KeluargaTips Ummat

Cara Untuk Memiliki Anak Yang Soleh

Rabbanaa Hablanaa min Azwaajinaa Wadzurriyyaatina Qurrata A’yun Waj’alnaa lilmuttaqiina Imaaman.

(Ya Allah berilah kami istri-istri (suami-suami) dan keturunan kami yang menjadi penyenang hati (Qurrata A’yun)  dan jadikanlah kami pemimpin dari orang-orang yang bertaqwa)

Itulah do’a yang biasanya kita baca setelah sholat fardhu. Do’a yang berisi permohonan agar dikaruniai pasangan serta keturunan yang baik yang bisa menyenangkan hati. Lha ternyata banyak juga yang tidak hafal dengan doa itu. Boro-boro hafal, barangkali kita baru kali ini memahami kandungan doa ini. Tak heran jika banyak keluarga yang dikaruniai pasangan yang hobi selingkuh dan anak yang nakal.

Pada keheningan malam yang sunyi, pada saat Pak Kardi dan istrinya lagi enak-enaknya tidur tiba-tiba saja ada dering bel yang memecah kenyenyakan tidur mereka. Rasa kaget mereka menjadi-jadi ketika membukakan pintu rumah mereka dapati sosok anak muda dengan pakaian awut-awutan, matanya mendelik sambil sempoyongan. Ternyata pemuda itu adalah anak mereka yang baru pulang dari diskotik. Yang membuat Pak Kardi teriris hatinya adalah anaknya mabuk sambil merangkul seorang gadis berpakaian mini yang tak lain adalah pacar anaknya. Sambil menggandeng pacarnya, si pemuda yang nakal itu berteriak lantang: ”Kok lama sekali sih membuka pintunya. Minggir gue mau tidur,” .

Pak Kardi dan istrinya hanya bisa mengelus dada menyaksikan kelakuan anak laki-laki satu-satunya yang kelewat batas. Sudah puluhan nasehat dikeluarkan untuk menyadarkan anaknya namun justru sumpah serapah yang selalu keluar dari mulutnya. Bahkan anak durhaka itu mengancam kedua orang tuanya jika terus-terusan mencampuri urusannya.

Seperti tumbu dapat tutup, kisah yang dialami Pak Kardi sama dengan kisah Bu Nani. Bu Nani adalah pengusaha sukses yang sekarang sudah menyerahkan urusan usahanya kepada adiknya. Dulu, sewaktu merintis usaha mebeler, Bu Nani banting tulang sampai lupa dengan anak tunggalnya di rumah. Kehidupannya habis mengurus usahanya. Sukses memang, tapi ya gitu, anaknya yang tidak sukses. Pada saat menikmati hari tuanya ia mendapat tamparan keras dari anaknya. Pada saat ia didatangi relasi lamanya tiba-tiba saja segerombolan polisi berseragam preman datang menjemput ibu berusia 57 tahun itu. ”Mana yang namanya Bu Nani?,” tanya polisi dengan lantang. ”Saya Bu Nani, ada apa Pak?,” Bu Nani balik bertanya. ”Ibu ikut kami ke kantor sekarang juga!. Dengan keheranan Bu Nani bertanya, ”Memangnya ada apa Pak. Kok tiba-tiba saya dipanggil ke kantor polisi?,” tanya Bu Nani kepada aparat yang wajahnya sangar-sangar itu. ”Anak Ibu sekarang di kantor. Dia tertangkap membawa narkoba bersama seorang gadis,” jelas Pak Polisi.

Betapa kaget dan bingungnya Bu Nani mendapat jawaban dari Pak Polisi itu. Dirinya tidak menyangka anak satu-satunya yang digadang-gadang menjadi penerus kerajaan bisnisnya harus berurusan dengan polisi gara-gara tersangkut narkoba. Padahal setiap hari, anak semata wayangnya itu bersikap manis kepadanya seakan-akan anaknya baik-baik saja. Ternyata itu hanyalah akal-akalan anaknya agar tidak dicurigai ibunya. Anak yang dibangga-banggakan malah menciptakan aib bagi keluarganya. Bagaimana malunya Bu Nani dengan relasi bisnisnya. Bu Nani stres menjawab apa seandainya relasi bisnisnya bertanya perihal anaknya yang dijebloskan ke penjara. Akhirnya apa yang terjadi, lima bulan setelah itu Bu Nani meninggalkan urusan dunianya karena pergi ke alam kubur. Kata dokter beban pikiran yang berat membuat dia terkena darah tinggi. Hingga ajal menjemputnya.

