KisahSirah Sahabat

Airmata Bahagia Kaum Anshar

Orang beriman lebih mementingkan kecintaan Allah dan Rasul-Nya daripada kecintaan harta duniawi. Bagi orang beriman, harta duniawi tidaklah membuatnya silau. Orang yang beriman lebih memilih ridha Allah dan hidup dengan tuntunan Rasulullah SAW. Itulah prinsip hidup yang mesti dipegang setiap orang beriman.

Di saat orang lain berebut harta duniawi, sahabat setia Rasul SAW tidak ikut larut di dalamnya. Kisah berikut ini menggambarkan bagaimana para sahabat memilih hidup bersama Nabi SAW ketimbang harta yang fana. Hal ini terlihat saat pembagian harta rampasan Perang Hunain pada 8 Hijriah.

Kisah ini bermula ketika Nabi SAW dan para sahabat meraih keberhasilan dalam Perang Hunain. Perang ini terjadi akibat perlawanan orang-orang Mekkah dan di luar sekitar Mekkah yang hendak mengganggu stabilitas kaum muslimin pasca pembebasan Mekkah dari adat jahiliyah. Ketika Nabi SAW mulai membersihkan Masjidil Haram dan mulai menata iman warga Mekkah, tiba-tiba terdengar pergerakan orang-orang pembangkang. Mereka ini orang musyrik yang enggan beriman pasca kedatangan Nabi dan rombongan kaum muslimin dari Madinah. Mereka memilih keluar dari Mekkah. Kekuatan mereka bertambah ketika mendapat dukungan dari musyrikin di luar Mekkah yang masih mendendam kepada Nabi SAW.

Pembagian Harta Rampasan
Kaum muslimin sempat kocar-kacir di awal pertempuran Hunain. Namun setelah para sahabat senior yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar melakukan konsolidasi kilat, maka para mujahidin dapat menguasai keadaan dan berbalik unggul. Bahkan pasukan musuh dapat dipukul mundur hingga meninggalkan harta benda yang sangat banyak, di antaranya ratusan unta, kuda, ternak, emas, dan lain-lain.

Kemudian Nabi SAW membagi harta tersebut. Allah memerintahkan agar ada bagian tersendiri bagi Allah dan Rasul. Setelah itu, baru dibagikan kepada seluruh mujahidin yang ikut. Pertama kali yang mendapat jatah adalah para pemimpin kabilah dan pemuka Mekkah. Mereka ini baru masuk Islam sesaat sebelum Perang Hunain, tepatnya saat Fathu Mekkah (Pembebasan Kota Mekkah dari adat jahiliyah). Dengan harta ini Nabi SAW hendak menguatkan keislaman mereka yang masih lemah.

Abu Sufyan bin Harb misalnya. Salah satu tokoh Quraisy itu mendapat 40 uqiyah emas dan 100 ekor unta. Tokoh yang pada masa jahiliyah menjadi pemimpin kaum musyrik saat Perang Badar dan Uhud itu masih meminta jumlah yang sama bagi kedua putranya, Muawiyah dan Yazid. Ada pula yang mendapat 50 ekor unta atau juga 40 ekor dst. Hingga tersira kabar bahwa Nabi SAW sangat pemurah dan tak takut miskin.

Melihat pembagian seperti itu, orang-orang Mekkah yang baru masuk Islam berbondong-bondong menemui Nabi SAW. Mereka meminta jatah yang sama. Ramai-ramai mereka mengerumuni Nabi SAW, sampai akhirnya beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit RA untuk mengumpulkan seluruh harta dan membagikannya kepada kerumunan orang itu.

Kemudian Nabi SAW berdiri di samping unta beliau sambil memegang sebiji gandum. Di hadapan mereka, Nabi SAW berseru, “Wahai manusia, demi Allah, aku tidak lagi menyisakan harta, termasuk sebiji gandum ini kecuali seperlimanya dan seperlimanya itu pun sudah kuserahkan kepada kalian.”

