KisahMuallaf

‘Cirawa’ Cintanya untuk Islam Semata

Tidak ada orang tua yang rela anaknya beda agama. Hal inilah yang dialami Lilik yang terlahir dari ibu bapak keturunan Tionghoa. Namun karena diasuh oleh kakek nenek angkat muslim, ia jadi terbiasa dengan amaliah ibadah muslimah. Upaya orang tua untuk mengembalikan keyakinannya ditampiknya. Ia sempat dijodohkan dengan pengusaha kaya beragama Budha, tapi justru ia pun jatuh hati dengan pria keturunan arab.

Awal cerita terjadi di tahun 1950an. Sugianto atau Lie Mu Hien dan Suharmi atau Hioe Siu An mencoba peruntungan di Kepanjen Malang. Mereka berdua menyewa rumah di jalan Pahlawan nomer 25 milik Haji Abdurachim-Hajjah Siti Khodijah. Antara rumah yang disewa dan pemilik rumah bersebelahan tempatnya.  “Mungkin karena kasihan melihat Mama saya kerepotan mengasuh 4 anak yang masih kecil-kecil sambil berjualan, saya dan kakak dimomong Hajjah Siti Khodijah hingga kemudian seperti nenek saya sendiri,” ungkap Lilik Sugianto mengawali cerita.

Sekolah Katolik dan Ngaji Qur’an  

Seiring waktu, Lilik Sugianto masuk era bersekolah, dimana waktu itu hanya sekolah Katolik yang kelihatan maju. Pagi ia bersekolah dengan aturan Katolik, sore ia mengaji, “Saya pernah mengikuti lomba musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ) yang satu-satunya dari SD Katolik. Waktu itu banyak orang memandang aneh pada saya, mungkin pikir mereka, anak ini keturunan Tionghoa dari sekolah Katolik pula, tapi kok bisa baca tulis Qur’an ya?,” kata wanita yang bernama asli Lie Fei Cien ini.

Baca Juga : BELAJAR DARI EPISODE KEHIDUPAN RASULULLAH

Maka dapat dikatakan sejak kecil Lilik Sugianto memeluk agama Islam. Menurutnya, selain figur Gus Dur, sosok Mamanya yang paling toleran. “Pada bulan Ramadhan justru Mama yang rajin membangunkan untuk sahur. Orang tua saya sering mengajak silaturahmi ke tokoh agama lain. Mereka tidak pernah membenci saya, malah dari orang tua saya diajari akulturasi budaya, hingga saat ini saya mudah menerima perbedaan. Kalau sudah beda kenapa mesti diharuskan sama?,” ungkap Lilik Sugianto yang 2016 ini, genap berusia 45 tahun.

Ujian Keimanan

Namun ujian keimanannya datang tatkala Lilik Sugianto beranjak dewasa. Mamanya menjodohkan dirinya dengan pria keturunan Tionghoa kaya beragama Budha. Dengan kerendahan hati ia menyatakan penolakannya pada sang Mama. Kepada sang pria ia pun berkata, “Jangan ikuti agamaku hanya karena cintamu padaku, karena suatu saat cintamu luntur, kau akan kembali pada agamamu,” kata Lilik Sugianto dengan puitis.

Kemudian, ia pun menambatkan hati pada Yasir Farid Thalib, pria keturunan Arab yang lebih ia sukai. “Jadi banyak orang sambil guyon menjuluki saya Cirawa, singkatan dari Cina, Arab dan Jawa,” kata Lilik Sugianto sambil tertawa.

Kini Lilik Sugianto sudah diamanahi dua anak yang cantik-cantik, bahkan sebentar lagi ia bakal menimang cucu. Banyak suka duka mengiringi perjalanan imannya. Namun baginya, yang paling memprihatinkan dengan saudara-saudara keturunan Tionghoa yang memeluk Islam kebanyakan terlalu memaksakan diri. “Cina muslim jangan berusaha ganti kulit, seakan karena tuntunan lingkungan, hingga mereka memaksakan diri untuk merubah diri jadi kearab-araban. Hidung pesek, mata sipit, itu semua karunia Allah, syukuri saja,” kata wanita Penggerak Gus Durian di kota Batu, yang merupakan komunitas antar iman dan antar etnis, juga berkhidmat di Jaringan NU Kultural Malang Raya.  (mu/dedik)

Tags
Show More

Related Articles

Check Also

Close
Close