Bahaya Makan Riba

0

Keadilan sosial, hukum, politik, ekonomi dalam islam sangat prinsip sekali. Dalam islam manusia itu sama, mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam politik, sosial, maupun ekonomi. Oleh karena itu, islam juga menginginkan agar masalah ekonomi juga berdasarkan atas prinsip keadilan. Misalnya dalam suatu transaksi harus ada unsur An-Taraadin (saling merelakan dan menerima). Prinsip An-Taraadin itu bisa melahirkan adanya tanggung jawab yang sama, peluangnya juga sama, peluang mendapatkan keuntungan, bisa menerima dan bisa menolak (tawar-menawar), intinya bisa tercipta suatu transaksi yang diharapkan dalam tuntunan ajaran islam.

Suasana bisnis yang seperti itu nantinya diharapkan bisa mendorong semua pihak untuk berkreasi, berkembang tanpa ada yang menekan atau menghalangi. Ini sangat berbeda dengan sistem ekonomi yang tidak berkeadilan, misalnya hanya kelompok tertentu saja yang berkembang dan yang lain tidak berkembang. Oleh karena itu pula, maka praktek riba dilarang. Mengenahi larangan riba, dalam Al-Qur’an disebutkan : “Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.(QS: Al-Baqarah : 275) Demikian juga dalam ayat yang lain  “hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.(QS: ‘Ali Imran : 130)

Kalau kita berfikir lebih dalam, praktek riba itu memang membunuh (perekonomian) antar sesama, akan tetapi dalam jangka panjang dan bersifat halus, perlahan-lahan. Riba itu berasal dari pihak orang kaya yang memanfaatkan kesempatan untuk memberi tekanan (ngakali: jawa) pada si miskin. Misalnya, kalau si miskin membutuhkan uang lalu pinjam kepada si kaya, maka si kaya menggunakan kesempatan ini untuk memberi tekanan pada si miskin dengan jalan meminjaminya uang akan tetapi dalam setiap bulanya si miskin harus membayar bunganya sekian rupiah. Orang miskin, karena membutuhkan biaya dan selain itu tidak ada usaha yang lain.

Dalam pelaksanaanya pun, riba ini tidak ada unsur keadilan. Si pemegang modal tidak mau tahu, pokoknya harus mendapatkan keuntungan sekian persen, tidak peduli pengusaha kecil itu rugi atau untung. Praktek seperti ini tidak boleh karena tidak adanya unsur keadilan. Bagaimanapun peminjam modal juga punya andil dalam mengembangkan modal tersebut. Kalau sang pemegang modal punya andil berupa uang sementara pengusaha punya andil berupa keahlian. Lazimnya dari keduanya mempunyai peluang yang sama, kerugian atau keuntungan ditanggung bersama.

Baca Juga : BAHAYA MENGINGKARI AMALIYAH ULAMA

Inilah yang dinamakan mudharabah (saling membantu). Kalau transaksinya seperti ini, diperbolehkan karena ada unsur keadilan. Islam sangat menghargai ilmu, ketrampilan, tenaga dan kecakapan, dan kalau semua ini dihargai oleh islam, maka modalpun juga harus dihargai. Ketika modal dan beberapa kecakapan dan keahlian dipadukan menjadi satu, maka dalam tahap akhir yakni pembagian hasil usaha, untung atau rugi juga harus sama. Pepatah mengatakan “ringan sama dijinjing berat sama dipikul”.       Kalau sistem riba adalah kebalikan dari sistem ini. Hal seperti ini kurang bisa memotivasi masyarakat miskin untuk berkembang, sehingga yang miskin terus miskin dan yang kaya semakin kaya. Karena riba itu merusak, tidak ada unsur keadilan, dan menyebabkan bertindak semena-menanya si kaya terhadap si miskin, maka islam melarang riba, melaknat riba. Sabda Nabi Muhammad SAW : “Allah SWT melaknat praktek riba, orang yang makan riba, yang menyajikan riba, menulis riba, dan saksi riba sedangkan mereka mengetahuinya”.(HR:At-Thabrani) dari Ibnu Mas’ud (Al-Jami’ Ash-Shaghir/7256)

Intinya riba itu harus ditentang. Dan seharusnya, pihak pemerintah atau pihak bank harus menjelaskan semua biaya yang diperlukan guna berjalanya program sebuah bank. Misalnya untuk biaya operasional, gaji para karyawan, membayar listrik dan lain sebagainya. Inilah yang dikehendaki islam, yakni, adanya kejelasan semua hal yang berkaitan dengan masalah ini agar bisa saling menerima.

Misalnya, ketika pihak bank memberi pinjaman uang sekian kepada pegawai, bank harus menjelaskan : “bank tidak meminta bunga dari masyarakat, bank hanya ingin masyarakat itu membantu pihak bank agar tetap bisa berjalan memberi modal kepada masyarakat, sebab bank juga membutuhkan uang sekian untuk menggaji para karyawan, biaya operasional, dan bank butuh uang saving untuk jaga-jaga ketika ada peminjam uang melakukan hal curang, juga untuk mengantisipasi terhadap turunya nilai rupiah, mohon dari para nasabah dan lainya untuk membayar sekian, ini adalah bank kita bersama, untung dan ruginya mari kita tanggung bersama, mari kita besarkan dan kita kembangkan bersama-sama pula”. Kalau jelas seperti ini, maka tidak bisa disebut dengan uang riba.

Dengan modal seperti ini, masyarakat pun banyak yang melakukan usaha. Ketika masyarakat itu banyak yang berusaha, berkreasi maka ekonomi akan naik. Dan dari sini pendapatan Negara juga akan bertambah yakni dari sektor pajak dan sebagainya. Ketika Negara mendapat pendapatan yang banyak, maka diharapkan dari pihak pemerintah juga memberi penghargaan kepada bank yang berhasil mendistribusikan pinjaman kepada nasabah, para UKM yang sedang berkembang. Dari cara seperti ini pihak bank bisa memperoleh untung dari nasabah yang meminjam modal, dan pemerintah memberikan hadiah, penghargaan atau stimulus. Sedangkan masyarakat bisa mengembangkan usaha dengan lancar. Idealnya yang punya bank itu pemerintah, kalau yang punya bank itu pribadi-pribadi hanya akan mencari laba. Dan intinya riba itu dilarang dalam islam karena, pertama tidak adanya unsur keadilan, kedua bertentangan dengan prinsip An-Taraadin (saling merelakan).

Maka pantaslah apabila dalam hadis tersebut Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa makan riba termasuk golongan yang tidak akan menikmati, merasakan nikmatnya surga.

Comments are closed.