0 views

Bedanya Orang Ridho dan Tidak Ridho

0

Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, Solo

Allah SWT Yang Maha Mengetahui menempatkan kita pada suatu kondisi sesuai kehendak dan kekuasaan-Nya. Maka jangan minta kepada Allah ditempatkan pada tempat (kondisi) yang lain, sementara Allah sudah menempatkan kita pada suatu kondisi. Contohnya, Allah lagi ngasih panjenengan sakit, jangan ngarep-ngarep sehat. Allah lagi ngasih kita kondisi  kaya, jangan ngarep-ngarep melarat. Allah lagi ngasih kita kondisi melarat miskin, jangan mengangan-angan dijadikan kaya.

Nah, sikap hati seperti ini gampang atau susah? Tapi bib, apa tidak boleh punya cita-cita? Boleh, sangat boleh sekali. Doa minta sehat bib? Harus. Tapi, ini yang namanya derajat waliyullah, seperti yang dikatakan Ibnu Athoillah Assakandari.  Ibnu Athoillah mengajarkan kepada kita, apapun kondisimu, jangan minta berubah. Minta berubah, itu tanda tidak rela. Yang dimaksud minta ini bukan lisan, tapi hati kita.

Mohon maaf, orang sakit kok minta sehat, berarti sakitnya buat dia menyenangkan atau sangat tidak mengenakkan? Tapi, ada orang yang sakit, penyakit itu membuat dia malah bahagia, senang sekali. Kenapa dia tidak minta sehat? Karena dia dengan sakitnya bahagia sekali. Ada lho orang yang seperti ini, karena dia sudah seneng dengan kondisi sakit ini.

Orang kaya, ada lho orang-orang kaya itu mumet. Dikejar-kejar petugas pajak, atau orang yang minta pinjaman. Dikejar-kejar, akhirnya mumet. Sudahlah, saya pindah ke pesantren, sudahlah, saya pindah ke hutan buat rumah untuk melihara kambing, bebek atau ayam saja. Sudahlah saya jadi orang miskin saja, tidak mau mengurusi dunia. Begitu misalnya. Kenapa dia menganggap seperti itu? Karena dia mikir, kekayaannya itu beban yang luar biasa. Maka dia pingin jadi orang miskin, karena dia memandang orang miskin itu enak. Kenapa orang miskin itu enak?. Misalnya ni, bapak atau ibu punya uang dalam sebulan 700 Ribu, tapi kebutuhannya cuma 100 ribu. Sedangkan yang satu kaya, setiap bulan penghasilannya 500 juta, tapi kebutuhannya 1 Milyar dalam sebulan. Nah, jika anda disuruh memilih, anda pilih jadi dia yang tiap bulan atau jadi anda yang punya kebutuhan 100 ribu tapi punya uang tiap bulan 700 ribu. Silahkan berpikir.

Baca Juga : PEMIMPIN AGUNG YANG PEMAAF

Orang kaya tapi miskin, orang miskin tapi kelihatan kaya. Kan nggak cetho kan? Ada orang yang kelihatan miskin tiap bulan penghasilannya 700 ribu. Nggak ada kenaikan gaji, tapi tetep segitu. Tapi pengeluarannya cuma 100 ribu. Kenapa? Rumah nunut mertua. Listrik tidak ikut bayar, makan dijamu sama mertua. Motor pula dipinjemi kakak ipar. Ternyata pengeluarannya sepele, apa itu? Beli pulsa untuk handphonenya. Pengeluarannya Cuma 100 ribu. Satu bulan masih punya uang sisa tiap bulan 600 ribu. Saya mau nanya, orang ini kaya atau miskin? Kaya. Nah, yang punya penghasilan 500 juta tiap bulan tadi? Berarti kaya miskin itu sawang sinawang. Kelihatannya kaya ternyata miskin, kelihatannya miskin ternyata kaya.

Nah, orang yang model begitu, suka sawang sinawang itu salah. Kenapa? Karena hatinya tidak ridho tidak yakin dengan pilihannya Allah. Kalau orang sudah mengucapkan, rodliitubillaahi robba. Aku ridho Allah sebagai Tuhanku, Saya rela diatur sama Allah, saya rela diurus sama Allah. Nah, Allah mengurus kita, ternyata dengan cara kita dijadikan melarat. Nah, kalau orang tauhidnya sudah benar. Dia terima kemiskinan itu. Tapi dia tetap istiqomah berdoa sama Allah, “Ya Allah, berilah hamba rezeki yang berlimpah.” Tapi dia senang dengan kondisinya. Bukan seperti dengan satu orang yang seperti ini, sambat kepada Allah “Duh Gusti… sampai kapan saya ini melarat.”

Tahu kan bedanya kan? Yang satunya dia menerima dengan kondisinya, tidak ada keluh kesah. Karena dia tahu, yang memilihkan Allah. Ini berarti, anugerah dari Allah. Karena dia tahu yang ngasih Allah, ya dia nggak minta pindah. Kecuali, nanti yang mindah Allah.

Cuma, Allah tetap menugaskan kepada hamba-Nya untuk untuk berdoa untuk meminta. Meminta apa? Salah satunya adalah minta rezeki, kalau minta ya nggak nanggung-nanggung walaupun dia melarat, walaupun dia miskin, dia meminta kepada Allah, “Ya Allah, berilah hamba rezeki yang berlimpah datang dari segala arah, tanpa susah payah.” Tapi setelah meminta kepada Allah dengan segala kondisinya, hatinya tetap harus puas walaupun sekarang kondisinya masih melarat. Inilah kekasih Allah.

(Disarikan oleh Badrussalihin dari Pengajian Rutin Habib Novel Alaydrus tanggal 06 Mei 2016, di Majelis Ilmu dan Dzikir ar-Raudhah)

Comments are closed.