0 views

Bolehkah Memperlambat Haid Agar Bisa Berpuasa?

0

NASEHAT BAGI PEREMPUAN DALAM MENJALANI PUASA RAMADHAN

Puasa adalah kewajiban umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Ibadah puasa memiliki keistimewaan yang berbeda dengan ibadah yang lain. Rasulullah SAW bersabda: Setiap amal manusia untuk mereka, kecuali puasa, puasa untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, dan puasa adalah tameng (dari kemaksiatan). (HR. Ahmad, Imam Muslim dan Nasa’i)

Umat Islam diharuskan berpuasa di bulan Ramadhan. Jangan sampai kita meninggalkan puasa meski satu hari tanpa alasan yang dibenarkan syari’at seperti sakit, haid, nifas atau musafir. Rasulullah telah menegaskan bahwa barang siapa berbuka puasa di bulan Ramadhan bukan karena sebab rukhshoh (yang mendapat keringanan dari Allah SWT), maka ia tidak akan bisa menggantinya walau ia berpuasa selama setahun penuh. (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Allah menegaskan bahwa kedudukan laki-laki dan wanita dalam ketaatan adalah sama. Allah Berfirman: “Barang siapa yang melakukan amal sholeh baik laki-laki maupun perempuan dan ia beriman maka akan kami mereka ke dalam surga dan mereka tidak di perlakukan dengan dholim”.

Dalam menjalani ibadah puasa ada kekhususan bagi kaum wanita. Kekhususan-kekhususan yang hanya dimiliki oleh kaum wanita itu perlu diketahui dan dijadikan pedoman. Kekhususan itu diantaranya:

Baca Juga : MASJIDNYA MEWAH, JAMA’AHNYA KEMANA?

Wanita yang sedang haid atau nifas tidak boleh berpuasa.

Wanita yang sedang haid atau nifas bukan saja puasanya tidak sah malah diharamkan oleh agama. Haram hukumnya bagi wanita yang sedang haid atau nifas berpuasa meskipun dia ingin sekali puasa. Mereka diwajibkan untuk meng- qodho puasanya. (Fiqhus Sunnah, I ; 375).

Mengapa kaum wanita yang sedang haid dilarang berpuasa? Banyak kaum wanita yang belum memahami masalah ini. Padahal larangan ini bukan untuk mendiskreditkan kaum wanita, tapi itu adalah rukhshoh (keringanan  dari Allah SWT). Pada saat haid, wanita sedang mengalami gangguan. Secara fisik mereka lemah dan pikirannya tidak bisa konsentrasi penuh. Bahkan bisa terjadi keluhan berupa rasa sakit dan mual-mual. Karena itulah Islam melarang kaum wanita yang haid berpuasa.

Bagi wanita yang haid atau nifas, diharuskan meng-qodho’ (mengganti) puasanya setelah Ramadhan sampai batas sebelum datang Ramadhan berikutnya. Bila sampai Ramadhan berikutnya belum mengqodho’ maka selain tetap berkewajiban meng-qodho puasa, dia harus membayar fidyah 1 mud atau 6 ons beras setiap harinya.

Memperlambat haid agar bisa berpuasa

Bagi wanita memang sungguh berat meninggalkan puasa Ramadhan. Mereka inginnya melaksanakan puasa sebulan penuh tanpa kedatangan tamu tak diundang. Tetapi kodrat mereka memang seperti itu. Siklus menstruasi tidak bisa dihindari. Cuma seiring dengan kemajuan jaman, para ilmuwan telah berhasil membuat obat yang bisa memperlambat datangnya haid.

Bagaimana Islam menyikapi wanita yang mengkonsumsi obat untuk memperlambat datang bulannya agar bisa terus berpuasa selama Ramadhan?

