Damaikan Kami, Jangan Dipisahkan

Saya pernah melihat sebuah tayangan reality show di salah satu stasiun televisi. Dalam  acara yang nyata tersebut diceritakan bahwa ada seorang suami yang tega meninggalkan istrinya Karena diwasiati oleh orang tuanya. Orang tua sang suami tidak senang dengan mantunya. Sang mantu dianggap duri dalam keluarga besarnya sehingga harus disingkirkan. Bahkan cerita model seperti itu tak hanya ada di televisi saja. Belum lama ini, kita kedatangan tamu, seorang laki-laki yang sambat karena harus kehilangan istri dan anak-anaknya. Sang istri, katanya, telah dipengaruhi ibunya, agar tidak mau lagi meneruskan pernikahan mereka. Bahkan, masih katanya, sang suami inipun tidak bisa lagi bertemu istri dan anak-anaknya Karena sudah dibatasi oleh sang mertua.

Kita, tentu tidak bisa membenarkan100 % cerita laki-laki itu. Namun, kita juga tentu tidak bisa menafikan cerita itu 100 %. Karena cerita-cerita rumah tangga yang buyar gara-gara ada sebagian keluarga terutama, orang tua atau mertua yang tidak suka model begini tidak sedikit. Mudah-mudahan pembaca setia MU tidak ada yang rumah tangganya digoyang oleh orang tua atau mertua.

Orang tua  termasuk mertua tentunya, semestinya memposisikan diri sebagai orang yang mengayomi, membimbing dan melindungi rumah tangga anak-anaknya. Kalau ada gesekan antara anak-anaknya, maka orang tua harus berusaha mendamaikan, bukan malah memisahkan. Orang tua harus mendinginkan suasana rumah tangga anak-anaknya, bukan malah manas-manasi. Orang tua harus menyatukan mereka, bukan membuyarkan ikatan keluarga yang telag dibina anak-anaknya.

Orang tua yang tentu punya pengalaman lebih banyak, umur yang  lebih dewasa, mestinya juga punya hati dan pikiran yang lebih bijak. Kalau rumah tangga anak-anak mereka ada masalah ya jadilah konsultan yang baik. Posisikan diri secara sembang. Jangan berat sebelah.  Anaknya dibela mati-matian, tapi mantunya disalahkan habis-habisan. Ini yang justriu sering terjadi di masyarakat. Banyak rumah tangga yang karam gara-gara orang tua yang ikut campur rumah tangga anak-anaknya terlalu dalam.

Talak alias perceraian, sebagaimana diketahui kan dibenci oleh Allah. Maknanya, orang yang ikut andil dalam memisahkan sebuah rumah tangga juga ikut dibenci oleh Allah.  Apalagi menjadi aktor inti dalam usaha memisahkan sebuah rumah tangga. Perceraian seringkali menyisakan hubungan yang tidak enak bahkan bisa berujung pada permusuhan dan dendam yang berkepanjangan. Akhirnya putuslah silaturahim dan itu termasuk dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah.

Orang tua sebagai pengayom rumah tangga anak-anaknya, manakala ada gelagat perpecahan dalam rumah tanga anak-anaknya semestinya segera mencari jalan untuk membantu mendamaikan. Allah SWT berfirman: Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam (juru damai) itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. An-Nisa: 35)

Orang tua yang telah merestui pernikahan anak-anaknya jangan ikut campur terlalu dalam rumah tangga anak-anaknya. Orang tua cukup mengarahkan, yang menentukan langkahnya biar anak-anak sendiri. Intervensi orang tua dalam sebuah rumah tangga bisa membuat ewuh pakewuh (serba salah) anak-anak. Terutama bagi anak perempuan (istri). Banyak istri yang  bingung, di satu sisi dia merasa punya kewajiban untuk manut pada suaminya, namun di sisi yang lain, masih ada perasaan sungkan sama orang tua, dia juga ingin manut terhadap orang tuanya, takut dikatakan anak durhaka. Ini sangat sering terjadi di masyarakat. Nah, orang tua harus ngerti, bahwa anak perempuan yang sudah bersuami, kewajiban taat nomer satu adalah pada suaminya. Jadi orang tua, harus membantu anaknya agar mau taat pada suaminya, bukan sebaliknya malah menghalang-halangi bakti sang anak pada suaminya dengan alasan harus bakti pada orang tua.

