0 views

Empat Sifat Buruk Jahiliyah

0

Habib Jamal bin Taha Baagil

Kanjeng Nabi SAW kelahirannya mengubah dunia. Dunia yang jahiliyah dan gelap  gulita menjadi bercahaya dengan cahaya tauhid berkat kelahiran Rasulullah SAW. Semoga kita tetap beriman dan bertauhid sampai kita kembali kepada Allah SWT.

Jahiliyah merupakan kehidupan yang penuh dengan murka Allah. Tapi semua itu berubah dengan diutusnya Rasulullah SAW. Allah SWT dawuh dalam Al-Qur’an,  “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Sesungguhnya sebelum itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali Imran: 164)

Jahiliyah artinya jauhnya manusia dari kebenaran agama Allah. Jahiliyah bukan karena kebodohan ilmu. Orang-orang Arab saat itu memilki banyak ilmu pengetahuan dan keahlian. Namun mereka jauh dari tauhid.

Dalam Al-Qur’an ada empat kata jahiliyah.  Pertama, Zhannul jahiliyah (prasangka jahiliah) sangkaan yang tidak benar. “………………mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah”. (QS. Ali Imran: 154).

Banyak yang mencari jalan rezeki dengan berbuat syirik. Pergi ke dukun minta jimat dan semacamnya untuk melancarkan rezeki atau melariskan dagang. Misalnya lagi rumah harus menghadap ke arah tertentu supaya hidupnya baik. Demikian juga orang-orang jahiliyah seringkali menganggap adanya hari sial. Ini namanya tidak tawakkal kepada Allah. Menggantungkan nasib pada keyakinan-keyakinan salah. Ini namanya persangkaan jahiliyyah.

Baca Juga : ‘CIRAWA’ CINTANYA UNTUK ISLAM SEMATA

Kedua, Hukmul jahiliyyah  (hukum jahiliah). “Apakah hukum jabiliyah yang mereka kebendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. al-Maa-idah: 50)

Jangan sampai kita kembali ke hukum jahiliyah. Hukum hanya untuk yang lemah. Sementara orang-orang yang kuat, pejabat atau orang kaya, hukum menjadi tumpul.  Suatu saat Zaib bin Tsabit dilobi pembesar Quraisy, agar anaknya tidak dipotong tangan. Tapi, Rasulullah menegaskan, bahwa seandainya putri beliaupun mencuri maka akan dipotong tangannya.

Ketiga, Tabarrujul jahiliyyah (berpenampilan jahiliah). “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyah dahulu… (QS al-Ahzab : 32-33).

Ibnu Abbas menafsirkan janganlah kalian memakai pakaian seperti orang-orang jahiliyah yaitu pakaian yang tipis. Sekarang juga banyak wanita yang pakaiannya ngapret sampai memperlihatkan lekuk tubuhnya. Anak-anak perempuan sekarang sangat berani memakai pakaian yang memperlihatkan aurat. Na’udzubillah.

Keempat, Hamiyyatul jahiliyyah (fanatisme  jahiliah). “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah…..” (QS al-Fath: 26).

Kita semua seringkali bersikap fanatik terhadap atribut kelompok, suku, pondok, majelis, ataupun komunitas. Akibatnya sering terjadi gesekan alias tukaran antar kelompok.

Suatu saat Abu Dzar dan Bilal berselisih faham. Karena emosi beliau mengucapkan kata-kata, Ya Ibna Sauda  (hei anak negro). Ketika Rasulullah SAW tahu, beliau memanggil Abu Dzar. Apa betul kamu berkata seperti itu kepada Bilal?’ Betul, saya emosi kanjeng nabi. Nabi menunjuk dada Abu Dzar dan bersabda, “Sesungguhnya di hatimu ini masih ada sifat jahiliyah”.

Abu Dzar nangis. Iapun mencari Bilal untuk minta maaf. Subhanallah. (Media Ummat)

Comments are closed.