Hati Bercahaya Sampai Kiamat

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh; karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh: 74)

Alangkah bahayanya hati yang keras. Maka agar hati kita tidak mengeras, kita harus mengamalkan obat hati yang lima. Ada sebagian ulama yang menambahkan, bahwa obat hati itu ada 6. Selain obat hati atau tombo ati yang lima, ada satu lagi yang tidak boleh diremehkan, yaitu memakan makanan halal. Bahkan, menurut sebagian ulama, makan makanan halal ini justru yang paling pokok. Makanan halal bisa dilihat dari jenisnya maupun dari sisi memperolehnya.

Orang yang istiqomah mengamalkan lima obat hati maka dia akan beruntung. Memperoleh kebaikan, hidup di dunia sampai akhirat. Orang yang hatinya bersih, ia akan bercahaya. Saat bangun dari kubur dia akan bercahaya. Cahayanya orang mukmin terang benderang sampai menuju surga. Sebagaimana do’a mereka, “Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

(QS. At-Tahrim : 8)

Adapun orang kafir, mereka bangun dari kubur dalam keadaan gelap gulita. Sedangkan orang munafik, mereka mendapat cahaya, tapi hanya sesaat. Karena orang-orang munafik imannya hanya di lisan. Sedangkan hatinya tidak dipenuhi keimanan.

Baca Juga : BERKAH MEMANDANG ULAMA

Cahaya Berkah Al-Qur’an

Ketika seseorang membaca Al-Qur’an, hatinya akan terbuka dan menjadi terang. Bagaikan rumah yang pintunya lalu cahaya matahari masuk. Dengan membaca Al-Qur’an juga bisa menimbulkan khosyyah (rasa takut) kepada Allah. Membaca Al-Qur’an bisa memunculkan cahaya tersebut manakala ketika membaca Al-Qur’an kita memperhatikan adab-adabnya. Diantaranya, tidak main-main, dalam keadaan suci, menghadap kiblat, memakai pakaian yang paling bersih, mengunakan surban, memakai penutup kepala, hatinya hadir, khusyuk dan merasakan kehadiran Allah SWT dan membacanya dengan tartil, tidak terlalu cepat,pelan-pelan, sehingga masing-masing huruf dibaca dengan baik.

Imam Hasan Al-Basri seorang ulama besar pada masa tabi’in, bahkan termasuk cucu Rasulullah SAW, beliau berkata, “Demi Allah, tidaklah seseorang hamba Allah membaca Al-Qur’an di pagi hari, dan ia meyakini Al-Qur’an yang dibacanya, kecuali akan banyak prihatinya, sedikit bergembira dengan kehidupan dunia yang rusak ini, banyak menangisnya dan sedikit sekali tertawanya. Banyak berpayah-payah dalam melaksanaka ibadah. Dia sangat sedikit melewatkan waktu dengan menganggur. Orang yang mengangur sama dengan membuang umur”.

Tentang besarnya pengaruh bacaan Al-Qur’an dalam membersihkan dan melunakkan hati, Syekh Wahab bin Wardi berkata, “Saya tidak menemukan sesuatu yang paling baik untuk melunakkan hati dan memunculkan rasa prihatin dalam hati kecuali membaca Al-Qur’an dan (tafaahum) berusaha untuk memahami kandungan ayat-ayatnya”.

Oleh karena itu agar bacaan Al-Qur’an kita bisa berdampak pada hati kita, maka kita harus  benar-benar memperhatikan adab dan tatakrama dalam membacanya. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah berusaha memahami artinya. Oleh karena itu, kita yang belum faham ayat-ayat yang kita baca, bisa juga membaca terjemahannya. Kemudian agar lebih mendalam pemahamannya bisa membaca kitab-kitab tafsir. Diantaranya kitab tafsir Jalalain, yang disusun oleh Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dan Syekh Jalaluddin Al-Mahalli. (Media Ummat)