Orang tua yang ikut membantu anaknya berbakti pada suaminya, berarti membantu orang lain berbuat kebaikan dan itu jelas ada pahala tersendiri  dari Allah SWT. Allah SWT berfirman: Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. dan Barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. An-Nisa: 85)

Yang dimaksud syafa’at yang baik termasuk di dalamnya adalah membantu orang lain melakukan kebaikan dan ketaatan. a� M a0emacam ini dibolehkan mestinya masalah tower juga diperbolehkan. Perkara ada kemungkinan tower tadi digunakan untuk mengirim sms atau digunakan telfon untuk hal-hal yang mengandung unsur maksiat hal ini merupakan permasalahan yang sifatnya insidental karena tidak direncanakan dan juga tidak disengaja serta tidak masuk dalam akaq. Seperti halnya masjid yang membuka diri untuk prosesi akad nikah ternyata dari satu atau dua ibu-ibu yang ikut acara tersebut mungkin auratnya juga kurang tertutup, hal semacam ini juga sama dengan permasalahan tower. Intinya dalam permasalahan ini menurut KH Tolhah Hasan jangan digunakan untuk kepentingan pribadi dari masjid maka juga digunakan untuk kepentingan masjid. Terkadang juga ada organisasi tertentu yang meminjam masjid untuk kepentingan acara organisasi dan mereka juga mengisi kas masjid. Perkara orang berhilah (alasan) bahwa pemberian kas masjid itu bukan untuk sewa menyewa tapi untuk hal lain misalnya infaq. Kalau sewa menyewa itu diatas namakan infaq atau tidak mau aqad sewa tapi maunya infaq, maka untuk kasus tower juga bisa dikatakan seperti tadi yakni infaq. (Fat’ul Mu’in Hamisy I’anah, Juz 3, Hal : 182)

6. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya menabung dengan niatan nanti kalau sudah cukup untuk ongkos haji. Sekarang anak saya sakit, saya kesulitan biaya, bolehkah uang tabungan itu saya ambil untuk biaya pengobatan.

Jawab:

Wa’alaikum salam Wr. Wb. Karena itu hanya niat tidak diikrarkan secara lisan, tidak dinadzarkan secara lisan maka hal itu masih diperbolehkan. Karena sesuatu itu baru akan menjadi hukum syara’ yang mengikat kalau sesuatu sudah diikrarkan secara dlahir bahwa uang ini hanya saya gunakan untuk haji tidak yang lain-lain dan kalau saya sudah bisa menabung sampai sekian maka saya nadzar untuk naik haji, kalau hal semacam ini hanya boleh digunakan untuk haji andai digunakan untuk yang lain maka ia melanggar nadzar dan itu menjadi hutang yang nantinya harus diganti. Kalau cuman sekedar cita-cita, angan-angan atau niatan untuk naik haji tentu masih boleh untuk digunakan yang lain. Bahkan nadzar sekalipun, misalnya sudah nadzar hanya digunakan untuk naik haji, akan tetapi dipertengahan jalan ada hal yang lebih penting dari haji misalnya pengobatan anak lebih mendesak sementara haji masih bisa ditunda, maka dia harus melakukan hal yang lebih penting itu. Tentunya nanti juga harus diganti sebanyak biaya yang digunakan untuk pembiayaan anaknya tadi. Dan karena dia melanggar nadzar maka dia juga harus membayar kifarat nadzar.(Riyadlus Shalihin, hal : 347, Cet : Darul Kutub Al-‘Ilmiyah)

7. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bagaimana hukumnya memiliki khadam. Apakah ada khadam yang diperbolehkan?

Jawab :