Dua peristiwa ini telah digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya surat At Taghoobun ayat 14:

Wahai orang-orang yang beriman sesunguhnya sebagian diantara istri-istri dan anak-anakmu  menjadi musuh bagimu, maka hati-hatilah terhadap mereka,”.

Dua potret keluarga itu tidak boleh kita teladani. Contohlah keluarga Haji Malik yang hidup dalam keharmonisan meskipun Haji Malik bukanlah orang kaya. Sejak kecil ketiga anaknya sudah dititipkan ke guru ngaji kampung. Kepada anaknya, Haji Malik mendoktrin anaknya agar menjadi anak yang sholeh yang berbakti kepada orang tuanya. Dan upaya pengajaran Haji Malik ini berhasil. Ketiga anaknya menjadi anak yang sukses dalam meniti karir. Ada yang menjadi PNS, ada yang menjadi dokter, dan ada yang berwiraswasta. Ketiganya menjadi ahli ibadah  Sholat wajibnya tidak pernah ditinggalkan. Setiap minggu silaturahmi ke rumah orang tuanya sambil membawa oleh-oleh yang bisa menyenangkan hati kedua orang tuanya.

Mereka inilah yang dalam Islam digambarkan sebagai anak yang berbakti kepada orang tua sekaligus kebanggaan keluarga (Qurrata A’yun). Tak pernah sekalipun Haji Malik merasa disakiti atau dikecewakan oleh anak-anaknya.

Setiap orang pasti ingin melihat anak-anaknya sukses menjadi orang. Baik sukses karirnya maupun sukses dalam beribadah. Namun hanya sedikit orang yang tahu bagaimana caranya agar anak-anaknya bisa menjadi anak yang baik-baik. Kebanyakan ibu-ibu lupa bahwa si anak juga punya hak untuk diperhatikan, hak untuk mendapatkan kasih sayang, hak untuk dibimbing ke jalan yang benar. Bukan lantas diserahkan kepada baby sister lalu kita mengharap agar anak kita menajdi anak yang sholih sholihah.

Baca Juga : TSUNAMI SPIRITUAL DAN MORAL

Banyak orang tua yang menyalahkan anaknya kalau anaknya terjerumus ke dalam perilaku buruk. Tanpa mereka sadari, mereka telah melalaikan hak-hak si anak. Karuan saja anaknya menjadi anak yang bengal.

Di dunia ini tidak ada ibu atau bapak yang ingin melihat anaknya gagal. Para orang tua itu tentu ingin anaknya menjadi orang yang sukses. Meskipun dia adalah tukang becak, pasti tidak ingin anaknya jadi tukang becak. Inginnya ya jadi pengusaha taksi. Meski dia tukang copet, pasti dia tidak menginginkan anaknya jadi tukang copet. Kalau bisa ya jadi polisi. Meskipun ibunya menjadi pelacur, pasti tidak ingin anaknya ikut jadi pelacur. Kalau boleh ya anaknya jadi artis saja.

Selain mengaharap anaknya sukses menjadi orang, ibu-ibu juga ingin anaknya menjadi anak yang sholeh. Salah satu ciri anak yang sholeh adalah saat dipanggil dia langsung bergegas. Tidak pernah bilang Aduh atau malas kepada ibunya. Lha sekarang ini kan tidak. Anak yang salah diperingatkan orang tuanya malah mengancam akan mendampar orang tuanya. Ini pernah kejadian di Dampit. Seorang anak tega memukul bapaknya yang sudah tua gara-gara orang tuanya tidak membelikan sepeda motor.

Sangat sulit menemukan anak yang betul-betul taat dan patuh kepada orang tuanya. Kalau disuruh Bapaknya bilangnya nanti saja. Tapi kalau diminta tolong sama pacarnya langsung berangkat. Anak jenis ini jelas-jelas menyusahkan orang tuanya. Sampai-sampai ada Bapak saking kesalnya kepada si anak sampai berucap: Kalau tahu jadinya begini mending si anak tak dilahirkan ke dunia ini.

