Hikmah Di Balik Ketentuan Allah

0


Kata “Al-Hakim” disebut Al-Qur’an sebanyak 97 kali dan menjadi nama Allah dalam 92 ayat.

Kata Al-Hakim berasal dari kata hakama, yang berarti al man’u (mencegah). Imam Al Jauhari memaknai Al-Hakim sebagai Al-‘Alim, dan alhukmu sebagi “ilmu” dan “pemahaman”.

Allah Al-Hakim

Allah Al-Hakim adalah Dzat yang memiliki hikmah (kebijaksanaan) dalam perbuatan-Nya. Baik terkait dengan penciptaan alam dan isinya maupun penetapan syariat. Dalam pengertian ini, Allah SWT telah merencanakan tadbir (pengaturan) dan taqdir segala sesuatu dengan kukuh, matang, tepat dan terhindar dari sifat rusak maupun cacat. Allah SWT juga mengatur semua ucapan dan tindakan-Nya. Karena ketelitian-Nya, tidak ada kesalahan dalam pengaturan dan ketentuan-Nya. Tak ada kekurangan pada penciptaan-Nya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya: “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (Q.S. As- Sajadah : 7)

Imam At Thabathaba’i menafsirkan Al-Hakim sebagai “Yang Memiliki Hikmah”. Hikmah sendiri merupakan gambaran dari pengetahuan mengenai sesuatu yang paling utama. Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila diperhatikan/digunakan akan menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang lebih besar, atau mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang lebih besar.

Sebagian ulama memaknai Al-Hakim sebagai “Dia yang melerai dan memutuskan kebenaran dari kebatilan, yang menetapkan siapa yang taat dan durhaka, serta memberi balasan setimpal bagi setiap usaha, yang kesemuanya berdasarkan ketetapan yang ditetapkan”.

Ayat, “Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah”, menjelaskan bahwa Al-Qur’an disifati dengan Al-Hakim karena hikmah yang dikandungnya. Al-Qur’an juga mengandung pelbagai hakikat, segala makrifat dan pengetahuan, serta semua cabangnya berupa syariat, pengajaran dan keteladan.

Hikmah Allah juga menghendaki agar Al-Qur’an teratur dan terencana dalam segala sesuatunya. Baik dalam susunan kalimat, kandungan syariat, hukum-hukum, atau dalam perintah dan larangannya. Al-Qur’an diturunkan dari Dzat Yang Maha Mengatur. Maka, bagaimana mungkin Al-Qur’an memiliki cacat atau kekurangan?

Pesan Sosial-Ekonomi Sifat Al-Hakim

Allah Maha Bijaksana. Dengan kebijaksanaan-Nya Dia menghendaki manuasia mampu menangkap pesan sosial yang terkandung dalam sifat-Nya.

Baca Juga : TAHUN DUKA BAGINDA NABI SAW

Bersikap Bijaksana

Bijaksana merupakan suatu sikap yang dilandasi oleh kejernihan hati, fikiran, dan kedalaman ilmu. Orang yang bijaksana dalam menyikapi hidupnya pasti mengetahui betul apa yang harus dilakukannya dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Seorang manajer yang bijaksana akan mengarahkan dan reminder, bukan untuk balas dendam dan penghinaan.

Segala Sesuatu Ada Hikmahnya

Mukmin yang memahami makna sifat Allah Maha Bijaksana pasti menyadari bahwa segala ciptaan-Nya memiliki manfaat dan mengandung rahasia tertentu. Bahkan, berbagai macam musibah, tetap mengandung hikmah bagi mereka yang mau berfikir dengan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Kesadaran ini hendaknya memantapkan hati kita untuk mengimani firman-Nya: “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia begitu saja”. (QS. Ali ‘Imran : 192)

Landasan Sikap dan Mental

. Menjadikan niat karena Allah sebagai motivasi dalam melakukan setiap kebaikan.

. Mengutamakan perbuatan baik, menjauhi perbuatan buruk.

. Menjadikan musibah atau penderitaan hidup sebagai ujian untuk menjadi lebih baik dan semakin dekat kepada-Nya.

. Lebih banyak beribadah daripada berleha-leha.

. Lebih banyak bekerja daripada bercanda dan bicara.

. Senantiasa mensyukuri atas segala nikmat yang diberikan-Nya.

. Lebih takut kepada Allah daripada takut kepada manusia dan makhluk lainnya.

Comments are closed.