Allah Al-Lathif

Al-Lathif (yang Maha Lembut)

Makna kebahasaan Al-Lathif

Kata Al-Lathif berasal dari akar kata lathafa yang mengandung makna “lembut”, “halus”, “kecil”. Dari kata ini kemudian lahir makna “ketersembunyian” dan “ketelitian.”

Ibnu faris memaknai dalam dua arti: pertama “kelemahlembutan” (rifq); kedua berarti “kecil dan tersamar dari segala sesuatu”.

 

Allah Al-Lathif

Al-Lathif adalah salah satu Nama Allah yang maha Agung. Allah adalah Dzat yang Maha Lembut sehingga tidak tertangkap oleh indera. Hal ini, ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-An’am :103)

Djakfar Subhani dalam Ensiklopedia Asmaul Husna, pada Halaman 244 mengatakan bahwa Konsep kelembutan ini bisa diartikan bahwa: Dia menelusup ke dalam setiap dimensi eksistensi makhluk sebagaimana sesuatu yang sangat kecil akan menyebar ke segala titik. Dalam Al-Quran disebutkan:

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan), dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk :14)

Makna kata ini mengisyaratkan bahwa Allah SWT maha meliputi serta hadir dalam segala sesuatu, termasuk dalam dimensi dan aspek bathin.

Termasuk dalam makna Lathif adalah “kebaikan Allah terhadap hamba-Nya.” Yakni sifat Allah yang selalu memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Sebagai Contoh: Allah menyelamatkan Nabi Yusuf AS dari dalam sumur kering dengan cara mengirim musafir yang memungutnya, lalu membawanya ke keluarga bangsawan di kota. Allah juga menyelamatkan Nabi Yunus AS dari perut Ikan. Seperti halnya Dia juga menyelamatkan Nabi Ibrahim AS dari kobaran Api.

Kelembutan sikap Allah juga tercermin dari balasan-Nya terhadap semua kebijakan yang dilakukan manusia meski seberat biji sawi. Bahkan kebaikan yang hanya terlintas dalam hati (niat baik) seorang muslim – tanpa sempat terlaksana – pun akan membuahkan pahala di sisi-Nya. Sebaliknya, sebuah perbuatan buruk takkan langsung dikenai dosa, manakala baru terlintas dalam hati (belum terlaksana dalam perbuatan).

Baca Juga : SATU KALIMAT MERUBAH TUJUAN HIDUP

Pesan Sosial – Ekonomi sifat Al Lathif

Menghiasi Diri dengan Akhlak Mulia

Sifat lemah lembut merupakan akhlak mulia. Karenanya berlemah lembutlah dalam bersikap namun tetap tegas dalam menolak segala bentuk kebatilan. Sebab, menolak kebatilan pun semestinya dilakukan dengan cara yang tidak kasar

Menjadi Pribadi yang Pemurah

Seorang mukmin yang lembut, bersikap derma terhadap sesamanya yang membutuhkan. Kelembutannya juga menjadi kekuatan dalam dirinya untuk tidak terperdaya oleh hebatnya beragam tipu daya manusia

Menciptakan Kehidupan yang Damai

Sifat kelembutan yang dimiliki seseorang akan menjadi modal dalam meraih kedamaian hidup. Baik kedamaian hati secara pribadi maupun kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Ini bisa dilihat dari cara dakwah Rasulullah SAW.

 

Sumber Landasan Sikap dan Mental

Lemah lembut dalam berutur kata, namun tegas menolak atau mengatakan “tidak” pada segala bujuk rayu yang mengajak berbuat tercela.

Peka dalam merasakan penderitaan orang lain sehingga bergerak untuk segera dibutuhkannya. Bantuan ini bisa berupa hara, tenaga, ilmu, sesuai dengan potensi yang dimilikinya

Hati tidak tersentuh oleh rasa cinta pada dunia sehingga segala kecurangan dapat dihindari. Melimpahnya harta benda, tingginya jabatan, bersinarnya popularitas, tidak membuat silau mata hatinya

Menjadi pribadi yang damai dan mendamaikan. Hal ini tercipta karena dirinya dilimpihinya sikap pemaaf, tidak pemarah, pembenci atau pendendam, menunjukan rasa simpatik, menebar kasih sayang kepada sesama, bijak dalam menyikapi sesuatu.