Kajian IslamiTauhid

Al-Muqiith (Yang Maha Memberi Makan)

Makanan Halal dan Kecerdasan Akal
Kata al-Muqith terambil dari akar kata al-qut, artinya menggenggam, menjaga dan menguasai sesuatu. Menurut Ibn Faris, al-qut juga berarti santapan karena ia menjaga kekuatan tubuh, menegakkan badan dan memberikan energi padanya. Bisa juga diartikan sebagai rezeki yang mencukup, sebagaimana sebuah hadits: “Wahai Allah jadikanlah rezeki keluarga Muhammad makanan (yang mencukupi)”.

Allah al-Muqith adalah Dzat yang memberikan penjagaan dan makanan kepada para makhluk. Al-Qur’an menyebutkan: “Barangsiapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagiaan (pahala) daripadanya. Dan barangsiapa yang memberikan syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagiaan (dosa) daripadanya. Allah maha memberi (kebutuhan) segala sesuatu.

Imam al-Ghozali mengatakan, al-Muqith adalah Dzat yang menciptakan makanan dan menyalurkannya ke dalam tubuh berupa makanan, ke dalam hati berupa pengetahuan. Nikmat berupa makanan ini disalurkan kepada manusia dan hewan secara bertahap. Namun, ketika dia berkehendak tidak lagi memberi makanan yang dibutuhkan, lalu makhluk itu mati.

Sedangkan Imam Abdurrahman as-Sady menjelaskan bahwa al-Muqith adalah Dzat yang memberikan makanan kepada setiap ciptaan-Nya, dengan kebijakan dan kemulian-Nya.

Baca Juga : WANITA TIDAK BOLEH DIPAKSA

Pesan Sosial  Ekonomi Sifat Al Muqith

  1. Memakan Makanan yang Halal dan Baik

Menurut para ahli, makanan yang halal akan berpengaruh kepada kecerdasan akal. Sebab dengan mengkonsumsinya, akan merangsang pembentukan watak yang baik seperti lemah lembut dalam bersikap dan berperilaku, serta cenderung mengikuti keinginan akal daripada nafsunya. Sebaliknya, jika makanan yang dikonsumsi haram (zat dan perolehannya), akan berdampak pada pembentukan watak atau karakter yang tidak baik seperti pemarah, egois, kasar dan seterusnya

  1. Tidak Berlebihan dan Mensyukuri Makanan yang Ada

Melakukan tindakan ini adalah realisasi dari sikap hemat sekaligus upaya mensyukuri nikmat yang diberikan Allah pada kita meskipun seadanya. Sikap berlebihan selain tercela akan memubazirkan makanan seperti terbuang, tidak termakan dan seterusnya

  1. Memberi Makan Orang Yang Membutuhkan

Allah menganjurkan umat-Nya untuk peduli terhadap sesama dengan memberi makan orang orang yang membutuhkan. Terutama sekali adalah memberi makan orang miskin yang kelaparan.

Sumber Landasan Sikap dan Mental

  • Bersungguh sungguh dalam mencari nafkah yang halal dan baik
  • Mensyukuri setiap makanan yang telah diberikan Allah kepada kita
  • Menjauhi nafkah (makanan) yang subhat apalagi haram
  • Menghindari perilaku mubazir dalam makanan
  • Memberi makan orang yang membutuhkan
Tags
Show More

Related Articles

Close