Wa’alaikum salam Wr. Wb.pertama bagi orang yang diberi kelebihan oleh Allah swt bisa mengenal mahluk-mahluk ghaib itu seperti Nabi Muhammad saw, Nabi Sulaiman as dan sahabat Umar ra Menurut suatu riwayat oleh imam bukhari bisa melihat jin bahkan disana diriwayatkan bahwa jin atau syaithan itu kalau lewat disuatu jalan ternyata berpapasan dengan sahabat Umar ram aka syaithan itu memilih jalan yang lain karena takut kepada Umar ra. Orang yang diberi kelebihan dapat mengenal mereka seperti halnya Nabi Sulaiman as yakni menyuruh para jin untuk membuat masjid dan lain-lain. Dan kata “menyuruh-nyuruh” itu dalam bahasa arabnya adalah istikhdam menjadikan mereka sebagai khadam (pelayan) dalam melakukan sesuatu. Selama konteknya seperti itu kita kepada mereka menyuruh maka seperti yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman as tentu itu juga boleh. Akan tetapi dalam situasi tertentu hal seperti itu bisa menimbulkan fitnah atau tidak? Terjadi kesalahfahaman kepada orang lain atau tidak? Sebenarnya dia melakukan sesuatu itu berdasar bantuan khadam (istikhdam) akan tetapi mengakibatkan orang lain salah faham yakni orang lain menyangka bahwa ia seakan-akan orang sakti, orang hebat sehingga ia dijadikan sebagai panutan masyarakat sebagai orang yang hebat padahal sebenarnya dia melakukan itu semua atas bantuan khadam. Dan yang perlu dipertimbangkan lagi adalah agar tidak menimbulkan fitnah (jaim). Kemudian dalam istikhdam itu membahayakan dirinya sendiri dan anak cucunya atau tidak? Kalau sekiranya dapat menimbulkan bahaya baik pada dirinya sendiri atau anak cucunya misalnya anak cucunya diganggu jin atau syaithan maka tidak boleh. Karena dalam suatu qaidah : “Laa dlirara walaa dlarara”. Kalau semua unsure mudlaratnya tidak ada, unsur menipunya tidak ada dan unsur fitnahnya tidak ada serta unsur sesat dan penyesatanya juga tidak ada kemudian ada unsur kemanfaatan seperti halnya Nabi Sulaiman as tentunya boleh. Yang tidak boleh itu kalau “wa istmuhuma aktsaru min naf’ihima” yakni unsur kemadlaratanya lebih banyak dari pada unsur kemaslahatan atau manfaatnya.

8. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Hubungan ibu dan bapak saya sebenarnya dari dulu sudah tidak harmonis dan selalu bertengkar bahkan masalah sepele saja bisa menjadi besar dan hamper setiap hari cekcok, kalau saya Tanya kenapa masih diteruskan ibu? Ibu bilang takut anak-anak berantakan, tapi dibelakang bapak ibu juga menikah siri dengan laki-laki lain, saya tahu tapi saya menutupinya agar keluarga saya tetap utuh, apakah saya salah karena tidak bilang sama bapak ? apakah saya ikut berdosa?

Jawab :

Wa’alaikum salam Wr. Wb. Seorang perempuan yang masih dalam tanggung jawab seorang suami artinya masih menjadi istri seseorang maka dia tidak boleh menikah dengan orang lain. Dan apabila dia menikah dengan orang lain maka pernikahan yang kedua ini menjadi batal, kalau dalam pernikahan yang status hukumnya batal ia melakukan hubungan suami istri (jima’) maka hubungan itu dikatakan zina. Sehingga tanpa menyinggung perasaan ibu maka si anak ini harus berusaha supaya si ibu tadi tidak melakukan hal-hal yang dilarang, dan kalau memang berani boleh langsung mengatakan kepada ibu atau bilang kepada kyai atau ustadz agar menasihati ibunya. Jadi dalam permasalahan ini yang harus segera dilakukan adalah bahwa si ibu itu harus berhenti dengan laki-laki lain itu karena nikahnya tidak sah. Dan kalau nikahnya dengan laki-laki lain itu setelah suami pertama menjatuhkan thalaq dan masa iddahnya sudah habis. Memang secara sirri nikahnya dengan orang lain itu asal sudah memenuhi syarat dan rukun juga sah. Dan kalau sudah seperti ini maka dia tidak boleh berhubungan dengan suami yang pertama yang telah mejatuhkan thalaq tadi karena sudah tidak ada hubungan suami istri. Jadi orang ini bisa jadi dengan suami pertama melakukan zina kalau sudah dithalaq dan masa idahnya sudah habis, dan bisa jadi dengan suami yang kedua zina karena suaminya yang pertama belum menjatuhkan thalaq. Dan alangkah lebih baiknya lagi kalau masalah ini dari pihak KUA ikut menanganinya atau pengadilan agama sehingga permasalahan ini menjadi jelas sejelas-jelasnya.yakni apakah ia menjadi istri yang pertama ataukah istri dari suami yang kedua dan jangan takut berantakan, berantakan di akhirat misalnya yang satu masuk neraka dan yang satu masuk surga ini jauh lebih berat dari pada berantakan di dunia. Jadi jangan takut di dunia berantakan hanya karena kita ingin menyampaikan sesuatu yang benar.

