0 views

Berlomba Meraih Surga

0

Diterangkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW keluar rumah pagi-pagi buta, selepas shalat shubuh. Sementara Juwairiyah masih berada di tempat sujudnya. Wanita ini berasal dari Bani Mustaliq. Nama aslinya adalah Barrah. Ketika Rasulullah SAW menikahinya maka diubahlah nama tersebut dengan Juwairiyah.

Ketika waktu dhuha, Rasulullah SAW kembali dan Juwairiyah masih saja ditempatnya semula dalam keadaan duduk. Maka Rasulullah SAW bertanya, “Apakah engkau dalam keadaan seperti itu semenjak aku meninggalkanmu tadi shubuh?” Jawabnya, “Benar”. Nabi SAW bersabda, “Setelah aku meninggalkanmu tadi, aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali, yang apabila dibandingkan dengan apa yang engkau baca sejak permulaan hari ini tentu akan sebanding, yaitu: subhanallahi wabihamdihi ‘adada kholqihi, wa ridho nafsihi, wa zinata ‘arsyihi wa midaada kalimaatihi. Artinya: “Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sejauh keridhaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya’ (HR Muslim (HR. Muslim)

Berlomba Kebaikan

Berlomba-lomba dalam kebaikan merupakan sikap utama dan sangat dianjurkan oleh Allah SWT sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’anul Karim. Dan bagi setiap ummat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan”. (QS. Al-Baqarah : 148).

Wanita muslimah yang baik adalah yang mampu memanfaatkan hari-harinya untuk beramal baik. Setiap kegiatan hendaknya di dasari dengan niat ibadah dan ikhlas. Hari ini ada kesempatan beramal, ada harta untuk diinfaqkan, maka jangan menunggu besok pagi. Hari ini ada kesempatan berbuat baik kepada sesama, menolong, beramar makruf dan nahi munkar maka segera laksanakan.

Ketahuilah bahwa kesempatan tidak akan bisa diulang. Kesempatan sekarang tidak akan kita jumpai di hari esok. Karena itu, tepatlah jika seorang penyair merangkai kalimat demikian:

Tidak dalam setiap saat dan waktu, engkau siapkan kebaikan, jika memungkinkan, cepat-cepatlah engkau ke sana, menjaga halangan dari kebaikan.

Wanita muslimah seharusnya pandai menimbang-nimbang antara perbuatan mana yang bermanfaat, yang bernilai bagi ketaatan dalam ibadah. Selama itu perbuatan baik, bermanfaat bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi agamanya, maka jangan menunda-nunda untuk dikerjakan. Sebagaimana halnya Juwairiyah yang disebutkan dalam hadits tersebut, “Sementara dia (Juwairiyah) masih berada di tempat sujudnya,” yaitu tempat sholat yang berada dirumahnya.

Kalimat yang diajarkan Nabi SAW tersebut mengandung suatu kemuliaan dan memiliki banyak fadhilah apabila diamalkan tak terkecuali bagi para kaum hawa. Membaca atau mengucapkan kalimat tersebut tidaklah membutuhkan waktu dan tenaga yang berarti. Tetapi pahala yang dijanjikan Allah SWT sangat luar biasa besarnya. Pernyataan ini telah banyak diulang-ulang dalam berbagai riwayat, misalnya pada hadis riwayat An Nasa’Ii dan At Tirmidzi. Orang yang mengucapkan kalimat tersebut lebih ringan dari pada harus mengulang-ulang sejumlah bilangan tersebut. Ini merupakan wujud kasih sayang Rasulullah SAW kepada ummatnya dengan menunjukkan sesuatu yang lebih ringan bagi mereka, namun mereka telah mendapat pahala yang besar.

Syekh Izzudin bin Abdus Salam berfatwa: Dzikir itu terkadang ada yang lebih utama dari dzikir yang lain karena kandungannya berlaku umum dan telah mencakup semua amalan baik secara sirrih maupun jahri. Oleh karena itu, jika kita mengharapkan pahala yang besar maka hendaknya membiasakan amalan dzikir tersebut baik siang maupun malam. Membiasakan amalan tersebut, dengan izin Allah kita akan dihimpun bersama orang-orang yang baik di dalam surga Allah SWT kelak. Amin.

Comments are closed.