1 views

Berdusta Atas Nama Nabi SAW

0

Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam.

Dalam khazanah perkembangan Islam, muncul hadits-hadits palsu (maudhu’). Banyaknya hadits-hadits palsu disebabkan berbagai faktor. Di antaranya, fanatisme kelompok. Upaya orang-orang munafik untuk merusak Islam dan lain sebagainya. Untuk memilah hadits shahih dan hadits palsu para ulama kemudian menyusun ilmu musthalah hadits. Mengklasifikasi hadits lalu menyusun kriteria hadits, misalnya hadits shahih, hadits dha’if dan hadits maudhu’.

Salah satu hal penting dalam menilai sebuah hadits adalah bersambungnya sanad (mata rantai) periwayatan. Sanad memang sangat penting, bukan hanya dalam bidang hadits tapi juga ilmu agama yang lain. Tidak heran apabila Syekh Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengungkapkan perkataan yang terkenal: “Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Juz I, halaman 12)

Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya. Oleh karena itu, penting sekali bagi ummat muslim untuk memilah hadits-hadits, antara yang shahih dan yang maudlu (palsu), agar diketahui amalan mana yang seharusnya diamalkan karena memang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW telah memberikan peringatan bagi siapa saja yang membuat kepalsuan atas nama beliau. Disebutkan dalam hadits shohih, beliau bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempatnya di neraka” (Hadits Mutawatir riwayat Bukhari dan Muslim)

Baca Juga : AGAR LULUS JADI MANUSIA

Para ulama’ ahli hadits telah menerangkan keadaan sebagaian besar hadits-hadits itu, baik itu shahihnya maupun dha’ifnya. Dan menetapkan dasar-dasar ilmu hadits, membuat kaidah-kaidah ilmu hadits. Barang siapa mendalami ilmu-ilmu itu dan memperdalam pengetahuan tentangnya, dia akan mengetahui derajat suatu hadits, walaupun hadist itu tidak dijelaskan oleh mereka. Yang demikian itu adalah (dengan) Ilmu Ushulul Hadits atau Ilmu Musthala Hadits.

Allah SWT telah memberikan kemudahan kepada hamba-Nya membedakan hadits palsu dan hadits shohih dari Rasulullah SAW melalui Imam-Imam ahli hadits dari kitab-kitab yang mereka susun di antaranya adalah kutubusittah (kitab 6 Imam ahli hadits) yang memuat hadits-hadits shahih saja dan kumpulan-kumpulan hadits palsu yang dibukukan oleh ulama muhaditsin. Seperti Kitab Al-La ali’ al-Mashnu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah, karya al-Hafidz Jalaluddin ash-Shuyuti. Dengan memahami mana hadits shohih dan mana hadits palsu para guru maupun santri diharapkan paham tentang derajat hadits yang dapat dijadikan hujjah / hadits shohih, dan hadits batil yang tidak dapat dijadikan hujjah.

Akan tetapi kami melihat mereka  “dengan rasa prihatin”, telah berpaling dari membaca kitab-kitab yang tersebut di atas, mereka tidak tahu keadaan hadits-hadits yang mereka hafalkan dari guru mereka, atau yang sekedar meraka dapat dari internet tanpa mengetahui  hadits-hadits yang shahih atau maudhu’ oleh karena itu hampir-hampir kita mendengarkan suatu nasihat dari beberapa penceramah di berbagai pengajian dari salah seorang ustadz atau khutbah dari seorang khathib palsu disampaikan, dan ini adalah perkara yang membahayakan.

Maka dari itu untuk membangun agama pemikiran yang kuat sudah saatnya kita bisa dan pandai memilah atau memilih suatu berita.

Bagaimana caranya ? Tidak lain dan tidak bukan yaitu dengan mencari ilmu karena hanya dengan ilmu dan keihlasan kita dalam mencarinya semua akan tampak jelas dan kita dapat memilah antara mana berita yang baik dan buruk. Semoga kita selalu dalam lindungannya.

 

Comments are closed.