES PENUAAN DAN MENJAUHKAN SYETAN

Imam Al-Ghozali mengembangkan makna sifat al-Hakam hingga ke persoalan kepercayaan tentang qadha dan qadhar-Nya. Allah mengatur dengan menetapkan sebab-sebab yang menghantarkan kepada terjadinya akibat dan yang bersifat pasti, tidak berubah dan langgeng, hingga waktu yang ditetapkannya. Ini seperti peredaran bumi dan benda lain di alam raya. Itulah yang dinamakan qadha. Lalu, Allah juga mengarahkan sebab-sebab tersebut, yakni menggerakkannya dengan pergerakan yang sesuai dan dengan kadar yang penuh, menuju akibat-akibatnya yang terjadi dari saat ke saat. Dan ini adalah qadar-Nya.

Para ulama lain memaknai sifat al-Hakam sebagai “Dia yang melerai dan memutuskan kebenaran dari kebathilan, yang menetapkan siapa yang taat dan durhaka, serta yang memberi balasan setimpal bagi setiap usaha. Semuanya berdasarkan ketetapan yang ditetapkan.”

Pesan Sosial – Ekonomi

Menegakan Hukum

Dalam menegakan hukum, bukan hanya kewajiban atau tugas penegak hukum saja. Melainkan kewajiban setiap orang, dalam menegakan hukum, seringkali membutuhkan keberanian yang dilandasi kekuatan mental. Dan ini kadang menjadi penentu tetap tegaknya hukum di suatu tempat.

Hukum Allah Sebagai Aturan Tertinggi

Sebagai orang yang beriman, cukup aturan Allah saja yang kita junjung setinggi tingginya. Sebab, selain Yang Maha Memutuskan Hukum, juga yang memutuskan nasib kita kelak di alam kekekalan.

Landasan Sikap dan Mental

  • Menerima segala ketetapan dan hukum hukum Allah dengan ridho
  • Berusaha untuk tidak menghindari tanggung jawab (bersikap amanah)
  • Membuka diri dan membantu orang untuk mencari keadilan
  • Bersikap tegas dalam menolak dan menentang kedzaliman
  • Berusaha untuk mendengar, melihat, menganalisa, dan meneliti suatu persoalan secara cermat, termasuk dalam bidang karir dan bisnis. Sehingga keputusan yang diambil bisa mendukung kemajuan