Celaka dengan Angan-Angan Belaka

0

أربع من الشقاء : جمود العين، قسوة القلوب، طول الأمل، الحرص على الدنيا.(رواه : البزار)

Artinya: “Ada empat faktor kesengsaraan manusia, pertama mata sulit meneteskan air mata (jumudul ain), kedua hati yang keras (qaswatul qalb), ketiga angan-angan yang panjang (thulul amal), keempat rakus terhadap dunia (al-hirsu ala ad-dunya). (HR. Al Bazzar)

Kiat dan rumus sukses itu selalu diikuti dengan kerja keras. Ada sebuah ungkapan dalam bahasa latin “ora at labora” artinya berdoa sambil bekerja. Secara dzahir kalau kita hanya berangan-angan (thulul amal) tidak bekerja, atau berdoa saja tanpa adanya usaha dan kerja keras tentu kita tidak akan meraih kesuksesan.

Misalnya kita ingin memiliki istri yang cantik, tapi kita kurang bisa merawat tubuh, jarang mandi, jarang menggosok gigi dan usaha yang lain tentu kita akan sulit mendapatkan istri yang cantik. Kita ingin menjadi orang kaya, tapi hanya tidur, kerja malas, tidak mau berjuang, maka jangan berharap keinginan itu bisa tercapai. Bahayanya, jika keingina besar itu hanya sekedar angan-angan belaka (thulul amal) yang itu dilarang dalam agama.

Jadi, secara umum siapap pun yang bekerja keras tentu dia akan menuai hasilnya. Tentu Allah SWT akan menunjukkan jalan kesuksesan kalau kita mau bersungguh-sungguh dan bekerja keras (jihad/mujahadah/ijtihad). Allah SWT telah berfirman, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (jihad) mencari keridhaan kami, benar-benar akan kamu tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Baca Juga : PESONA CINTA

Hidup Realistis

Kita hidup secara real, nyata maka kita harus membuat target dan mempunyai cita-cita. Namun, harapan dan target itu juga harus realistis berdasarkan dengan kemampuan kita, mempertimbangankan tantangan dan ruang hidup kita. Siapa pun yang memungkinkan untuk kita ajak kerjasama, maka terlebih dahulu harus kita pertimbangkan. Kalau hal itu sangat produk maka ruang dan pemasarannya juga harus kita pertimbangkan serta dikaji dan disurvei secara seksama. Dan setelah itu kita membuat target dan bekerja sesuai dengan itu semua. Dan tentu di samping itu semua kita harus bertawakkal kepada Allah SWT. Maka dari itu semua secara umum kita akan meraih kesuksesan yang tidak jauh dari target dan usaha kita. Kalau kita hanya melamun saja, berangan-angan tanpa adanya usaha keras maka tunggulah kehancurannya. Adapun persoalan takdir, maka itu wilayah kuasanya Allah SWT, bukan persoalan kita.

Jadi, orang yang hanya berangan-angan (thulul amal) tidak mau bekerja dengan sungguh-sungguh, maka seakan-akan dia memperbudak dan menyuruh Allah SWT. Seakan-akan kita berkata, “Engkau saja ya Allah yang bekerja, saya akan melamun saja”. Dan itu sangat tidak beradab. Perilaku, karakter dan mental seperti itulah yang membuat kita menjadi lemah, baik lemah mental, lemah fisik dan lemah secara ekonomi. Bahkan lemah dalam kekuatan politik dan sebagainya. Dan ketika kita lemah, maka posisi kita tidak bisa di atas, kita tidak bisa mengatur, kita tidak bisa mewarnai dan justru kita diperintah, diatur dan diwarnai oleh orang lain. Dan di situlah hancurnya aqidah dan idialisme kita, hancurnya masa depan dan komunitas kita. Maka tidak salah kalau Rasulullah SAW mengatakan bahwa salah satu faktor yang menghancurkan kita adalah panjangnya angan-angan.

Kalau bapak Susilo Bambang yudoyono mengatakan, “bersama kita bisa” maka bolehlah kita meneruskan, “bersungguh-sungguh kita bisa”. (Media Ummat).

Comments are closed.