Antara Memilih Kerja dan Ikut Suami

0

Assalamu’alaikum. Wr. Wb. Saya sudah menikah sama suami saya baru empat bulan, tapi sebulan yang lalu suami saya sudah meninggalkan saya pulang ke rumah orang tuanya. Semenjak dia pulang, dia berubah total. Saya sudah tidak diperdulikan, sampai mengancam saya karena saya tidak mau ikut pulang ke rumah mertua saya. Alasan saya belum bisa pindah ke sana karena saya masih punya pekerjaan yang belum bisa saya tinggalkan, saya hanya meminta pengertian suami saya saja, tetapi suami dan orang tua saya tidak mau tau, yang mereka ketahui istri harus ta’at (nurut) suami. Kata-kata itu terus yang selalu mertua saya katakan, sampai suami saya rela minta cerai dari saya. Saya harus bagaimana? Apa saya salah saya cuma minta pengertian dan kesabaran suami saya untuk bisa mutasi ke kota asal suami saya? Mohon jawabannya. Terima kasih.

Jawab :

Wa’alaikumsalam. Wr. Wb. Dalam menjalankan rumah tangga memang harus arif dan bijaksana. Tidak egois dan memaksakan kehendak. Melihat pertanyaan ibu, ada dilema yang sedang dialami ibu. Antara kewajiban menaatai suami dan antara mempertahankan pekerjaan.

Baca Juga : SHALAWAT SETELAH MENYEBUT ALLAH

Untuk istri yang perlu dipertimbangkan adalah. Pertama, memang kewajiban istri itu harus ta’at dan patuh kepada suami. Sebaliknya, kewajiban utama bagi suami adalah mencukupi nafkah istri dan anak-anaknya. Akan tetapi keta’atan ini harus difikir secara jauh dan mendalam terutama melihat kondisi suami. Sebab suamipun jangan main paksa apalagi main ancam. Apa saudara sudah memberikan jaminan atas nafkah istri dan keluarga dengan memaksa istri berhenti bekerja

Ketaatan pada suami pada kasus yang ibu alamai tidak asal taat. Kalau memang pihak suami  siap mencukupi nafkah lahir dan batin, maka istri wajib menaatai suami untuk berhenti bekerja. Biarlah pekerjaan hilang, karena nanti ibu akan dicukupi kebutuhannya oleh suami.

Tapi, sebaliknya, jika suami tidak mempunyai pekerjaan atau punya pekerjaan tapi gajinya tidak menentu, sehingga jaminan hidupnya tidak pasti sedangkan gaji yang ditinggalkan itu sudah jelas pasti, maka dari sini kita bisa mempertimbangkan pilih yang lebih mashlahat. Meninggalkan pekerjaan permanen dan jelas-jelas mempunyai gaji atau ikut suami dengan segala resiko ekonomi.

Yang ibu lakukan sementara ini sudah bijak. Memohon pada suami dan keluarganya untuk bersabar selama masih proses mengajukan permohonan surat mutasi agar bisa ikut suami. Dan, memang suami seyogyanya juga bersikap bijak. Pahami niat baik istri membantu ekonomi keluarga. Dan, secara syariat tidak lama lagi kan bisa pindah bekerja di tempat yang dekat dengan rumah suami.

Comments are closed.