You Are Here: Home » REHAT » Hak Cipta Shalawat Dongkrak

Bulan Maulid kali ini menaikkan suhu batin jadi melankolis, untuk mendoa, sekalian berterima kasih pada seorang maestro. Mendiang ibunda mewariskan jejak romantisme merindukan Nabi. Memuji, mendamba berjumpa, hingga mengurai ulang riwayatnya yang teramat istimewa dalam ensiklopedi sejarah Islam. Ibu saya, figur maestro yang sebenarnya dalam shalawat. Selain hafalan suratsurat pendek dalam AlQuran, wanita yang melahirkan saya ini melengkapi ngaji, membaca biografi Maulid Diba ketika usia saya beranjak 9 tahun. Ibu menjadi trainer, setiap malam Jumat, usai membaca surah Yasin dan AlWaqiah, kami anakanaknya, mendulang kebiasaan untuk juga terlatih membaca shalawat indah ini. Kenangan manis, lidah kami sulit mendaras bunyi alifiyulanfi mimiyulfammi nuniyul hajib. Bergiliran kami dites berulangulang melafalkan kalam ini dengan benar. Dan alangkah terpesonanya, ketika ibu menutur makna kata unik itu. Nabi Muhammad berwajah indah. Hidungnya bak huruf alif, mulutnya seperti huruf mim dan alisnya melingkar laksana huruf nun.

Maka jika harus tampil di masjid atau mushalla kami tak malu lagi untuk membaca di depan khalayak karena sudah terbiasa dengan uji coba pelafalannya di depan ibu sebagai juri di rumah. Lukisan hari lalu yang awet di ingatan.

Dan jika boleh berterima kasih pada sang maestro berikutnya. Pastilah buat almarhum Ayahku. Seorang ustad kampung yang humoris sekaligus narator hebat di samping kami putra putrinya. Suatu ketika, ia mengupas kisah penciptaan Qasidah Burdah, serta mengadiahiku kitab puisi indah tentang Rasulullah SAW itu di hari ulang tahunku ke 12. Masih terngiang, kisahnya padaku bakda shalat isya di bulan maulid. Ia bertutur tentang Al Imam Ibnu Busyiri, seorang lelaki yang kakinya lumpuh tak bisa berjalan. Sepanjang waktu ia didera sakit yang makin menghujam.

Di antara perasaan sakit dan kesepian itu sang Imam berdoa kepada Allah SWT. Di antara doa doa yang terucap ia juga merindu figur Muhammad, Nabi yang memberi cahaya terang benderang pada keimanannya. Maka tanpa terasa tangannya tergerak untuk menyentuh pena, dan lahirlah syair syair indah yang menderas bagai hujan tentang rasa cinta, rindu, ingin bertemu, dan disatukan dengan Muhammad sang Habibullah di akhirat kelak. Sebait liriknya Maulaaya Shalli Wa Sallim DaaIman Abada Alaa habiibika Khairil Kholqi Kullihimi. Ya Allah, Tuhanku curahkan selalu rahmat dan salam sepanjang masa, kepada kekasih Mu, sebaikbaik mahluk seluruh bumi. Sambil mengatup ta ngannya, seperti terharu Ayah melanjutkan kisah, ketika seluruh tulisan syair Imam Busyiri selesai, tanpa sadar ia tertidur. Dalam lelapnya, ia bermimpi ditemui Rasulullah SAW. Dengan penuh kasih, hamba Allah termulia itu memberinya selimut berwarna kehijauan. Maka ketika terbangun, bahagia hatinya. Selanjutnya rangkaian syair penuh doa itu dijulukinya AlBurdah, yang bermakna selimut penghangat badan berwarna hijau. Terlebih lagi, subhanallah, sang Imam secara perlahan sembuh dari sakitnya, kakinya kembali bisa berjalan bahkan lebih sehat dari semula. Kisah itu selalu terkenang, di benak saya, seolah bekal kecil hingga usia hari ini.

Menilik syairnya terasa benar bahwa himpunan shalawat Diba dan Burdah adalah untaian syair yang diilhami ayat AlQuran, tentang perintah Allah SWT pada para malaikat untuk senantiasa bershalawat pada Nabi. Karena shalawat laksana doa yang memfigurkan Rasulullah sebagai panutan amal untuk menghantar kita pada keselamatan dunia akhirat. Sungguh niscaya tidak sederhana karena terlahir dari orang orang nan luar biasa. Penulis Maulid Diba, bernama Abdurrahman Ad Dibai adalah seorang pegiat ilmu yang telah hafal Al Quran sejak usia sangat belia. Ia juga santri brillian yang mengunduh ilmu hadits, fiqih dan gramatika bahasa Arab. Sejak Lahir di kota Zabid, Yaman Utara ia berguru ke banyak Syech yang menitiskan beragam amalan ilmu. Puluhan kitab berhasil dikarangnya. Suaranya yang indah membuatnya tertarik pada Nadom dan Qiroat. Maulid Diba adalah fenomena syair percikpercik risalah keNabian yang tak lekang dibaca hingga kapanpun.