Islam sebagai agama sangat perhatian kepada persoalan ini. Ada rambu-rambu yang harus kita lakukan jika kita ingin memiliki anak yang sholeh. Tentunya sejak awal sampai akhir harus betul-betul kita kerjakan. Kita diperintahkan untuk mempersiapkan kelahiran si bayi dengan baik. Berikut akan kami jelaskan hak-hak anak yang perlu diketahui dan dipenuhi orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

TUNTUNAN ISLAM AGAR KITA MENDAPATKAN ANAK YANG SHOLEH

  1. Memilih Pasangan Hidup Yang Baik

Di antara hak anak adalah dipilihkannya ayah atau ibu yang baik. Dalam hal ini Islam memerintahkan seorang wanita untuk memilih suami yang baik. Bukan hanya sekedar menang tampang atau kaya. Demikian pula seorang laki-laki diperintahkan untuk mengawini wanita yang sholihah bukan hanya  cantik dan terpandang. Dengan memilih suami atau istri yang baik berarti ia telah memilihkan ayah  atau ibu yang baik bagi anak-anaknya..

Diriwayatkan oleh seorang sahabat bahwa ada seorang anak kecil datang menghadap ke khalifah Umar bin Khattab yang menanyakan hak seorang anak terhadap ayahnya. Di antara jawaban Umar bin Khattab adalah hendaknya ia memilih seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya.

  1. Melindungi Anak Dari Gangguan Setan

Begitu sempurnanya Islam sampai-sampai persoalan sepele pun diperhatikan. Ketika suami istri akan menyalurkan hajatnya dianjurkan membaca do’a yang sudah ma’tsur seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya dan berdo’a: Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari (godaan) setan, dan jauhkanlah ia (setan) dari apa (anak) yang Engkau anugerahkan kepada kami, kemudian mereka dikarunia seorang anak, maka setan tidak akan mampu untuk mengganggunya selamanya (HR. Bukhari Muslim).

Do’a ini letter leq-nya: Bismillah, Allahumma Jannibnas Syaithaan, Wa Jannibis Syaithaana ’Alaa Maa Razaqtanaa yang mengandung  pengertian memohon perlindungan kepada Allah SWT dari gangguan setan.

Kita tidak tahu secara pasti faktor apakah yang menyebabkan kenakalan dan kedurhakaan anak-anak terhadap orang tuanya yang akhir-akhir ini sangat marak di masyarakat. Mungkin bisa jadi salah satu faktornya adalah kelalaian orang tua pada saat bersetubuh lupa membaca basmalah dan do’a  yang telah diajarkan Nabi. Sebab tidak mungkin Rasululah SAW memberikan tuntunan tanpa ada hikmah yang besar dibaliknya. Kalau awalnya sudah tidak didoai, biasanya hasilnya kurang mujarab.

  1. Mendo’akan Bayi Selama Dalam Kandungan.

Sudah menjadi tradisi bagi kita terutama masyarakat Jawa mengadakan tasyakuran atas kehamilan istrinya. Ada tradisi namanya neloni, mitoni yang diperuntukkan untuk mendo’akan bayi yang ada dalam kandungan agar mendapat lindungan dari Illahi Robbi. Bahkan sebagian ulama ada yang menyusun do’a selama masa kehamilan.

Dalam al-Qur’an surat Ali Imron ayat 36 dikisahkan tentang Istri Imron ketika mengandung  Siti Mariyam. Ia berdo’a kepada Allah:

Wa Innii U’iidzhuhaa bika wa Dzurriyyatahaa minas syaithaanirrajiim. (Dan aku memohon perlindungan kepadaMu untuk anak yang dikandungnya  dan juga untuk keturunannya dari godaan setan yang terkutuk).

Demikianlah perhatian Islam terhadap anak-anak. Sebelum kelahirannya pun Islam sudah memberikan hak yang harus dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Maka seyogyanya orang tua memenuhi hak-hak si anak bukan saja menuntut hak untuk ditaati

Tags
Show More

Related Articles

Close