Buah Strategi Dalam Dakwah

Nabi Muhammad SAW tidak hanya menyampaikan Islam kepada penduduk Makkah saja. Beliau juga mengajak orang-orang di luar kota suci itu untuk  beriman kepada Allah. Penyiaran Islam ke luar Makkah dilakukan Nabi Muhammad SAW antara lain ke daerah Thaif sebelah selatan Makkah. Beliau pergi Thaif karena sudah sedemikian berat rintangan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy . Beliau berfikir, penduduk Thaif akan menerima dakwahnya dan melindunginya. Tetapi ternyata penduduk Thaif mengusir dan menganiayanya. Akhirnya beliau meninggalkan Thaif dan kembali ke Makkah.

Selain ke Thaif, Nabi Muhammad SAW juga mendatangi Banu Kinda di Arab Selatan, Banu Kalb di dekat Syiria, Banu Hanifa di dekat Irak, dan Banu Amir bin Sha’sha’a yang hidup berpencar-pencar. Sayangnya, dakwah beliau kepada mereka tidak disambut dengan baik. Bahkan ada yang menolak dengan cara yang buruk sekali.

Beliau sampai berdoa: Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, keterbatasan usahaku dan hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pengasih, Engkaulah Tuhan orang-orang lemah dan Engkau juga adalah Tuhanku, kepada siapa Engkau menyerahkanku? Apakah kepada orang jauh yang telah menyiksaku? Ataukah kepada musuh yang telah Engkau beri kekuasaan untuk mengalahkan diriku? Kalaulah  bukan karena murka-Mu kepadaku, maka aku tidak akan peduli, dan aku tahu bahwa pengampunan-Mu untukku lebih luas. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan, yang telah memperbaiki urusan dunia dan akhirat, agar kiranya Engkau tidak menimpakan kemarahan-Mu kepadaku atau menempatkan kemurkaan-Mu kepadaku. Hanya milik-Mu segala keridhaan hingga Engkau pun meridhaiku. Tidak ada daya dan upaya kecuali karena-Mu.

Memanfaatkan Musim Haji

Dalam bulan-bulan haji, kota Makkah ramai dikunjungi oleh orang-orang dari  berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ritual keagamaan menurut cara mereka masing-masing. Mereka tinggal di Makkah selama beberapa hari untuk beribadah dan berdagang. Mereka tinggal di sana berkelompok-kelompok menurut sukunya masing-masing.

Baca Juga : KUATKAN TULANG DAN MENCEGAH KANKER

Kepada mereka inilah Nabi Muhammad SAW menyampaikan ajarannya. Tetapi sekian musim haji berlalu, tanggapan yang diterima tidak begitu menggembirakan. Kebanyakan mereka menolak apa yang disampaikannya dan tetap berpegang pada ajaran lama mereka. Meskipun demikian Nabi Muhammad SAW tidak putus asa. Setidaknya, syiar Islam telah disampaikan.

Meskipun mereka menolak seruannya, namun mereka tentu akan bercerita kepada masyarakat masing-masing kalau di Makkah sekarang ada seseorang yang mengaku dirinya sebagai utusan Tuhan dan menyiarkan agama Islam. Meskipun mereka mungkin menjelek-jelekkannya di hadapan masyarakat mereka, tetapi mereka telah turut andil menyampaikan keberadaan Islam ke berbagai wilayah. Akibatnya Nabi Muhammad SAW dan Islam semakin dikenal di kawasan itu.

Diantara mereka yang tertarik dengan kemunculan seorang rasul ini adalah beberapa orang penduduk Yatsrib. Sudah lama mereka merindukan kemunculan seseorang yang dapat mereka jadikan sebagai pemimpin dan dapat menciptakan perdamaian di daerah mereka. Mereka sudah bosan hidup dalam pertikaian terus menerus antara Kabilah ‘Auz dan Khazraj.

Kepada penduduk Yatsrib ini Nabi Muhammad SAW juga menyampaikan dakwahnya. Pada awalnya sikap mereka sama dengan orang Arab lainnya. Namun ada juga di antara mereka yang bersimpati dan tertarik dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Jumlah mereka yang tertarik semakin bertambah dari tahun ke tahun. Akhirnya pada suatu musim haji, 12 orang penduduk Yatsrib berikrar (berjanji) di hadapan Nabi Muhammad SAW untuk tidak menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah. Ikrar ini dikenal dengan ikrar ‘Aqabah yang pertama. Kemudia, Nabi Muhammad Saw mengutus Mush’ab bin Umair ke Yatsrib untuk mengajarkan ajaran Islam di sana.

Pada tahun berikutnya (622 M), jumlah jamaah haji dari Yatsrib bertambah menjadi 75 orang. Mereka menyatakan beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan berikrar akan membelanya sebagaimana mereka membela keluarga dan harta mereka. Ikrar ini dikenal dengan ikrar ‘Aqabah kedua. Ikrar ini merupakan salah satu tanda babak baru penyiaran Islam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Tidak beberapa lama berselang, Nabi Muhammad SAW mengizinkan pengikutnya untuk berhijrah ke Yatsrib. Beliau pun setelah diizinkan Allah SWT menyusul hijrah ke kota yang kemudian dikenal dengan madinah Al-Munawarah. (Media Ummat)