Baca Juga : EMPAT SIFAT BURUK JAHILIYAH

Pulang Bersama Rasulullah

Namun tanpa disangka keputusan Nabi SAW ini menimbulkan keresahan di kalangan sahabat Anshar. Karena tak ada satupun di antara mereka yang mendapat jatah harta rampasan. Padahal merekalah yang paling banyak berperan saat pasukan muslimin kocar-kacir di awal pertempuran Perang Hunain. Mereka menjadi penolong utama Nabi SAW pada kondisi yang membahayakan. Kebijakan Nabi SAW tadi membuat mereka meradang. Ada yang menggerutu, “Demi Allah, Rasulullah telah bertemu kaumnya sendiri.” (maksudnya ketika nabi bertemu kaumnya beliau lebih pilih kasih)

Tak lama kemudian Nabi Muhammad SAW mendengar desas desus yang tak enak didengar di kalangan kaum Anshar bahwa Nabi Muhammad SAW membagi-bagikan harta kepada kaummnya sendiri dan menyerahkan bagian yang amat besar kepada kabilah Quraisy. Sementara orang-orang Anshar tidak mendapatkan apapun.

Kemudian Rasulullah SAW menyuruh kaum anshar untuk berkumpul di suatu lembah. Ada beberapa orang Muhajirin yang ikut datang. Tapi mereka dilarang masuk. Setelah mengucapkan Alhamdulillah dan memuji Allah, Nabi SAW bersabda, ”Wahai orang Anshar, ada kasak-kusuk yang sempat kudengar dan perasaan mengganjal dalam diri kalian terhadap aku? Bukankah dulu aku datang, sementara kalian sesat lalu Allah memberi petunjuk melalui perantaraku? Bukankah dulu kalian adalah kaum yang bercerai-berai kemudian Allah mempersatukan kalian melalui aku. Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya dan menyatukan hati kalian?

Kemudian para kaum anshar menjawab, “Begitulah adanya wahai Rasulullah”. Apakah kalian sudah tidak mempercayaiku lagi?”, tanya Rasulullah. Kaum anshar menjawab, “Tidak wahai nabiku, kami masih setia dan percaya padamu”

Kemudian Nabi berkata, “Kalau kalian mau jujur katakan saja begini: Kau (Nabi Muhammad) diusir oleh kaummu tapi kami yang menerimamu. Kaummu di Makkah mendustakanmu tapi kami (kaum Anshar) membenarkanmu. Engkau dicampakkan oleh kaummu tapi kami menerimamu. Apakah ini yang ingin kalian katakan wahai kaum anshar ? katakana saja kalau kalian mau.”

“Tidak, wahai Rasulallah, segala kemuliaan semoga tetap tercurahkan bagi Allah dan Rasul-Nya ” jawab kaum Anshar

Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan,  “Apakah di dalam hati kalian masih terbersit hasrat keduniaan? Sedangkan harta-harta itu  aku gunakan untuk melunakkan  golongan orang yang baru masuk Islam. Sedangkan keislaman kalian tentu sudah aku percaya”.

“…Wahai orang Anshar, apakah kalian tidak berkenan jika mereka pulang kembali ke negaranya  bersama domba dan unta, sedangkan kalian kembali ke rumah kalian bersama Rasul Allah? Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di genggaman-Nya, seandainya bukan karena hijrah tentu aku termasuk orang Anshar…”

“Jika orang lain berjalan di sebuah celah di gunung, tentu aku memilih celah yang ditempuh orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak mereka dan cucu-cucu mereka.”

Untaian kalimat syahdu yang terucap dari lisan Rasul SAW membuat orang-orang Anshar menangis sesengukan. Pipi dan jenggot mereka basah karena airmata. “Kami ridha terhadap Rasul,” ucap mereka terbata-bata sambil menahan tangis. Mereka merasa cukup Rasulullah SAW tercinta berada di tengah mereka.  Tak ada kebahagiaan selain berkumpul bersama sang kekasih tercinta.  (Media Ummat)

Tags
Show More

Related Articles

Check Also

Close
Close