Berkah Mengikuti Sunnah Nabi

Disebutkan dalam sebuah riwayat, ada seseorang yang buta, namun orang tersebut sangat mengutamakan shalat jamaah. Ia ingin selalu berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah. Suatu ketika ia berangkat ke masjid untuk berjamaah tanpa ada yang menuntun. Iapun terjatuh di tengah perjalanan menuju masjid. Kepalanya terluka. Orang-orang yang melihatnya membawa orang shaleh tersebut pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumahnya istrinya menasehati setengah memarahi,  “Lha wong shalat jamaah itu tidak wajib, apalagi kamu ini buta. Jangan memaksakan diri ke masjid. Kalau tidak ada yang nuntun kan jadi celaka seperti ini.”

Orang tersebut menjawab, “Kalaupun Allah SWT telah mengambil cahaya pandangan mataku, tapi Allah masih memberikan penglihatan dalam mata hatiku. Maka aku tidak akan putus-putus untuk terus shalat berjamaah. “

Kemudian pada malam harinya, orang shaleh tersebut mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Beliau bersabda kepada orang tersebut, “Kenapa kamu bertengkar dengan istrimu?”. Orang tersebut menjawab, “Ini disebabkan karena saya ingin menjalankan sunnah panjenengan, (shalat berjamaah) sementara istri saya tidak berkenan, (karena saya ini tidak bisa melihat)”. Kemudian Rasulullah SAW mengusap wajahnya dengan tangan beliau yang mulia. Maka penglihatan orang tersebut kembali normal, bisa melihat.

Orang yang mimpi bertemu Rasulullah itu  seperti benar-benar bertemu beliau. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Man roa-ni fil manaami faqad roa-ni, fa innas syaithana laa yatamattsalu bi. Artinya: Barang siapa bermimpi melihatku dalam tidurnya, maka sesungguhnya dia benar-benar melihatku; karena setan itu tak dapat menyerupai bentukku. (HR. Muslim)

Orang tersebut sembuh berkah Rasulullah serta berkah mengikuti sunnah-sunnah kanjeng Nabi Muhammad SAW. Semoga Allah SWT memberikan taufiq kepada kita semua agar bisa menjalani shalat berjamaah serta ketaatan-ketaatan.

Baca Juga : BERAPA PERSEN SHALAT YANG DITERIMA ALLAH?

Shalat dan Wirid

Setelah shalat berjamaah, hendaklah kita melanjutkan dengan berdzikir atau wiridan. Membaca istighfar, tasbih, tahmid, takbir dan dzikir yang biasa dibaca termasuk membaca tahlil. Jangan sampai berbincang-bincang terlebih dahulu. Kalau wiridnya diselingi pembicaraan, maka  menjadi terputus hubungan antara shalat dan wiridan.

Dalam membaca wirid hendaknya tetap menghadap qiblat dan menjaga muraqabah (seakan-akan) menyaksikan Allah dengan mata hati. Merasa bahwa Allah ada di hadapan kita.  Inilah yang disebut dengan ihsan. Beribadah dengan seakan-akan melihat Allah.

Hati manusia itu bisa berkarat sebagaimana berkaratnya. Maka membersihkan hati yang berkarat dengan berdzikir. Setelah kotoran hati itu rontok dengan panasnya energi dzikir, kemudian muncullah cahaya (nur). Salah satu dzikir yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW adalah kalimah tayibah la ilaaha illallah.

Disebutkan, bahwa Sayyidina Ali meminta ijazaah dzikir yang istimewa. Maka Rasulullah memerintahkan untuk membaca La ilaha illallah. Sayyidina Ali mengatakan, kalau ini kan sudah dibaca semua orang.  Sayyidina Ali menginginkan yang istimewa belum dibaca oleh orang lain.

Lalu kata beliau, kalau kalimat laa ilaha illah ini ditimbang dengan langit dan bumi, maka masih berat bobot la ilaaha illah. Setelah itu beliau mantap membaca kalimat thayyibah tersebut sebagai afdhaluddzikri (sebaik-baik dzikir). (media ummat)