Al-Qur’an atau Shalawat

0

Pada edisi yang lalu, Media Ummat mengupas kajian tentang mana yang lebih afdhol, membaca al-Qur’an atau shalawat. Berikut ini lanjutan kajiannya.

Membaca dzikir yang telah dikhususkan di suatu waktu dibanding dengan membaca Al Qur’an di waktu itu, tidak menafikan keutamaan subtansi Al Qur’an dibanding dengan dzikir-dzikir yang lain. Karena pahala ittiba’ kepada Rasulullah SAW itu lebih unggul daripada pahala membaca dzikir seperti yang difatwakan oleh Ulama’.

Hal ini disebabkan setiap dzikir yang telah Allah anugerahkan itu berfungsi sebagai penetralisir penyakit yang terpendam dalam hati setiap makhluk. Dimana penyakit itu disebabkan bertumpuknya hal selain Allah di dalam hamparan hati. Nah, dokter lebih tahu obat mana yang sesuai dan pas untuk menghancurkan penyakit hingga ke akar-akarnya. Dan Rasulullah adalah dokter terhandal dan ahli hikmah termulia. Oleh sebab itu, mengikuti Rasulullah lebih berguna daripada mengikuti imajinasi orang sembrono yang beranggapan bahwa imajinasinya itu lebih baik dengan hanya berdasar dugaan dan imajinasinya yang tidak maksum.

Orang yang menyimpang dari sunnah Rasulullah di dalam jalan ilmu, amaliyah, dzikir, methodology dakwah dan syariah Islam adalah orang yang terhalang dari rahmat Allah, celaka, sesat dan menyesatkan, serta meninggalkan ittiba’ Rasulullah dan berpegang pada bid’ah. (Dakhirotul Ma’ad)

Dari sudut pandang ini, sebagian ulama berkata bahwa membaca shalawat kepada Rasulullah untuk orang-orang fasik itu lebih utama daripada membaca Al-Qur’an karim. Karena shalawat adalah suatu perkara yang bisa memberi syafaat baginya dalam meluapkan ridho ilahiyyah, menghapus dosa-dosanya, dan memasukkannya ke dalam golongan para penikmat kebahagiaan akhirat.

Baca Juga : EMPAT KEADAAN ORANG KAFIR DI AKHIRAT

Al-Qur’an walau secara subtansinya lebih utama dari shalawat tetapi ia adalah tempat mendekatkan diri kepada Allah. Dan maqam dekat dengan Allah itu untuk orang yang tidak berani melakukan adab yang tercela. Barang siapa yang berani melakukan perbuatan tercela di dalam maqam ini maka dia berhak mendapat laknat, terjauh dari rahmat, dan murka dari Allah. Karena para hafidz Al-Qur’an adalah Ahli Allah dan mereka akan disiksa lebih berat dari orang lain hanya sebab dosa yang kecil kecuali apabila mereka telah mendapat luapan keutamaan sehingga mereka memiliki penjagaan dari siksaan itu.

Dari sini kita dapat mengambil interpretasi bahwa membaca shalawat ke haribaan Rasulullah kepada orang fasik lebih bermanfaat dari pada membaca Al-Qur’an. Bukan karena shalawat lebih utama dari Al-Qur’an malah tanpa ada keraguan sama sekali bahwa subtansi Al-Qur’an itu lebih utama dan lebih agung. Namun Hal itu disebabkan karena si fasik bukanlah seorang yang ahli membaca Al Qur’an dan dia termasuk salah seorang yang membaca Al-Qur’an tetapi Al-Qur’an malah melaknatnya seperti yang di riwayatkan oleh Anas bin Malik: “Banyak orang yang membaca Al Qur’an tapi Al Qur’an malah melaknatnya.

Sesungguhnya Al-Qur’an adalah salah satu martabah nubuwah dan hal ini menuntut kesucian, kebersihan, memenuhi adab yang diridhai dan berbudi pakerti dengan akhlaq mulia. Oleh sebab itu, orang awam akan tertimpa kerugian apabila diperberat membacanya karena mereka sangatlah jauh memenuhi kriteria itu. Sedang membaca shalawat kepada Rasulullah tidak ada di dalamnya kecuali mengucapkan lafadz shalawat disertai mengagungkan Rasulullah dengan keadaan yang sesuai kepada para pembaca shalawat mulai dari kebersihan pakaian, badan, tempat, pembacaan shalawat dengan menggunakan lafad syar’i dan tanpa lahn karena Allah telah menjamin orang yang membaca shalawat akan Allah bacakan shalawat kepadanya. Dan barang siapa yang membaca shalawat kepada Rasulullah satu kali saja maka dia mendapat pahala besar nan agung seperti yang disebutkan secara rinci oleh hadist-hadist Nabi SAW. (media ummat)

Comments are closed.