0 views

Diselamatkan dengan Kebangkrutan

0

Seorang bapak datang dalam keadaan bermasalah. Namun berbeda dengan yang lain. Ia datang dengan senyuman. Ia berbagi pengalaman, bahwa ia senang Allah bangkrutkan.Saya sudah tahu kemana arahnya pembicaraan dia. Tapi saya biarkan.

“Kalau saya tidak dibangkrutkan Allah, saya sudah akan terlalu jauh dari Allah,” begitu katanya. “Sangat jauh malah. Saya banyak bermaksiat dengan rezeki dan jalan yang justru sesungguhnya diberikan oleh Allah,” katanya lagi.

Saya kemudian bertanya sedikit kepadanya, “Apa yang didapat setelah jauh dari Allah?”

“Ketidaktenangan. Ketidaktahuan tujuan hidup. Dan yang lebih jelas lagi, dosa”.

“Dosa?”“Ya, dosa. Makin lama Allah biarkan saya dalam kekayaan, makin banyak rasanya dosa saya. Jangankan urusan yang nyata-nyata sebagai dosa. Urusan meninggalkan shalat sunnah saja kan sebenarnya dosa. Ngentengin sunnah. Begitu kan kata Ustadz?”

“Ya. Betul. Ngentengin sunnah juga merupakan dosa. Kalau terlalu lama ninggalin sunnah, ya bermasalah juga jadinya. Apalagi kalau yang ditinggalkan itu adalah sunnah-sunnah muakkad; sunnah tahajjud, sunnah dhuha, sunnah qabliyah ba’diyah”.

“Nah ustadz, saya bahkan mulai menyepelekan shalat wajib. Saya ngebayangin, betapa saya durhaka kepada Allah yang sangat sayang kepada saya. Hingga saya bersyukur bahwa saya diberi-Nya karunia kejatuhan ini”.Luar biasa. Sahabat saya ini sudah berhasil menaruh baik sangkanya kepada Allah, dan berhasil memetik hikmahnya.

Hamba-hamba Allah memang banyak yang sudah menyepelekan sunnah. Pengertian sunnah masih: “Kalau dikerjakan mendapatkan pahala, kalau tidak dikerjakan, tidak mengapa”. Akhirnya, bener-bener tidak mengapa: “Cuma sunnah ini”, begitu kata sebagian dari kita. Padahal, menjaga sunnah adalah sesuatu yang terpenting yang benar¬benar berpengaruh kepada kualitas hidup kita.

“Terus, apa yang terjadi?”, tanya saya lebih lanjut kepada beliau.“Ya, namanya orang bangkrut, hidup saya penuh dengan masalah. Tapi semakin besar masalah saya, semakin saya bersyukur. Dalem sekali rasa syukur saya. Saya anggap, beban masalah saya adalah pengurangan dosa saya. Semakin berat, maka akan semakin besar pengurangannya. Saya ikhlas menjalani ini ustadz. Daripada dipendam di kuburan yang mengerikan, ini saya terima. Saya terima perlakuan dan intimidasi orang-orang yang uangnya di saya dan saya tidak bisa mengembalikan. Saya terima cacian dan makian keluarga saya. Saya terima sikap tidak pedulinya kawan-kawan yang kadang menyakitkan saya sebab saya begitu memperhatikan mereka. Saya terima semuanya.”

“Apa do’a saudara setelah saudara dekat dengan Allah?”, pancing saya.“Saya berdo’a, agar masalah saya jangan cepat selesai kalau saya belum kuat imannya. Biar saja saya begini dulu. Dunia ramai sekali di luar diri saya, tapi saya merasakan hebatnya bersepi-sepi dengan Allah”.

“Terus, nasihat apa yang saudara harapkan dari saya?”“Saya hanya pengen ketemu ustadz saja. Tidak lebih”.

Dia bicara banyak sekali. Dan saya kira, kedatangannya justru nasihat untuk diri saya. Semakin kaya, semestinya makin hebat shalat wajibnya, makin rajin shalat sunnahnya. Makin jaya, makin bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah. Makin berterima kasih pada-Nya. Bukan sebaliknya. Terlalu mahal tebusannya bila kita tergolong sebagai golongan orang-orang yang melupakan Allah.

Dia juga mengingatkan tentang diri saya sekian tahun yang lalu. Ketika saya pompa diri ini, bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan saya. Allah tidak akan pernah mengabaikan saya. Allah tidak akan pernah tidak mau menolong. Allah akan selalu menolong. Orang ini mengingatkan saya, bahwa ketika Allah ada di kehidupan kita, maka segalanya akan mengalir bahagia. Biarlah Allah yang mengatur hidup kita. Hingga nanti saatnya datang, Allah akan mengulurkan pertolongan-Nya, dan mengangkat derajat kita. Sementara itu, Allah mempersiapkan diri kita untuk menjadi individu yang lebih baik lagi yang lebih hebat lagi. Maka manakala Allah sudah mengangkat kembali hidup kita, insya Allah dengan izin-Nya, kita akan menjadi manusia-manusia yang banyak manfaatnya. (*)

Comments are closed.