Satu lagi, yang saya tak habis rasa suka mendengarnya, adalah rangkuman Shalawat dalam kitab Al Barzanji. Kakek saya sangat menyukai pekik shalawat ini meski dibacakan dalam kurun waktu berjam jam. Biasanya group penerbang Ikatan Seni Hadrah sangat mahir menuntaskan kalam indah dalam bahasa sastra arab yang tersaji dalam jilidan ini.

Satu lagi, yang saya tak habis rasa suka mendengarnya, adalah rangkuman Shalawat dalam kitab Al Barzanji. Kakek saya sangat menyukai pekik shalawat ini meski dibacakan dalam kurun waktu berjam jam. Biasanya group penerbang Ikatan Seni Hadrah sangat mahir menuntaskan kalam indah dalam bahasa sastra arab yang tersaji dalam jilidan ini. Kakek saya, santri kuno yang tidak mampu mengeja artinya tetapi antusias menyimak hingga gelaran ISHARI usai dini hari. Secara sederhana kita dapat memahami bahwa karya Jafar Al Barzanji, seorang ulama besar dari Irak, ini merupakan biografi puitis Nabi Muhammad SAW. Dalam uraian prosa liris, itu kita sebenarnya sedang merunutkan riwayat Nabi, dari mulai lahir, masa kanak,remaja,hingga mendapat tugas menjadi Rasul. Dalam lantunan untaian itu terasa betul keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak Sang Nabi. Di antara idiomidiom yang dipakai banyak yang dipungut dari alam semesta. Engkau matahari, Engkau rembulan dan Engkau Cahaya di atas Cahaya. Tuturan magis sang penyair tetap berpegang erat dengan AlQuran, hadist serta Sirah Nabawiyah. Untuk kemudian meluncur kembali dalam bentuk syair imajinasi puitis yang anggun. Sampai hari ini Shalawat ini tersebar ke berbagi negeri Asia, Afrika hingga Eropa.

Nah, jangan lupa kita juga punya dua Shalawat asli made in Indonesia. Yang sangat populer di kalangan para jamiyah bertajuk Shalawat Badar. Tak terhitung lagi sudah milyaran kali shalawat ini dielukan. Tak kurang penyanyi Gambus Soraya, Grup Qasidah Nasida Ria melantunkan ini dalam albumnya. Para pesohor lagu seperti Rhoma Irama,Opick, Hadad Alwi, Sulis dengan nada yang khas juga menggemakannya. Sayang sekali, saya pernah keki melihat tayangan Shalawat Badar di RCTI. Pasha, vokalis band Ungu menyajikan dengan irama pop. Pada tulisan credit title tertulis Shalawat Badar Cipt NN, menunjukkan maksud singkatan dari No Name tidak diketahui penciptanya. Padahal Shalawat khas ini ditulis oleh KH Ali Mansyur dari Tuban di tahun 1960. Ia menulisnya di Banyuwangi guna menyemangati perjuangan anak muda NU berjibaku dengan pemuda rakyat PKI. Heroiknya Shalawat menggambarkan semangat Perang Badar, perang terbaik Rasulullah melawan kebatilan kafir Quraisy. Mungkin orang NU tidak tahu siapa penciptanya sehingga tidak pernah menuntut royalty pada para penyanyinya. Atau mungkin juga, Shalawat Badar diciptakan oleh Kiai yang sangat ikhlas sehingga tak perlu mendaftarkan hak paten dan status hukum hak ciptanya. Siapa saja boleh melagukan, menyairkan kapan saja. Akan tetapi penulis seharusnya ditulis dengan benar. Karena semua syair Shalawat ada penciptanya. Kecuali Shalawat Dongkrak, Shalawat made in Indonesia edisi 2. Biasanya untuk membubarkan kendurian, tahlil atau perkumpulan, salah seorang jamaah berteriak Allahuma Shalli ala Muhammad!., maka seperti dongkrak bunyi salam Nabi itu menghantar jamaah untuk berdiri bersegera pulang. Sampai sekarang saya belum tahu siapa penciptanya.

Akhmad Bayhaqi Kadmi

Leave a Reply

Visitor

© 2013 Media Ummat · Subscribe:PostsComments · Designed by Distroblogger · Powered by distroblogger.com