Adab Suami IsteriKeluarga

Beban Ganda Seorang Wanita

Problematika dalam keluarga memang selalu ada. Mulai yang ringan sampai yang sangat berat. Mulai urusan dapur sampai masalah di tempat tidur. Masalah juga bisa terjadi antara suami istri, atau orangtua dan anak.  Tidak jarang masalah rumah tangga berujung di pengadilan. Dan,  kadang juga berujung pada pembunuhan atau bunuh diri. Na’udzubillah.

Baru-baru ini masyarakat kembali disuguhi berita bunuh diri yang motifnya ditengarai akibat masalah keluarga. Adalah Evy Suliastin Agustin (26 tahun), warga Dusun Sambilanang, Desa Karobelah, Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang  tega mengajak ketiga anaknya bunuh diri dengan meminum cairan pembasmi serangga.

Kasus ini terkuak setelah Evy ditemukan dalam kondisi kritis di kamar mandi rumahnya, Dusun Karobelah 3, Desa Karobelah, Mojoagung, Jombang, Senin (15/1) sekitar pukul 22.00 WIB tahun 2016 lalu. Di kamar mandi tersebut, 3 anaknya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

Kasus ini akhirnya menyeret sang suami. Menurut berita yang beredar (wallahu a’lam) mereka telah menikah sirri dan dikaruniai tiga orang putra putri. Nah, belum lama ini sang suami menikah lagi, sehingga ia merasa kurang mendapat perhatian dan nafkah dari sang suami. Tidak tahan menghadapi situasi hidup yang sulit, apalagi suami tidak lagi memberi perhatian, ibu muda yang  kini meringkuk di tahanan polisi itu mencoba bunuh diri.

Perhatian dan Kasih Sayang

Banyak pelajaran dari kasus yang masih ditangani polisi ini. Seorang suami punya tanggungjawab besar dalam mengawal keluarganya. Mencukupi nafkah mereka, sandang pangan dan papannya. Kalau suami tidak memberi nafkah, maka akan terjadi ketimpangan. Maka pantas jika suami menyia-nyiakan keluarganya, dinilai telah berbuat dosa. Rasulullah SAW juga bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Daud-Ibnu Hibban)

Amanah tugas memberi nafkah ini sangat besar balasannya dari Allah. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda,

“Sedinar kamu diinfakkan di jalan Allah, sedinar kamu infakkan untuk memerdekakan budak, sedinar kamu sedekahkan kepada fakir miskin dan sedinar kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka pahala yang paling besar ialah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim)

Baca Juga : Antara Memilih Kerja dan Ikut Suami

Mengingat besarnya pahala yang akan diraih lantaran mencukupi nafkah keuangan, maka setiap suami hendaknya bersemangat untuk memebrikan nafkah yang terbaik untuk keluarga. Bukan malah membiarkan mereka keleleran.

Seorang istri yang tidak diberi nafkah, apalagi dia mengasuh anak-anak yang masih kecil tentu akan sangat terbebani. Bebannya ganda. Ya ngerumat anak-anak. Ya banting tulang cari uang. Dia tidak akan tega melihat anak-anaknya menangis kelaparan. Namun, dia sendiri kesulitan untuk mencari nafkah, karena masih harus merawat dan mengasuh anak-anaknya.

Dalam perihal berkehidupan, memang dipandang  kurang bermoral suami yang tega membiarkan istrinya tanpa nafkah dan kasih sayang. Nafkah adalah sebuah kewajiban yang memang harusdipenuhi, setali tiga uang kasih sayang pun juga perlu. Kalaupun nafkah tetap diberikan, dikirimi setiap bulan, namu jika tanpa disertai perhatian dan kasih sayang tentu akan terasa hampa. Perhatian dan kasih sayang kadang justru yang lebih dibutuhkan, karena pada haikatnya berumah tangga adalah membentuk keluarga yang diridhoi Alloh dengan dasar kasih sayang. Manusia bukan seperti hewan, asal diberi makan urusan beres. Manusia punya perasaan perlu sentuhan kasih sayang.

Memang tidak sedikit emak-emak super yang mampu survive alias bertahan meskipun banting tulang sendirian. Terutama ketika seorang wanita yang ditinggal mati suaminya atau diceraikan suami mungkin masih wajar.

Tugas seorang istri sangat berat. Merekalah yang mengandung dan melahirkan anak-anak dengan nyawa sebagai taruhannya. Menyusui, merawat dan membesarkan anak-anak dengan segala kepayahannya. Belum lagi urusan beres-beres rumah yang seperti tidak ada ujungnya. Maka, beban mereka janganlah ditambahi lagi dengan urusan nafkah. Apalagi fisik mereka yang lelah itu ditambahi psikis yang berat. Hati mereka disakiti dengan sikap suami yang maunya enak sendiri. Ketika masalah menumpuk, jika iman tidak kuat bisa berbahaya. Na’udzubillah. (*)

Tags
Show More

Related Articles

Check Also

Close
Close