Berapa Persen Shalat yang Diterima Allah?

0

KH. M. Baidhowi

Shalat merupakan ibadah yang paling utama bagi ummat Islam. Namun, kenyataanya masih banyak ummat Islam yang belum mau melaksanakan shalat. Sementara, yang sudah melaksanakan shalat, juga masih banyak yang shalatnya sekedar menggugurkan kewajiban. Banyak di antara kita ketika shalat tidak memperhatikan adab dan kualitas shalatnya.

Perlu kita sadari, bahwa shalat  merupakan ibadah yang sangat spesial. Karena dengan shalat kita sedang menghadap Raja Diraja. Sang pemilik alam semesta. Dzat yang Maha Agung. Mari kita renungkan, bagaimana keadaan kita ketika melaksanakan shalat. Sudahkah kita menyadari dengan segenap jiwa raga, kepada siapa kita  menghadap ketika shalat.

Ketika kita akan menghadap pejabat, kita mempersiapkan diri sedemikian rupa. Pakaian dipilih yang paling baik. Sebelum waktu pertemuan sudah bersiap-siap. Kita takut membuat pejabat yang akan ditemui kecewa. Atau kita tidak ingin ditolak oleh pejabat tersebut.

Lalu bagaimana dengan pertemuan dengan Sang Serba Maha. Kita seringkali  menyepelekan pertemuan agung dalam shalat. Pakaian seadanya, kadang kusut dan kurang patut.

Lalu dalam melaksanakan shalat, kita sering melakukan sekenanya. Kurang memperhatikan sunnah-sunnah dan adab-adab yang menjadi syarat kesempurnaan shalat. Sekaligus menjadi syarat diterimanya shalat oleh Allah SWT.

Keagungan Allah mestinya hadir dan berada di hati kita. Dengan begitu, kita tidak akan main-main dalam melaksanakan shalat. Bukankah tidak ada orang yang bermain-main saat menghadap dan berbicara dengan seorang raja atau presiden. Dalam shalat seseorang menghadap Allah, Maharaja yang Mahasuci Mahasempurna Mahakuasa Mahaagung, Mahamulia dan maha Segalanya.

Baca Juga : BELAJAR DARI SIFAT MALU FATIMAH BINTI RASULILLAH

Khusyu’ berarti hadirnya hati di hadapan Allah SWT, sambil mengkonsertasikan hati agar benar-benar merasa dekat kepada Allah SWT. Shalat  kondisi seperti ini akan membuat hati tenang, gerakan-gerakan thuma’ninah, serta menjaga adab di hadapan Allah Yang Maha Agung. Dengan demikian, kita insyaallah bisa menjaga  konsentrasi terhadap apa yang kita ucapkan dan yang kita lakukan dalam shalat dari awal sampai akhir. Jauh dari was-was dan pemikiran duniawi. Ini merupakan ruhnya shalat. Shalat yang tidak ada kekhusyukan adalah shalat yang tidak ada ruhnya.

Bandingkan dengan kita, saat shalat pikiran kita melayang kemana-mana. Wajahnya menghadap ka’bah, tapi hati dan pikirannya entah kemana. Padahal Rasulullah SAW telah memberikan peringatan , bahwa banyak ummat manusia yang tidak mendapat pahala shalatnya. Ia hanya mendapat kepayahan dan keletihan. Rasulullah SAW Bersabda :  “Betapa banyak orang yang mengerjakan shalat namun ia hanya mendapatkan lelah dan capek dari shalatnya itu.’ (HR. ad-Darimiy, Ahmad dan Ibnu Majah)

Yang diterima Allah hanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba selesai dari shalatnya dan dia tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, atau setengahnya,”. (Musykilul atsar).

Demikian pula, disebutkan dalam riwayat yang lain. Shalat yang aka diterima Allah adalah bagian shalat  yang dia ingat atau sadari. Bisa saja hanya 80 %, 50 %, 20% bahkan hanya 5% saja. Sebagaimana dawuh kanjeng Nabi SAW, “Sungguh seorang hamba shalat dengan satu shalat, tidak ditulis baginya (pahala) seperenam atau sepersepuluhnya. Namun shalatnya ditulis apa yang dipahaminya,”  (Hilyatul auliya’).

Beliau juga bersabda, “Seorang hamba tidak mendapatkan bagian shalat kecuali bagian yang dia berakal pada saat mengerjakannya”.  Misal saat sujud saja dia mengingat Allah SWT maka pahala yang diterimanya adalah pahala untuk sujud , misal dalam melaksanakan shalat hanya khusyu’ saat ruku’ maka pahala yang didapat adalah pahala ruku’ saja.

Salah satu upaya agar shalat kita menjadi utuh pahalanya adalah dengan melaksanakan shalat berjamaah. (Media Ummat)

Comments are closed.