You Are Here: Home » TAMU KITA, Teladan Ummat » Habib Abubakar bin Hasan Assegaf

Habib Abubakar bin Hasan Assegaf (Pasuruan)

Membawa Ummat, Bukan  Terbawa Ummat

Usia Habib muda ini terbilang masih muda. Materi ceramah-ceramahnya telah diterima dengan luas di kalangan Habaib dan muhibbin di Jawa Timur. Habib muda asal Pasuruan ini memang sekarang ini termasuk tokoh vokal yang sering menyampaikan amar ma’ruf nahy munkar ke berbagai lapisan masyarakat, baik melalui cermah-ceramah agama ataupun lewat tulisan. Pendapat-pendapatnya kerap muncul di media-media baik melalui koran, majalah maupun televisi dalam menyikapi persoalan terkini di tengah-tengah masyarakat.
Ditopang dengan suaranya lantang dan lugas dalam menyampaikan ceramah dan taushiyah, tak heran bila jadwal undangannya sangat padat. Itulah sekilas sosok dari Habib Abubakar bin Hasan Assegaf, seorang pedakwah muda yang dilahirkan di Pasuruan pada 16 September 1974. Beliau merupakan putra sulung dari Habib Hasan Assegaf.

Berbekal Ilmu
Nama Abubakar yang disandangnya adalah pemberian nama dari Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Habib Soleh Tanggul). Ketika itu, Habib Muhammad bin Hud Assegaf (sang kakek) kebetulan menjadi khadam (pelayan) dari Habib Soleh Al-Hamid. “Ketika saya lahir, saat itu Habib Soleh ada di Pasuruan dan sang kakek langsung meminta Habib Soleh Tanggul untuk memberinya nama. Akhirnya saya diberi nama Abubakar karena ingin tafa’ul (menaruh harapan) kepada kakek dari ibundanya yakni Habib Abubakar bin Muhammad (kakek buyut).”
Bahkan ketika masih kecil, Habib Soleh Tanggul juga pernah mentahmidnya (menyuapkan makanan disertai bacaan doa). Habib Hasan Assegaf (ayahnya) pernah berkata kepadanya, ”Habib Soleh itu termasuk guru kamu. Walaupun kamu itu tidak tahu.”
Masa kecil dari Habib Abubakar bin Hasan Assegaf banyak dibesarkan dalam lingkungan Habaib dan Ulama yang ada di Jawa Timur. Abahnya sering membawanya ke berbagai majelis taklim yang digelar oleh Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf.
Habib yang satu ini menempuh pendidikan formal SD Islam Pasuruan tahun 1987 M dan Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif tahun lulus 1407 H (1987 M). Ia kemudian masuk ke Ponpes Salafiyah yang diasuh oleh KH. Abdul Hamid, lulus tahun 1410 (1990 M) sampai tingkat Madrasah Tsanawiyah. Selain pendidikan formal, beliau mengaji sorogan dengan beberapa ustadz dan Kyai. Seperti Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, KH Asrori (Lebak, Winongan, Pasuruan) dan lain-lain.
Pada waktu masih usia kanak-kanak beliau belajar al Qur’an dengan ustad H. Harun, “Beliau adalah guru saya dalam usia Al-Qur’an. Beliau juga sempat mencoba belajar menghafal Al-Qur’an dengan KH Imran bin Abdullah bin Yasin (Pasuruan), namun tidak sampai selesai karena keburu mendapat kesibukan dalam urusan pengajian (dakwah) dan pada usia remaja ia sudah mulai keliling berdakwah.
Habib Abu bakar mengaku paling banyak mendapatkan ilmu, selain dari Habib Taufiq, ia mengaku banyak mempunyai kesan mendalam dengan salah satu gurunya yakni KH Asrori. “Dari KH Asrori, saya banyak mengkhatamkan beberapa kitab yang tidak sempat saya khatamkan di saat saya menempuh pendidikan formal, seperti kitab-kitab fiqh; Fathul Muin, Fathul Wahab, Uqudul Juman, Faraid, Hisab, Kalam, Ilmu Warud (Qowafi). Beliau ahli dalam bidang hisab dan faroid.” Kenang Habib Abubakar Assegaf.
KH Asrori, lanjut Habib Abubakar, sekalipun beliau orang alim beliau sangat tawadhu, low profile sehingga kalau orang melihat sekilas mungkin orang tidak percaya kalau beliau adalah orang yang alim. Bahkan ketika mengajar saya itu beliau yang datang ke rumah saya. Awalnya saya datang ke rumahnya, pada akhirnya beliau meminta yang akan datang ke rumah saya. Bahkan kadang-kadang sempat menunggu saya ketika itu saya masih tertidur karena semalam ada pengajian. Dengan telaten beliau datang hampir tiap hari untuk memberi pelajaran kitab. Saya belajar pada beliau sekitar 3 tahunan.”

