KisahSirah Sahabat

Abu Thalhah Sang Pemanah Ulung

Orang-orang Musyrik Semakin Melipatkan Tekanan

Dalam setiap peperangan, jumlah orang-orang Musyrik pasti lebih besar sekian lipat. Maka tidak heran jika mereka juga bisa melancarkan serangan yang lebih gencar dan menekan orang-orang Muslim. Pada saat berjalan, Rasulullah SAW terperosok ke dalam lubang yang sengaja dibuat Abu Amir si fasik. Ali segera meraih tangan beliau, lalu Thalhah bin Ubaidillah merangkulnya hingga beliau bisa berdiri lagi.

Nafi’ bin Jubair berkata, “aku mendengar ada seseorang dari Muhajirin berkata, aku ikut dalam perang Uhud. Kulihat bagaimana anak panah melesat dari segala arah, tertuju kepada Rasulullah SAW. Namun semua anak panah itu sama sekali tidak mengenai beliau. Kulihat Abdullah bin Syihab Az-Zuhri berkata saat itu, tunjukkan kepadaku di mana Muhammad. Aku tidak akan selamat jika dia masih selamat. Padahal pada saat itu beliau ada di dekatnya, taka da seorang pun di sisi beliau. Bahkan kemudian dia melewati beliau. Setelah itu Shafwan mengolok-oloknya. Namun dia menjawab, “demi Allah, aku tidak bisa melihatnya. Aku berani sumpah demi Allah, pasti ada yang menghalangi pandangan kami.”

Patriotisme Yang Tak Tertandingi

Orang-orang Muslim bangkit dengan rasa patriotisme dan pengorbanan yang jarang terjadi seperti itu dan bahkan tidak pernah ada tandingannya dalam sejarah. Abu Thalhah menjadikan dirinya sebagai pagar di hadapan Rasulullah SAW. Dia membusungkan dadanya menerima hujaman anak panah yang dilontarkan musuh karena hendak melindungi beliau.

Anas berkata, “pada saat perang uhud, musuh memusatkan serangan terhadap Rasulullah SAW, sementara Abu Thalhah berada di hadapan beliau melindungi diri dengan tamengnya. Dia adalah seorang pemanah ulung yang jarang meleset bidikannya. Saat itu dia sampai mematahkan dua atau tiga busur. Ada satu orang lagi yang bersamanya sambil memegangi kantong anak panah. Dia berkata, sediakan anak panah yang banyak bagi Abu Thalhah! Sementara itu, Nabi Muhammad SAW terus mengawasi dengan seksama, melihat ke arah musuh. Abu Thalhah berkata, demi ayah dan ibuku, engkau tidak perlu mengawasi seperti itu karena takut terkena anak panah mereka. Leherku akan melindungi leher engkau.”

Juga diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Abu Thalhah menggunakan satu tameng bersama Nabi Muhammad SAW. Abu Thalhah adalah seorang pemanah ulung. Jika dia melepaskan anak panah, maka beliau terus mengawasi anak panah itu hingga mengenahi sasarannya.”

Abu Dujanah berdiri di hadapan Rasulullah SAW menjadikan punggungnya sebagai tameng untuk melindungi beliau. Sekalipun beberapa anak panah mengenai punggungnya, dia sama sekali tidak bergeming.

Hathib bin Abu Balta’ah mengejar Utbah bin Abi Waqqash yang telah memecahkan gigi seri beliau yang mulia. Setelah dekat dia menyabetkan pedangnya hingga bisa memenggal kepala Utbah. Kemudian dia mengambil kuda dan pedangnya. Padahal Sa’d bin Abi Waqqash yang berambisi dapat membunuh saudara kandungnya sendiri itu, Utbah bin Abi Waqqash. Tetapi tampaknya dia tidak beruntung, karena yang bisa membunuhnya adalah Hathib.

Baca Juga : AKHIR HAYAT PEMUDA TAAT

Sementara Sahl bin Hanif, salah seorang pemanah ulung, berjanji kepada Rasulullah SAW, siap untuk mati. Maka dia bangkit menerjang barisan orang-orang Musyrik.

Rasulullah SAW juga ikut andil melepaskan anak panah sendiri. Dari Qatadah bin An-Nu’man, bahwa Rasulullah SAW melepaskan anak panah dari busurnya hingga dua ujungnya patah. Lalu Qatadah bin An-Nu’man, mengambil dan menyimpannya. Pada saat itu mata Qatadah juga terkena anak panah hingga ke tulang pipinya. Lalu beliau menyembuhkan hingga kembali seperti semula dan justru lebih baik dari matanya yang sebelah.

Abdurrahman bin Auf bertempur dengan hebat hingga gigi serinya pecah dan mendapat dua puluh luka atau lebih di sekujur tubuhnya. Sebagian ada yang mengenai kakinya hingga jalannya pincang.

Malik bin Sinan, ayah Abu Sa’id Al-Khudri menghisap darah yang mengucur dari gigi seri Rasulullah SAW hingga bersih. Beliau kemudian bersabda, “muntahkanlah!”.

Namun Malik menjawab, “demi Allah, sekali-kali aku tidak akan memuntahkannya.” Kemudian dia bangkit bertempur. Lalu beliau bersabda, “barang siapa ingin melihat salah seorang penghuni surga, maka hendaklah dia melihat orang ini.” Dia terus bertempur hingga terbunuh sebagai syahid.

Sekalipun wanita, Ummu Umarah juga ikut andil dalam pertempuran. Dia menghadang Ibnu Qami’ah di tengah kerumunan manusia, lalu memukulnya tepat mengenahi bahunya dan menimbulkan luka menganga yang lebar. Dia menyusulinya dengan beberapa sabetan pedang lagi. Namun karena Ibnu Qami’ah mengenakan baju besi, akhirnya dia bisa menyelamatkan diri. Ummu Umarah terus bertempur hingga mendapat dua belas luka.

Mush’ab bin Umair bertempur dengan gencar, melindungi Nabi Muhammad SAW dari serbuan Ibnu Qami’ah dan rekan-rekannya. Sementara bendera perang ada di tangan kanannya. Mereka dapat menyabetkan pedang ke tangan kanannya hingga putus. Lalu dia membawa bendera itu di tangan kirinya. Dia terus bertahan menghadapi serangan orang-orang kafir hingga mereka dapat menyabet tangan kirinya hingga putus. Lalu bendera itu ditelungkupkan di dada dan lehernya hingga ia terbunuh. Yang membunuhnya adalah Ibnu Qami’ah. Karena dia mengira Mush’ab adalah Rasulullah SAW, maka dia langsung berbalik arah ke orang-orang Musyrik setelah dapat membunuhnya, lalu berteriak, Muhammad telah terbunuh.

Tersiarnya Kabar kematian Rasulullah dan Pengaruhnya Terhadap Peperangan

Tak seberapa lama setelah ada teriakan ini, maka seketika tersiarlah kabar kematian Rasulullah SAW di kalangan orang-orang Muslim dan Musyrik. Ini merupakan faktor yang amat halus, namun mampu meluruhkan semangat para sahabat yang sedang bertempur di sana dan posisinya jauh dari tempat beliau. Mental mereka langsung anjlok hingga barisan mereka menjadi guncang dan resah. Hanya saja teriakan itu justru menurunkan bobot serangan orang-orang Musyrik, karena dengan begitu mereka mengira telah bisa mewujudkan tujuan yang paling pokok. Kebanyakan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, membayangkan sekian banyak orang-orang muslim yang telah menjadi korban.

Tags
Show More

Related Articles

Check Also

Close
Close