Dituntut Mematuhi Keinginan Orangtua Suami

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya ingin brtanya, saya menikah sudah 4 tahun, singkatnya, suamiku sangat menyayangi kluarganya, dan itu saya paham. Tapi setelah menikah ,apapun yang akan kami lakukan dalam rumah tangga, suamiku slalu izin kepada orangtuanya, boleh atau tidaknya yang akan kami lakukan, dan selama menikah, satu kali pun suami tak memberiku kesempatan untuk pulang ke orangtuaku saat idul fitri, dengan alasan, orangtuanya tidak mengizinkan, hingga ingin memiliki rumah di Jakarta pun tidak diizinkan, padahal suamiku mencari nafkah di Jakarta dan Alhamdulillah karyawan. Sampai KK, KTP, AKTE ANAK itu harus di kampung (Semarang) dan saat ini kami sangat susah dengan adanya identitas semarang. Apakah tindakan suamiku itu sudah bijak, apa memang harus seperti itu, suamiku memintaku untuk menuruti semua keinginan orang tuanya.

Salahkah saya, jika setelah menikah ingin tinggal terpisah dari orangtua maupun mertua?  Alasan saya, karena ingin menghindar dari segala sesuatu yang tak diinginkan. Dan salahkah saya jika ingin selalu tinggal dengn suami apapun keadaannya?  Karena menurutku, apalah arti pernikahan jika harus terpisah.

Baca Juga : HIDANGAN BERTAMBAH, DAN BISA MELIHAT JANIN DALAM KANDUNGAN

Jawab:

Wa’alaikum salam Wr. Wb. Dalam menjalani rumah tangga selalu ada suka dan duka. Semoga masalah yang ibu hadapi segera mendapat solusi. Dalam berumah tangga dibutuhkan kedewasaan dan kelapangan.

Memang ada hadits yang menyatakan bahwa bagi seorang laki-laki, meskipun ia telah menikah, yang paling utama untuk ditaati adalah orangtuanya terutama ibunya. Namun, dalam pelaksanaannya dibutuhkan kebijakan, agar tidak menimbulkan mudharat bagi yang lain (istri/suami).

Dalam menaati perintah orangtua, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (salah satu ulama Syafi’iyah) berpendapat, apabila ayah/orangtua bodoh atau kurang akal (tidak berpikir jernih), lalu memerintah atau melarang anaknya dengan sesuatu yang apabila tidak mengikutinya tidak dianggap durhaka (uquq) secara umum, maka dalam hal ini anaknya tidak berdosa apabila tidak mentaatinya.

Jadi, ibu sebagai seorang istri boleh memberi masukan kepada suami, agar bersikap lebih bijak. Membiarkan istri tidak bertemu orangtuanya selama 4 tahun adalah tindakan yang tidak bijak.

Demikian pula memaksakan diri dengan surat-surat di kampung, sementara aktifitas dan kegiatan full di Jakarta, tentu akan mendatangkan mudharat (kesulitan). Dan dalam Islam, prinsipnya mudharat itu harus dihindari.

Monggo, dimusyawarahkan dengan baik. Sampaikan apa yang menurut ibu baik, namun bukan dengan emosi. Insyaallah akan diberi jalan keluar. Dan, ibu bisa membacakan al-fatihah untuk suami, agar hatinya lebih terbuka. Juga untuk mertua, agar lebih bijaksana.

Yang diutamakan dalam berumah tangga adalah suami dan istri harus menjalankan kewajiban masing-masing. Masalah pisah atau tinggal bersama dengan orangtua atau mertua sebenarnya relatif. Banyak yang tinggal dengan orangtua atau mertua tapi hidupnya bahagia. Dan, tidak sedikit meski sudah pisah dari orangtua dan mertua tapi tetap tidak bahagia.

Kembalikan kepada hati kita. kalau kita lapang dada, dimanapun insyaallah bisa menyesuaikan diri. Namun, keinginan saudari untuk hidup mandiri memang wajar. Silahkan dipikirkan dalam-dalam. Bukan karena emosi tapi demi kemashlahatan rumah tangga. Mengalah demi utuhnya sebuah keluarga tentu merupakan pengorbanan yang sangat besar pahalanya. Semoga Allah SWT memberikan jalan yang terbaik. (Media Ummat)