Dakwah Pemuda Islam
Selepas menimba berbagai ilmu dengan para ulama dan habaib yang ada di Pasuruan, ia bersama Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf dan ulama-ulama muda yang ada di Pasuruan sempat mendirikan DPI (Dakwah Pemuda Islam) tahun 1996-1997. Kegiatan utama dari DPI adalah pembacaan Maulid dan ceramah agama. Kebetulan yang mengisi adalah duet Habaib Muda Pasuruan yakni Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf dan Habib Abubakar bin Hasan Assegaf. Pengajian yang diselengarakan oleh DPI itu dihadiri oleh ribuan pemuda muslimin dari berbagai pelosok Pasuruan dan sekitarnya. Kegiatan majelis taklim yang diselenggarakan oleh DPI sifatnya berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lain di sekitar Kota dan Kabupaten Pasuruan.
Begitu antusiasnya respon masyarakat dan ummat terhadap Dakwah Pemuda Islam (DPI), sehingga wadah pemuda ini dijadikan organisasi keagamaan yang sifatnya lokal di Pasuruan. Namun gerak DPI ini kemudian dibayang-bayangi oleh kekuatan Orde Baru yang saat itu begitu kuat menancapkan kekuasaan di berbagai lini, termasuk terhadap keberadaan organisasi sosial dan kemasyarakatan. “Akhirnya DPI dibubarkan pada tahun 1999, dikhawatirkan ada kerawanan. Pola-pola dakwah dengan pengerahan masa menjadi rawan,” katanya
Selepas membubarkan diri (DPI bubar), ia dan kawan-kawannya mulai membuat alternatif lain dalam berdakwah, dengan menerbitkan majalah, media cetak, radio Suara Nabawiy.
Dunia dakwah memang menjadi jalan hidupnya, beberapa majelis taklim dan masjid yang dahulu pernah beliau tangani kini satu persatu mulai ia pasrahkan kepada para generasi muda lulusan Tarim (Hadhramaut) yang baru datang dan merintis dakwah di Pasuruan. “Jadi bisa dibilang sekarang saya sudah tidak punya pengajian rutin. Tapi lebih sering pengajian yang sifatnya ceremonial, seperti hajatan, ataupun peringatan hari besar Islam.”

Ngemong Ummat
Habib Abubakar juga melanjutkan, sekarang ini banyak model-model dakwah, tapi juga tidak sedikit yang menyimpang dari cara dakwah yang benar. Itu merupakan tantangan buat kita, untuk menyampaikan kepada ummat Islam, mana cara dakwah yang benar dan mana yang tidak. Jadi artinya, kita itu ngemong, apa maunya masyakarat.
”Kadang-kadang audiens kita maunya dibumbuni humor, selama tidak kebablasan dan ngawur, masih terkendali itu tidak masalah, yang penting dakwahnya masuk. Tujuan kita yang utama adalah berdakwah. Kita harus selalu ingat misi berdakwah. Bukan kita terbawa oleh mereka, tapi bagaimana kita membawa mereka. Selama setiap dai itu tahu dan mengerti tujuan dakwah, ia tidak akan terbawa oleh arus masyarakat, tapi bisa membawa ummat itu untuk menerima dakwah kita.”
Kegigihannya dalam berdakwah, karena Rasulullah SAW sendiri telah banyak memberi suri tauladan dalam berdakwah. ”Saya teringat ucapan Rasulullah SAW yang berkata kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk pada satu orang dengan sebab kamu maka itu lebih baik buat kamu itu nilainya dari pada kendaraan yang terbaik (yang paling mewah).’ Dalam riwayat yang lain disebutkan, lebih baik dari pada dunia dan seisinya.”
Bagaimana dengan dakwah lebih dari satu orang?, lanjutnya, syukur-syukur kalau orang yang mendengarkan itu bisa disertai dengan hidayah Allah sehingga orang tersebut menjadi bertobat atau menjadi lebih baik karena mendengar dakwah kita. Itu yang paling bernilai di dunia ini. ”Tidak ada yang kita andalkan, baik ilmu, amal, akhlaq kita jauh bila dibandingkan dengan generasi salaf. Jadi apa yang kita bisa dan kita miliki kita berikan, kemudian kita berusaha semaksimal mungkin ikhlas tanpa pamrih sehingga tidak sia-sia apa yang kita upayakan.”
Panggilan dakwah, menurut Habib Abubakar bin Hasan Assegaf adalah semata-mata karena ingin meneruskan jejak Rasulullah SAW. “Rasulullah SAW juga adalah seorang dai”.
Prinsipnya dalam berdakwah adalah tetap berpegang pada bil hikmah wal mau’idzotil hasanah.

Leave a Reply

Visitor

© 2012 Media Ummat · Subscribe:PostsComments · Designed by Distroblogger · Powered by distroblogger.com