Mengkonsumsi obat sejauh tidak membawa dampak negatif (berbahaya) memang tidak dipermasalahkan. Puasanya dianggap tetap sah, karena dia berpuasa dalam keadaan suci. Hal ini berdasarkan kaidah “sesuatu yang tidak dijelaskan status hukumnya oleh dalil agama, apabila bermanfaat hukumnya diperbolehkan, jika berbahaya dilarang”. (Qurrotul ‘ain Bi Syarah Waraqat al-Haramain, hal 55)

Meski demikian, mengikuti siklus haid secara alamiah tentu lebih baik dan lebih aman.

Ada sesuatu yang harus diperhatikan oleh kaum wanita bahwa meninggalkan puasa karena haid untuk mentaati perintah agama adalah berpahala. Demikian pula seorang perempuan yang berniat ingin puasa tapi sedang mengalami haid, Insya Allah niat baiknya akan dicatat oleh Allah SWT.

Wanita yang hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa.

Allah telah mewajibkan puasa kepada orang-orang mukmin, tetapi Allah tidak ingin memberikan beban yang memberatkan kepada umatnya. Untuk itu Allah memberikan rukhshoh (keringanan) bagi orang tertentu untuk tidak berpuasa.

Di antara orang yang diperbolehkan tidak berpuasa yaitu orang yang sakit, musafir, orang yang sudah tua renta termasuk wanita yang hamil dan menyusui.

Wanita yang hamil dan menyusui diperbolehkan berbuka puasa karena mereka membutuhkan gizi yang banyak. Kekurangan makanan dan minuman selama berpuasa dapat mengurangi kadar gizi dan ASI ibu yang akhirnya membawa dampak kurang baik bagi janin dan anaknya.

Kebolehan ini sesuai dengan kaidah fikih “Dar’ul mafaasid muqoddam ‘alaa jalbil masholih”, bahwa menghindari mafsadat (kemudharatan) lebih diutamakan daripada mendapatkan mashlahah. Tetapi keringanan ini jangan dipermudah, artinya ibu tetap berlatih agar bisa berpuasa dan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui kondisinya.

Bagi wanita hamil dan menyusui yang meninggalkan puasa, menurut Imam Syafi’i dilihat dulu alasannya. Jika berbuka puasa karena mengkhawatirkan kesehatan anaknya saja maka ia berkewajiban meng-qodho puasa dan membayar fidyah (denda satu mud yaitu 6 ons beras) per hari. Tetapi jika ia mengkhawatirkan dirinya dan anaknya maka ia hanya berkewajiban meng-qodho puasa tanpa membayar fidyah. (Fiqh Sunnah, I : 372). Dalam hal ini yang lebih tahu adalah si ibu sendiri atau sesuai dengan pendapat ahli medis.

Membaca al-Qur’an dan berdzikir bagi wanita yang haid atau nifas

Sebagaimana kita ketahui bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa dimana Allah memberikan pahala ibadah berlipat ganda dibanding bulan selain Ramadhan. Selain ibadah puasa semua amal ibadah termasuk yang sunnah seperti membaca Al-Qur’an atau berdzikir sangat dianjurkan.

Tetapi bagi orang-orang yang sedang haid/nifas atau berhadast besar (junub) tidak diperbolehkan membaca al-Qur’an. “Janganlah orang junub dan haid membaca sesuatu dari Al-Qur’an” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Tetapi jika membacanya diniati dzikir maka hukumnya diperbolehkan tetapi pahalanya bukan pahala membaca Al-Qur’an. Sehingga orang haid membaca basmalah, hamdalah atau membaca inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun  diperbolehkan walaupun bacaan itu ayat al-Qur’an, tetapi ia membacanya sebagai do’a atau dzikir. (al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu, I: 538, As-Syarqowi, I : 85)

Hal ini berarti membaca dzikir atau do’a-do’a yang lainnya tetap diperbolehkan, sehingga wanita haid atau nifas tetap bisa meraih pahala yang melimpah melalui dzikir.

Sedangkan niat tadarus pada saat haid tidak dapat dibenarkan karena sangat sulit mengatakan seseorang tadarus diniati berdzikir, sebab sejak awal sudah terlintas keinginan untuk tadarus al-Qur’an.

1 of 1

Comments are closed.