Adab Suami IsteriKeluarga

Berkorban demi Kebersamaan

Betul kata pepatah, lain ladang lain belalang, lain kepala lain pula isinya. Setiap orang punya pendapat dan pandangan sendiri-sendiri. Jangankan pandangan, wong warna kesukaan saja bisa berbeda. Yang satu sukanya warna kuning, yang satu warna hijau. Jangankan pendapat atau prinsip, lha wong selera makan saja bisa tidak sama.  Yang satu sukanya pedes, yang lain sukanya yang manis-manis.

Tentu saja, perbedaan dalam pandangan, pendapat bahkan prinsip sangat mungkin bisa terjadi dalam sebuah keluarga. Suami ingin ke utara, istri maunya ke selatan. Suami ingin ke pengajian, istri maunya ke pusat perbelanjaan, atau sebaliknya.  Lalu, apa yang harus dilakukan masing-masing suami istri, anak dan orangtua serta menantu dan mertua agar perbedaan pandangan tidak membuat keluarga berantakan. Salah satu caranya adalah dengan sikap mengalah, alias berkorban. Selama tidak berkaitan dengan prinsip agama, kita dianjurkan untuk mendahulukan kepentingan orang lain.

Tidak perlu memaksakan pendapat atau kehendak diri sendiri. Lha kalau memaksakan pendapatnya yang harus dituruti semua ya repot. Misalnya, suatu masalah cari calon pendamping untuk anak. Wah,  ini kalau nggak dihadapi dengan bijak bisa tewur alias ruwet terus-terusan. Anaknya keukeuh (maksa) ingin nikah dengan laki-laki idamannya. Kenalan di kampus atau di tempat kerja. Pokoknya harus, tidak mau yang lain. Sementara bapak dan ibunya tidak setuju. Mereka sudah punya calon yang menurut pandangan mrreka sudah cocok dan jos. Ini kalau tidak ada yang mau mengalah atau berkorban demi kemashlahatan keluarga dalam jangka panjang, maka bisa jadi akan terjadi perang dingin dan keretakan dalam hubungan orangtua dan anak. Si anak ngambek karena tidak dituruti. Orangtua juga marah karena merasa tidak dihormati oadahal sudah merawat dan membesarkan anak-anaknya dengan segala perngorbanan.

Baca Juga : Dapatkah kita bertemu dengan anak istri kita disurga?

Belajar Berkorban

Oleh karena itu, maka masing-masing harus berlapang dada. Mau bemusyawarah dan mendengarkan pendapat dan alasan orang lain. Jangan memaksakan kehendak, jangan punya prinsip pokoknya harus ini, pokoknya harus itu. Kita ini harus bersikap bijak dan luwes. Pertimbangannya jangan hanya nuruti nafsu dan kepentingan pribadi, tapi demi kemashlahatan bersama. Semua harus punya prinsip, “Pendapat saya ini yang terbaik, tapi mungkin juga bisa keliru. Sedang pendapat orang lainpun itu keliru, tapi bisa juga baik”.

Sebagai seorang suami, meski sebagai kepala keluarga tetap harus mau mengalah. Pun sebaliknya sebagai istri, juga harus pandai-pandai mengalah. Sebagai orang tua, seorang Bapak atau Ibu juga harus mendengarkan isi hati putra putrinya, memahami keinginan mereka. Tapi bukan berarti harus menuruti semua kemauannya. Sebaliknya, seorang anak jangan memaksakan keinginannya pada orang tua. Jangan punya alasan, kan saya yang merasakan. Orang tua tentu lebih berpengalaman dan punya pertimbangan yang dalam. Apalagi kalau sampai mengorbankan perasaan orang tua hanya demi menyenangkan kekasihnya. Apa sih yang sudah diberikan orang yang dia cintai itu. Wong belum karuan baik luar dalamnya. Sedangkan orang tua sudah mengorbankan semua kemampuannya untuk anak-anaknya. Mulai mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan sampai menyekolahkan. Masak, dikorbankan hanya untuk membela orang yang dicintai. Apa nggak keliru dan terlalu.

Nah, dalam posisi seperti ini, harus ada yang mau berkorban dalam arti mengalah. Tentunya setelah  bermusyawarah. Mengalah ibarat air yang memadamkan kobaran api. Dengan mengalah maka situasi yang panas menjadi dingin kembali. Selain itu, mengalah juga  bisa memulihkan hubungan sehingga tetap terjaga dengan baik. Demikian juga dalam masalah-masalah yang lain. Masing-masing suami istri harus siap untuk berkorban demi kemashlahatan bersama. Bisa jadi apa yang kita anggap terbaik, sebenarnya tidaklah baik. Demikian juga, tidak selamanya yang diklaim seseorang itulah yang terbaik. Musyawarahkan setiap masalah, ketika tidak ada titik temu disanalah ada pintu untuk mengalah. Mengalah demi kebaikan yang jauh lebih besar.

Tags
Show More

Related Articles

Close