Adab Suami IsteriKeluarga

Cemburu dengan Menantu

Ada seorang ibu yang “mengadukan” sikap anaknya. Dulu  dia begitu membanggakan sang anak. Selain rajin beribadah dan pintar mengaji, sang anak juga sangat patuh dan taat kepada orangtua. Selama belajar maupun kuliah, sang anak selalu menuruti apa yang diminta ibunya. Namun, kebahagiaan sang ibu mulai sirna ketika anaknya telah menikah. Menurut sang ibu, anaknya sudah tidak patuh lagi kepada orang tua. Dia terlalu manut dan menomor satukan istrinya. Sang ibu sudah berusaha dan berdo’a agar anaknya bisa seperti yang dulu lagi.

Tanggungjawab Baru

Perasaan ini mungkin dirasakan hampir semua orang tua. Ya, bagaimanapun setelah anak-anak menikah, orang tua harus menyadari bahwa anaknya sekarang bukan hanya “miliknya”. Dia sudah memiliki istri, anak-anak bahkan saudara dan keluarga dari istrinya. Setelah memutuskan untuk berumah tangga, maka sang anak sudah memiliki kewajiban dan tanggungjawab dengan keluarga barunya.

Sebagai orang tua, sejatinya tentu ketika anak akan menikah memberikan bimbingan dan dukungan. Kalau calon istri sang anak memang dianggap kurang baik, beri masukan dan nasehat kepada anak-anak agar tidak menyesal di kemudian hari. Namun, manakala orang tua sudah mengamini permintaan anak untuk menikah, maka orang tua mestinya memberikan dukungan dan do’a sepenuh hati agar anaknya bisa membangun rumah tangga yang harmonis sesuai ajaran agama.

Perasaan orang tua bahwa sang anak tidak lagi sepenuhnya mentaati orang tuanya memang wajar. Apalagi jika sang anak itu adalah anak tunggal. Karena bagaimanapun orang tua terutama ibu masih membutuhkan kedekatan dengan anaknya. Muncullah perasaan “cemburu”. Kenapa sih yang diperhatikan hanya istrinya saja.

Ini masalah pelik yang dialami hampir semua anak laki-laki. Posisinya yang berada di antara dua wanita, ibu dan istrinya seringkali membuat mereka serba salah. Ibaratnya, maju kena mundur kena. Membela istri, ibunya tidak terima, tapi membela ibunya, istrinya yang ngamuk. Bagi para suami yang beragama, tentu ada perasaan khawatir masuk kategori anak yang durhaka kepada orang tua. Apalagi kalau mengingat kisah Alqomah, sahabat nabi yang kesulitan menghadapi sakaratul maut gara-gara ibunya sakit hati dinomorduakan oleh sang anak.

Baca Juga : Menyenangkan Hati Pasangan

Memahami Posisi

Masalah ini kalau tidak disikapi dengan bijak, tidak ada yang mau mengalah akan menjadi ruwet.

Seorang istri harus punya kesadaran sedalam-dalamnya, bahwa meski telah menikah, seorang anak laki-laki tetap memiliki kewajiban kepada orang tuanya terutama kepada ibunya. Sebaliknya, bagi seorang anak perempuan, ketika telah menikah maka yang paling berhak untuk ditaatai adalah suaminya.

Hal ini telah dengan tegas disampaikan oleh Rasulullah SAW:

Disebutkan bahwa Sayyidah Aisyah berkata: “Aku pernah bertanya kepada Baginda Rasulullah, “Siapakah orang yang paling behak atas seorang istri?”, Beliau menjawab: “Orang yang paling berhak kepada istrinya adalah suaminya”.  Kemudian aku bertanya lagi, “Siapakah orang yang paling berhak atas seorang suami?”. Beliau menjawab: “Orang yang paling berhak atas seorang suami adalah ibu kandungnya”. (HR. Al-Bazzar dan Al-Hakim)

Disinilah kuncinya. Kalau istrinya ngerti, mestinya dia mendorong sang suami untuk taat kepada ibunya, agar sang suami diridhoi Allah, agar rumah tangga mereka menjadi barokah. Coba para istri mau merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan anak untuk berbakti pada orang tua, ayat-ayat tentang perjuangan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Ketika suami diridhoi orang tuanya, diridhoi ibunya, diridhoi Gusti Allah, maka rahmat Allah akan turun dan ketika rahmat Allah turun maka yang merasakan kebahagiaan juga semuanya, termasuk istri dan anak-anaknya.

Di sisi lain, orang tua jangan membebani anaknya yang telah berkeluarga dengan tuntutan yang bermacam-macam. Meski memiliki hak yang diakui agama, orang tua yang bijak tidak menekan anaknya, syukur-syukur membantu sang anak untuk mewujudkan rumahtangganya yang bahagia dunia dan akhirat.

Tags
Show More

Related Articles

Close