Al-Qur’an dan Pendidikan Anak Sejak Dalam Kandungan

0

Banyak orang yang salah dalam memahami ajaran Islam tentang pendidikan (tarbiyah) bagi anak-anak. Diantaranya ada yang mengatakan bahwa yang paling penting bagi anak-anak adalah diajari tentang cara membaca al-Qur’an. Artinya yang diutamakan adalah pengajaran (ta’lim). Justru yang bisa dilakukan lebih dulu adalah proses pembentukan/pembersihan jiwa anak-anak (tazkiyah). Salah satu bentuk tazkiyah adalah mengakrabkan suara ayat-ayat al-Qur’an kepada mereka. Bahkan sejak dalam kandungan ibunya. Dengan cara memperdengarkan bacaan Al-Qur’an. Sejak dalam kandungan, janin sudah melewati proses belajar. Janin sudah mulai bisa mendengar dengan jelas pada usia enam bulan dalam kandungan. Sehingga, ia dapat menggerak-gerakkan tubuhnya sesuai dengan irama nada suara ibunya. Bahkan ada penelitian bahwa memperdengarkan musik secara teratur, terutama musik klasik bisa memacu kecerdasan anak.

Sebagai orang Islam, kita memiliki al-Qur’an yang ketika dibacakan pada janin akan memberikan dampak positif yang lebih dahsyat kepada kecerdasan anak. Maka ketika seorang istri hamil sebaiknya ia atau suaminya memperbanyak membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an di samping istrinya yang sedang duduk, atau bahkan istri mendengarkannya sambil tiduran, atau membaca Al-Qur’an di dekat perut sang istri sebagai salah satu bentuk tazkiyah (pembersihan dan pembentukan jiwa) kepada anak-anak. Banyak kisah yang membuktikan bahwa membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada anak-anak ketika dalam kandungan maupu ketika mereka masih bayi sangat berpengaruh pada kejiwaan anak-anak.  Ada anak-anak yang hafal Qur’an ketika umurnya masih 4 atau 5 tahun, karena sejak janin dan bayi selalu didengarkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Mari kita perhatikan do’a Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 129: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al kitab ( al quran ) dan al-hikmah (as-sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Baca Juga : IRI HATI : SIFAT ORANG RENDAHAN

Dalam do’a tersebut Nabi Ibrahim memohon rasul yang diutus itu membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al kitab (Al Quran) dan al-hikmah (as-sunnah) serta mensucikan mereka. Beliau mendahulukan kalimat mengajarkan (ta’lim) baru kemudian pembersiah jiwa  atau pensucian diri (tazkiyah).

Namun Allah SWT menjawab do’a Nabi Ibrahim tersebut dengan redaksi yang berbeda.

“Sungguh-sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Nya, mensucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab (Alqur’an) dan hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar di dalam kesesatan yang nyata.”  (QS. Ali Imran: 164).

Demikian juga pada ayat yang lain, Allah SWT berfirman, “Sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rosul kepada kalian, yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian, mensucikan kalian dan mengajarkan kepada kalian al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada kalian apa yang kalian tidak ketahui. (QS. al-Baqarah: 151)

Dalam kedua ayat tersebut Allah SWT menyebutkan kalimat penyujian jiwa lebih dahulu baru kemudian kalimat pengajaran (ta’lim). Hal ini memberi bukti bahwa dalam pembentukan manusia yang sempurna, jangan mengutamakan pengajaran tapi pembentukan jiwa dan pembersihan diri.  Dan itu bisa dimulai dengan mengenalkan bacaan Al-Qur’an pada anak-anak sejak dalam kandungan sang ibu. Marilah kita dekatkan al-Qur’an kepada anak-anak kita agar mereka memiliki jiwa yang bersih yang tentunya akan memudahkan mereka untuk memahami ajaran Islam. (Media Ummat)

Comments are closed.