,%�sn0ku benar-benar termasuk bagian dari orang-orang dzalim (11X).  Semoga Rahmat yang agung, barokah dan keselamatan senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, Nabi yang Ummi. Begitu juga kepada para keluarga dan shahabat beliau seluruhnya.”

Oleh karenanya banyak-banyaklah kita memohon keselamatan kepada Allah SWT. Dengan barokah do’a ini, meskipun banyak bencana mudah-mudahan, kita keluarga kita, saudara-saudara kita dan umumnya ummat Islam diselamatkan dari keeburukan bencana tersebut.

Ustadz Salim Nur, Pengasuh PP. Ibadurahman, Sukun Malang

Saat Kehidupan Dipenuhi Kebaikan

Kita telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk selalu berbuat baik. Disebutkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk berbuat adil dan (berbuat) baik. Demikain pula, kekasih Allah dan kekasihkita, baginda Nabi besar Muhammad SAW telah mengingatkan kita dalam sabdanya tentang kewajiban berbuat baik. Beliau bersabda, Inallaaha katabal ihsaana fi kulli syaiin. Sesunguhnya Alah menetapkan (mewajibkan) ihsan (berbuat baik) dalam setiap apapun.

Orang yang senantiasa berbuat baik dijamin kehidupanyang baik, yang barokah lahir dan batin, dunia dan akhiratnya. Demikian janji Allah dalam surat An-Nahl.

Berbuat yang diperintahkan itu meliputi beberapa sisi.

Pertama, Al-Ihsan Ilan nafs, Berbuat Baik Kepada Diri Sendiri.

Setiap manusia mukmin diperintahkan untuk senantiasa berbuat baik kepada dirinya sendiri. Berbuat baik pada diri sendiri berarti memberikan “jaminan” kebahagiaan dirinya di akhirat nanti. Berbuat baik pada diri sendiri dilakukan dengan cara bertaqwa kepada Allah. Diri kita kita arahkan kepada kebaikan-kebaikan. Kita perbanyak ibadah kepada Allah, kita perbanyak dzikir dan munajat  di hadapan Allah, kita perbanyak sholawat dan salam kepada panutan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Jangan kita dzolimi diri kita dengan aneka maksiat dan kedurhakaan di hadapan Alah SWT.

Kedua, Al-Ihsan Ilal ahli wal Aulaad, Berbuat Baik Kepada Istri, Anak dan Keluarga.

Setiap mansuia yang telah dianugerahi keluarga, istri dan anak mereka harus berbuat baik kepada mereka. Berbuat baik kepada keluarga dengan memenuhi hak-hak mereka, mengajak dan menuntun mereka kepada jalan dan syari’at Allah serta mengenalkan dan menuntun mereka kepada ajaran dan adab baginda Rasulullah SAW. Jadikan akhlak dan adab mereka seperti adab junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Jangan biarkan mereka tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya. Jangan biarkan mereka hidup tanpa mengenal agama dan syari’at Islam. Jangan biarkan mereka  hidup dalam maksiat kepada Allah. Aangkah bahagianya orang tua yang memiliki putra sholeh dan sholehah. Di dunia saja mereka sudah merasakan bahagia, lebih-lebih lagi di akhirat. Anak-anak mereka menjadi anak yang taat dan sholeh yang mau mendo’akan orang tuanya, baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia.

Ketiga, Al-Ihsan Ilan Naasi, berbuat baik kepada manusia secara umum.

Manusia harus selalu menebarkan kebaikan kepada sesamanya. Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya, bahwa orang banyak masuk surga bukan hanya karena banyaknya sholat, puasa, zakat dan ibadah mereka, tetapi mereka masuk surga karena, bersihnya hati mereka (dari penyakit-penyakit hati), luasnya jiwa mereka serta kepedulian mereka kepada sesamanya.

Keempat, Al-Isan ilal Ardhi Was Samaa’, Berbuat Baik Kepada Bumi dan Langit.

Kita juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada bumi yang kita injak dan langit yang menaungi kita. Berbuat baik kepada bumi dan langit selain tidak merusaknya secara fisik, juga dengan cara memperbanyak  ibadah, memperbanyak sujud dan munajat sehinga bumi ini merasa senang karena dia digunakan untuk bersujud bukan untuk maksiat.  Bukankah Allah telah menegaskan, bahwa jika manusia (penduduk negeri)   bertaqwa, maka Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan dari bumi. Jangan sampai keberkahan itu dicabut dari bumi dan langit  gara-gara ulah kita yang durhaka kepada Allah SWT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>